Categories
Uncategorized

Contoh Cerpen tentang kesakitan

Contoh Cerpen tentang kesakitan

 My Hurts
Genggaman
tangan itu seperti tak bisa lepas dari sepasang kekasih. Mereka
menggambarkan percintaan yang abadi bagai Romeo dan Juliet.
   
Setiap pasangan pasti menginginkan yang terbaik untuk kehidupan mereka.
Seperti aku mencintai kekasihku, dan kekasihku mencintaiku. Walaupun aku
tidak selalu ada di sampingnya, namun dia akan selalu berada di dalam
hatiku. Semoga kisah kami tidak secepat itu berakhir.
***
    Aku kembali ke Indonesia. Setelah cukup lama berlibur di Amerika, aku merasa merindukan negeri ini.
    Aku mengambil ponselku di dalam tas, kucari menu untuk menulis pesan.
“Aku sudah di Indonesia. Tolong jemput aku di Bandara. Aku tunggu…”.
 Aku mengirimnya untuk Vino, dia teman priaku. Kutunggu beberapa detik dia sudah membalasnya.
“Ok. Aku segera ke Bandara dan mendapat pelukan dari kekasihku. Kamu harus melakukannya jika aku sampai”.
“Pasti. Aku rindu padamu. Semoga aku melihatmu membawa sesuatu untukku”.
“Sesuatu seperti apa? Kau ingin aku membelikanmu bunga?”
“Aku tidak suka bunga. Carikan aku yang lain”.
“Baju? Cokelat? Atau mobil?”
“Kamu semakin gila! Aku tahu kamu tidak bisa membelikanku mobil. Memangnya uangmu segudang?”
    “Ck… Pacarku ini… Ohh! Aaaaa!!!!” Bruak!! Duarr!

Satu menit, satu jam, aku belum juga mendapat balasan dari Vino. Dia bahkan belum menemuiku di bandara.
    Aku kembali menulis pesan teks untuknya.
“Vino… Sedikit lebih cepat, aku sudah lama menunggumu”.
    Beberapa menit, aku memeriksa ponselku, namun dia tetap tidak membalas. Aku pun menelponnya.
Nomor yang anda tuju… sedang tidak aktif…
   
“Arghh! Kenapa ponselnya tidak aktif?! Di mana dia sekarang?!” Aku
terus melirik sekitar bandara. Tidak ada tanda-tanda Vino akan datang.
Aku berusaha sabar menunggunya, namun sudah 4 jam aku menunggu dia tetap
tidak tampak.
    “Hh…”. Aku menghela nafas berat. Kembali
kuperiksa ponselku, berharap nama Vino muncul kali ini. Tapi ternyata
masih sama. Dia belum juga membalas pesanku dan menelponku. Aku semakin
gelisah memikirkan hal buruk sedang terjadi padanya.
Dan kali ini
aku benar-benar ingin meninggalkan bandara dan segera sampai di rumah.
Tapi Vino tidak juga datang menjemputku. Aku berfikir sejenak. Akhirnya
aku memutuskan untuk mencari taksi karena hari sudah semakin gelap. Aku
tidak ingin menunggu lebih lama lagi di sini. Setelah mengecek kembali
di sekelilingku, aku pun melangkah pergi dan mencari taksi di sekitar
bandara.   
Sekitar 20 menit aku sampai di rumahku. Kedaannya
masih tetap seperti dulu, penuh dengan tanaman hijau. Namun aku tidak
merasa senang berada di rumah. Aku selalu memikirkan Vino, tentang di
mana dia sekarang, apa yang terjadi dengannya saat ini. Aku benar-benar
gelisah dan takut mengingatnya, perasaanku tidak sedang baik.
   
“Vitha… Kamu sudah pulang… Ya Allah, ibu kangen sekali denganmu…”.
Ibuku memelukku dengan erat, aku sedikit merasakan kenyamanan di
pelukannya.
“Ibu… Aku lelah, aku ingin tidur…”. Ibu melepas pelukannya. Aku bergegas memasuki kamarku.
“Uhh…”.
Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Di sampingku sebuah
lukisan yang kubeli dari Amerika untuk Vino, aku belum sempat
memberikannya. Kupikir dia akan menjemputku di bandara, dan saat itulah
kuberikan lukisan ini. Tapi ternyata dia tidak menjemputku. Aku sangat
kecewa, aku juga marah dengan Vino, tapi rasa khawatirku lebih besar
dari pada itu. Di mana dia sekarang? Kenapa sama sekali aku tidak bisa
menghubunginya? Atau mungkin, dia sedang ada urusan mendadak, sehingga
aku tidak begitu penting untuknya sekarang? Kuharap itu terjadi, semoga
dia baik-baik saja dan tidak bersama wanita lain.
    Besok pagi aku akan ke rumahnya, aku ingin memberikan lukisan ini.
***
Terdengar
jelas suara ayam berkokok, pertanda hari sudah pagi. Aku bangun dan
bergegas untuk mandi. Ibu sudah menyiapkan sarapan untuk kami berdua.
Berdua saja, karena ayah sedang bertugas di luar kota. Aku hanya makan
sedikit, setelah itu aku berpamitan pada ibu dan menuju rumah Vino.
Tidak lupa aku membawa lukisan sepasang kekasih untuk kuberikan padanya.
   
Aku menaiki taksi. Sekitar 10 menit aku sampai di rumah Vino. Tercium
aroma wangi-wangian bunga melati, di sekitarnya terlihat bunga melati
bertaburan dengan keadaan layu. Aku bingung saat melihat rumah Vino,
seperti baru saja dilaksanakan peringatan untuk orang meninggal. Aku
semakin bingung ketika ibu Vino menghampiriku dengan keadaan tersendu.
   
“Vitha… Hiks hiks hiks… Kamu harus sabar, kamu tidak boleh bersedih
setelah kehilangan Vino… Hiks hiks… maafkan ibu, ibu menyesal tidak bisa
menjaga Vino dengan baik… Sekarang dia sudah pergi meninggalkan kita
semua… hiks hiks hiks…”. Ibu Vino memelukku. Aku berkaca-kaca, aku tidak
bisa melakukan apa-apa. Lukisan yang tadinya akan kuberikan pada Vino
telah terkulai di tanah. Kali ini air mataku berjatuhan semakin kencang.
Dadaku terasa sakit seperti ditusuk ratusan jarum tajam. Aku tidak
percaya Vino meninggalkanku secepat ini, semuanya masih seperti dalam
mimpi.
    Aku melepas pelukan ibu Vino dan bergegas meninggalkannya.
    “Vitha!!!”
Aku
berlari secepat mungkin. Tidak peduli di mana aku sekarang, namun
kakiku akan selalu berlari. Aku menangis di sepanjang perjalanan. Semua
orang mungkin melihatku saat ini, tapi aku juga tidak peduli. Keadaan
seperti ini membuatku ingin pergi dari semua orang yang kucintai.
“Vitha!!!”
    “Sudah, bu”. Rafa mencoba memberi ibunya ketenangan.
    “Rafa… Ibu sangat menyesal… Seharusnya Vitha tidak menerima semua ini…”.
   
“Ibu masuklah ke dalam. Aku akan membawanya kembali, semua akan
baik-baik saja”. Ibu menatap anak tunggalnya itu, lalu meninggalkannya
ke dalam.
    Rafa menghela nafas. Lalu dia mengambil lukisan
sepasang kekasih yang tergeletak di tanah. Lukisan itu segera diletakkan
di bagasi mobilnya, kemudian ia mulai mengemudi.
***
Air
mataku masih menetes deras. Aku terus berjalan dan memandang setiap
tempat yang kulewati. Selalu ada kenangan ketika aku dan Vino
bersama-sama, bergandengan tangan, berpelukan erat, aku ingin semuanya
kembali terjadi. Namun, aku mungkin hanya bisa memutarnya di memori
otakku, setelah dia pergi meninggalkan semuanya dengan rasa sakit.
   
“Vitha!!!” Kuhentikan langkahan kakiku sejenak. Aku menoleh pada
seseorang yang mendekat. Wajahnya sangat kukenali, dia Kak Rafa.
   
“Vitha, kau harus pulang. Kau tidak boleh pergi meninggalkan ibumu
terlalu lama”. Kak Rafa memegang tanganku dan sedikit menggeretku pergi.
Namun aku berusaha menahannya dengan kuat.
    “Lepaskan! Aku
tidak akan pulang! Kak Rafa jangan pernah menyuruhku melakukan itu”.
Tanganku pun terlepas, dan aku melangkah pergi. Tapi lagi-lagi Kak Rafa
memegang tanganku dengan sedikit erat.
    “Ayo pulang bersamaku!!”
   
“Lepaskan! Tolong lepaskan! Kumohon… Kak Rafa harus mengerti…”. Aku
kembali menangis. Kak Rafa berhenti menggeretku dan dia menatapku.
    “Kumohon jangan begini…”.
   
“Tak seharusnya kau seperti ini. Menangis dan kabur hanya akan
membuatmu lebih buruk. Kau harus pulang, ingatlah masih ada ibumu di
sana yang selalu menunggumu”.
    “Aku hanya ingin Vino… Hiks hiks hiks…”. Rafa merasa iba. Dia pun menepuk pundakku.
   
“Maafkan aku sudah membentakmu. Tapi aku hanya ingin kau pulang.
Semuanya tidak pantas disesali, kau masih punya banyak mimpi”.
    “Aku selalu memimpikan kami menikah, aku ingin itu benar-benar nyata…”.
   
“Ini sudah takdir untuk Vino. Dia harus menjemput ajalnya sebelum
menikahimu. Kau tak boleh memintanya untuk kembali, karena dia tidak
mungkin kembali dan menikah denganmu”.
    “Hiks hiks hiks…”.
    “Hh… Baiklah… Sekarang kita pulang. Aku akan mengantarmu ke rumah, kau harus menemui ibumu”. Aku berfikir sejenak.
    Akhirnya aku memutuskan untuk pulang bersama Kak Rafa. Dia mengantarku ke rumah.
“Terima kasih sudah mengantar pulang”.
    Kak Rafa mengangguk. Dia lalu berpamitan pulang dan meninggalkanku di teras rumah.
Rafa terus menatap lukisan sepasang kekasih yang dia letakkan di kamarnya. Dia memikirkan sesuatu tentang Vitha dan Vino.
   
“Lukisan ini tampak menarik bagi sepasang kekasih. Mereka selalu
bersama-sama ketika menghadapi semua masalah. Itu yang juga mereka
lakukan selama ini. Vino selalu menjadi yang terbaik di mata Vitha,
begitu juga sebaliknya”.
    Tililit! Tililit! Rafa mengambil
ponselnya yang berdering. Muncul nama seorang wanita, dia bernama Nirma,
Nirma adalah kekasih Rafa sejak 2 tahun ini.
    “Kenapa?” Rafa memulai pembicaraannya dengan Nirma.
   
“Raf… maaf… Aku tidak bisa menemuimu lagi karena harus pindah. Orang
tuaku memaksaku tinggal di Belanda selamanya. Tolong kamu mengerti,
maafkan aku sekali lagi”.
    “Apa? Ke Belanda? Memangnya kau tidak bisa meyakinkan orang tuamu jika pacarmu di sini?”
    “Sebenarnya mereka tidak pernah menyetujui hubungan kita. Aku sudah dijodohkan dengan pria Belanda… “.
    “Kau, kau gila?! Kenapa kau tidak mengatakan ini padaku?! Seharusnya aku sudah tahu sebelum kita berpacaran!!”
    “Karena aku mencintaimu… Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu sebelum aku pergi jauh…”.
    “Jadi maksudmu kau mencampakkanku?! Seperti ini caramu membuatku terluka?! Apa kau tidak paham arti cinta yang sebenarnya?!”
   
“Aku tidak pernah mencoba untuk melakukan ini… Tapi aku tidak bisa
menentang orang tuaku… jadi… jadi kita… sebaiknya semuanya berakhir
sampai di sini… Aku ingin kita putus”.
    Parr! Rafa membanting ponselnya dengan keras.
   
“Argh!!!” Dia menendang semua barang yang ada didekatnya. Meja, almari,
gitar, kaca, semuanya ia hancurkan. Ia terlanjur mencintai Nirma, tapi
setelah ia sadar, Nirma hanyalah mempermainkan perasaan cintanya. Seakan
perasaannya hanya sebuah lelucon yang sama sekali tak berarti. Dan kini
hubungan mereka berakhir dengan teka-teki. Nirma telah dijodohkan
dengan seorang pria Belanda dan tinggal di sana selamanya.
***
Pagi
yang cerah. Aku berusaha melupakan semua masalah ini. Kak Rafa benar,
menangis hanya akan membuatku lebih buruk dan dia tidak mungkin kembali.

Aku akan ke sekolah bertemu teman-teman lamaku setelah liburan cukup lama. Kuharap aku lebih tenang ketika bersama mereka.
“Bu,
aku berangkat”. Aku mengecup tangan ibu sebelum melaju ke sekolah. Tapi
mulai hari ini aku akan menggunakan mobil pribadi. Ibu baru saja
membelikannya agar aku sedikit terhibur.
Tidak terasa, pelajaran
terakhir telah kulalui. Aku pun mengambil tasku dan bersiap untuk
pulang. Tapi aku menghentikan langkahku saat melihat Kak Rafa termenung
di halaman depan, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Aku lalu
menghampirinya.
    “Hei. Apa yang kakak lakukan di sini?” Aku duduk di samping Kak Rafa, dia pun menoleh menatapku.
    “Oh, aku tidak melakukan apa-apa, hanya sedikit lelah”.
    “Apa yang kakak fikirkan?”
   
“Tidak, tidak ada yang kupikirkan. Oh, kau sendiri, sepertinya hari ini
terlihat segar, kau seperti sedang tidak ada masalah”.
    “Aku
mendengarkan ucapan Kak Rafa. Menangis dan kabur akan membuat semuanya
memburuk, tidak ada yang kita dapatkan. Hh… Vino mungkin sudah dengan
bidadarinya yang lebih baik, dia tak akan mengingatku lagi”.
    “Dia juga sudah dengan pangerannya di negri orang”.
   
“Pangeran? Kenapa kakak mengatakan pangeran saat aku sedang
membicarakan Vino? Apa, kalian putus? Dan, mungkinkah dia meninggalkan
kakak ke luar negri?”
    “Ah, itu… kita, kita… Kita hanya
sedang bertengkar, dan kami tidak akan bertemu lagi. Ya, kau benar, kami
baru saja putus”. Mulutku menganga lebar, aku pun menutupnya dengan
tanganku.
    “Ah? Kenapa harus berakhir seperti ini? Kalian pasangan yang serasi”.
   
“Dia bukan jodohku. Aku sudah melepasnya dengan pria lain, bisa
dibilang aku dicampakkan. Ah… sudahlah, itu tidak penting. Aku harus
segera pulang, dan kau juga harus pulang. Ayo kuantar”.
    “Tidak usah. Aku naik mobil, Kak Rafa pergi saja”.
   
“Oh, begitu… Ya sudah…”. Kak Rafa menaiki mobilnya dan melaju pergi.
Aku juga segera mengambil mobilku di tempat parkir, setelah itu aku
pulang.
Bruk. Kuletakkan tasku di atas meja, lalu aku masuk ke
dalam kamar. Aku mulai memikirkan Kak Rafa. Kupikir sekarang dia sedang
hancur, kekasihnya memilih untuk pergi dan memutuskannya. Itu membuatku
teringat dengan Vino. Tapi dia meninggalkanku karena kematian, sedangkan
Kak Nirma meninggalkan Kak Rafa karena pria lain. Dan karena semua ini,
aku pun mulai paham arti cinta untuk kehidupan. Vino bukanlah jodohku,
sudah jelas. Kak Nirma juga tak tercipta untuk Kak Rafa. Tapi antara Kak
Rafa dan Kak Nirma semuanya bisa diperbaiki. Mereka bisa saja berjodoh
walau di usia mereka yang renta.
    Dan cinta selalu membuat
hati terluka, tidak ada yang selalu bahagia dengan pasangannya, masalah
akan datang kapanpun untuk merusak rasa cinta.
***
Hari demi
hari kulalui dengan suka duka. Dan aku telah melupakan Vino, aku
mencoba untuk mencintai pria lain. Dia selalu di sampingku saat aku
butuh, dia juga akan memberi perhatiannya ketika aku terluka.
Dan
hari ini… Ini sudah 100 hari kepergian Vino. Aku membawakan bunga untuk
kuberikan di atas makamnya. Tapi aku tidak akan pergi sendirian, ada
Kak Rafa yang menemaniku.
    Setelah kami berdoa, kami pun
menaburkan bunga-bunga di atas makam Vino. Perlahan air mataku menetes,
semakin deras dan aku sulit menahannya di depan Kak Rafa.
   
“Kamu masih menyayangi adikku?” Kak Rafa tiba-tiba melontarkan sebuah
pertanyaan padaku. Pertanyaan itu membuatku kaget dan berhenti menatap
makam Vino.
    “Kenapa, Kak Rafa bertanya seperti itu?”
    “Kamu tidak berniat untuk melupakannya. Aku bisa melihat di matamu”. Aku tersenyum dan mengusap air mataku.
    “Kenapa tersenyum?”
   
“Karena kakak. Kakak salah mengartikan mataku. Aku mungkin memang
terlihat sedih saat mengingat Vino, tapi bukan berarti aku masih
mengharapkan dia”.
    “Jadi, kamu sudah punya kekasih lagi?” Aku menggeleng.
    “Tapi aku sudah punya orang spesial di sini”. Aku menepuk dadaku berkali-kali.
    “Dia selalu ada di dekatku”. Kak Rafa terlihat mulai berfikir. Aku tersenyum melihat tingkahnya. Padahal pria itu adalah…
    “Harry? Apa orang itu Harry?”
    “Dia teman baikku, tapi aku tidak pernah menyukainya”. Aku pun berdiri dan mulai melangkah pergi.
 Tapi Kak Rafa tiba-tiba mendekat dan memelukku dari belakang.
    “Oh! K-Kak Rafa, apa yang kakak lakukan?”
   
“Aku selalu ingin melakukan ini padamu. Maaf, tapi aku mencintaimu…”.
Mulutku menganga lebar, hatiku serasa berdegup kencang saat di pelukan
Kak Rafa. Aku tidak menyangka dia juga mencintaiku. Semuanya masih tidak
bisa kubayangkan.
    “Sebenarnya, pria itu… Itu Kak Rafa…”. Aku
merasakan Kak Rafa sedang menertawaiku. Aku pun melepas pelukannya dan
memanyunkan bibirku.
    “Apa yang lucu?”
    “Aku sudah tahu itu aku. Karena aku yang selalu ada di dekatmu, iya kan?” Aku tersenyum dan mengangguk pelan.
   
“Jadi, kamu juga mencintaiku?” Aku kembali mengangguk. Kak Rafa lalu
memegang kedua pundakku, tatapannya membuat dadaku berdegup lebih
kencang.
    “Tidak keberatan jika kita meresmikannya di depan
makam Vino?” Aku memikirkan kata-kata Kak Rafa sejenak. Terlihat
keseriusan di matanya, aku pun mulai berbicara.
    “Aku sudah
benar-benar melupakannya. Dan, aku mencintai pria lain, dia de depanku”.
Aku pun tersenyum manis pada Kak Rafa. Dia membalas senyumanku.
   
“Jadi, semua orang di dalam tanah ini menjadi saksi jadian kita,
terutama adikku, Vino”. Aku mengangguk. Kak Rafa langsung memelukku
erat. Dia membisikkan sesuatu di telingaku.
    “Aku mencintaimu”.
    “Aku juga mencintaimu”.
Dan kami saling mencintai untuk selamanya. Kami berjanji…
           

Contoh cerpen tentang bunga kaktus

My Dearest Cactus
Aku
merapikan bunga-bunga yang ada di dekat jendela. Selain itu, aku juga
merapikan pot-pot berisi tanaman hias yang cantik dan menyemprotnya
dengan air. Setelah rapi, aku segera mengeluarkan kaktus  dari
keranjang. Kaktus ini sangat indah. Aku menanamnya di pot kecil dari
gerabah. Karena aku merawatnya dengan sepenuh hati, maka aku mematok
harga cukup mahal untuk tanaman ini. Padahal, kaktus ini biasa-biasa
saja. Dan sebenarnya, aku tidak serius menjual kaktus ini. Hanya iseng.
   
Ting tong… Aku menoleh ke arah pintu sambil memegang kaktusku. Ada
seorang perempuan yang berdiri di balik pintu. Aku segera
menghampirinya.
    “Silakan…” ucapku sambil membuka pintu. Perempuan itu masuk ke dalam toko dengan langkah yang anggun.
    “Kira-kira, mana bunga yang paling romantic?” tanyanya sambil melihat-lihat rangkaian bunga yang kubuat.
   
“Mungkin mawar merah muda. Bunga itu sangat cantik sekali,” jawabku
sambil tersenyum. Perempuan itu balas tersenyum kepadaku.
   
“Kalau begitu, aku pesan yang ini,” tunjuknya, “tolong antarkan ke
alamat ini, dan buatkan kartu ucapan atas nama Rena, untuk Raka.”
Perempuan itu menyerahkan kertas kecil berisi alamat rumah. Aku pun
menerimanya.
    “Baik kalau begitu. Saya akan kirim bunga ini secepatnya,” ujarku.
    “Terima kasih,” sahut perempuan itu sambil melangkah keluar toko.
   
Aku kembali mengamati alamat rumah yang diberikan perempuan cantik itu.
Tanpa berpikir lama, aku segera mengambil kartu ucapan berwarna merah
dan menulis sebuah kalimat.
    From my deepest heart…
    From Rena…
    Aku tersenyum melihat hasil tulisanku. Aku pun segera mengantarnya ke alamat rumah yang diberikan dengan sepeda butuku.
   
20 menit kemudian… “Akhirnya sampai juga…” Aku memarkirkan sepeda di
depan rumah minimalis yang cukup mewah. Di halaman rumah itu terdapat
berbagai macam tanaman hias yang sangat indah. Ada mawar, melati,
anggrek, bahkan sampai kaktus. Eits… Ternyata, ada kaktus yang hampir
sama dengan kaktusku. Potnya pun sama.
    Tiba-tiba, aku teringat
bahwa aku harus segera memberikan bunga ini kepada si pemilik rumah.
Aku pun segera memencet bel dan tak lama kemudian muncullah sesosok
lelaki dengan rambut berantakan.
    “Permisi, apa benar ini Raka?” tanyaku.
    “Iya, ada apa?” jawab lelaki itu dengan angkuhnya.
   
Ekspresiku yang awalnya ceria saat melayani kiriman tiba-tiba langsung
berubah jadi muram. “Ini ada kiriman bunga untuk Anda.”
    Raka menerima bunga itu. “Dari siapa?”
    “Anda bisa membaca sendiri.”
    “Heh! Ini toko bunga mana, sih? Kenapa pelayanannya seperti ini?”
    Aku tersentak. Kenapa tiba-tiba dia marah? Padahal aku hanya menyuruhnya untuk membaca sendiri. Tidak ada salahnya, kan?
   
“Maaf, lagipula, saya hanya mengantarkan kiriman. Bunga itu bisa saja
surprise dari seseorang untuk Anda. Lebih baik Anda membaca sendiri.
Permisi…” Aku segera meninggalkan lelaki jutek itu. Samar-samar, aku
mendengar suara pintu ditutup dengan keras. Dengan iseng, aku menoleh ke
rumah itu. Dari jendela rumah, aku melihat Raka mengacak-acak rambutnya
dan… Astaga, bunga itu dilempar ke lantai! Ah, itu bukan urusanku. Aku
hanya mengantar bunga di sini. Aku pun segera menaiki sepedaku dan
meluncur ke toko.
♥♥♥
    “Apa?” aku menjatuhkan ponselku ke
lantai. Bagaimana tidak, aku baru saja ditelpon tetangga bahwa semua
tanaman hiasku rusak karena ada proyek perbaikan jalan di dekat rumahku.
Bagaimana ini? Berarti, aku hanya bisa menjual sisa-sisa bunga hari
ini. Apa mungkin uang itu cukup untuk kebutuhanku? Untuk makanku,
membayar kuliah, dan lain-lain. Aku pun kini hanya bisa terduduk lemas
di lantai sambil meratapi bunga-bunga yang terjajar indah di toko. Hanya
itu satu-satunya hiburanku.
    Setelah seharian bekerja, aku
segera kembali ke rumah malam ini. Aku melemparkan tubuhku ke kasur. Tak
terasa, air mataku menetes. Tidak, aku harus kuat. Jangan sampai aku
kalah dengan masalah. Bisa saja ada masalah besar lain yang siap
menunggu.
    Aku bergegas mengambil tisu di meja belajarku. Dan
aku melihat sesuatu yang sempat luput dari mataku. Itu adalah kaktus
kecilku. Aku segera meraihnya. Entah mengapa aku menjadi tenang setelah
melihat kaktus ini.
♥♥♥
    Aku membuka jendela pagi ini.
Aku membayangkan disambut oleh bunga-bunga yang indah di depan jendela.
Namun, harapan itu sirna setelah aku hanya melihat bunga-bunga yang
rusak dan bahkan sampai mengering. Pemandangan yang rutin kujumpai
setiap hari kini tinggal kenangan.
    Aku mengambil kuliah pagi.
Jadi, aku membuka toko di siang hari. Bunga-bunga yang kemarin terjual
tidak terlalu banyak. Namun, aku sudah cukup bersyukur. Tak lupa,
kuletakkan kaktus kesayanganku di jendela besar sehingga orang yang
berlalu lalang bisa melihatnya dengan jelas.
    Alhamdulillah,
10, 15 menit kemudian, para pembeli mulai berdatangan. Saat tengah
asyik-asyiknya melayani pembeli, tiba-tiba saja ada yang mendobrak pintu
tokoku. Aku pun segera menuju pintu toko dan…
    “Raka?” aku bingung. Kenapa dia ada di sini dan mendobrak pintu tokoku?
    Raka tidak menjawab. Dia malah berjalan menuju jendela besar dan mengambil kaktusku.
    “Kamu mencuri kaktusku, kan?” tanyanya dengan marah.
    “Mencuri kaktus? Aku sama sekali tidak mencurinya…”
    “Ini buktinya!”
   
Aku menelan ludah. Aku sama sekali tidak mencuri kaktusnya. Dan itu
adalah kaktus yang selama ini kurawat dengan sepenuh hati.
    “Aku sama sekali tidak mencuri kaktusmu. Kamu jangan memfitnah seperti itu…”
    “Sudah, jangan mengelak! Kaktus ini berharga banget. Aku tidak mau kehilangan kaktusku.”
    “Itu kaktusku…”
    “Alah! Saat mengantar bunga, pasti kamu mengambil kaktusku, kan?”
   
Aku menangis. Kaktus itu sangat berharga bagiku. Dan mengapa Raka
berani menuduhku seperti itu. Oke, kaktus kami memang mirip. Tapi, itu
benar-benar kaktusku. Aku tidak tahu bila aku kehilangan kaktus itu
dengan percuma.
    “Aku bawa pulang kaktus ini,” ujar Raka sambil melangkah pergi.
   
“Raka!” aku berteriak. Namun, itu semua percuma jika yang dihadapi
adalah seorang Raka. Dia tetap membawa kaktusku dan meluncur dengan
sepedanya.
    “Mbak, bunga ini harganya berapa, ya?”
    “Eh… Maaf…”
    Aku pun segera melayani pembeli. My dearest cactus, I lose you… I’ll miss you…
♥♥♥
   
Pagi ini, ada bapak-bapak yang mampir ke tokoku. Dia ingin membeli
kaktusku. Bahkan bapak itu mau membeli berapapun harganya. Sayangnya,
kaktusku tidak ada karena diambil Raka. Akhirnya, bapak itu pergi dengan
wajah kecewa.
    Aku menghela napas. Sayang sekali. Seandainya
kaktusku ada, pasti aku sudah mendapatkan uang banyak. Dan uang itu bisa
kugunakan untuk membeli bibit bunga juga memenuhi kebutuhanku.
   
Ah, sudahlah… Ini semua memang sudah takdir. Dan sekarang, aku harus
segera mengantar bunga. Aku pun mengayuh sepedaku. Dan akhirnya, aku
sampai di depan sebuah rumah. Sepertinya aku mengenal lingkungan di
sini, ya, ini adalah sebuah kompleks dimana aku pernah mengantarkan
bunga ke rumah… Ah, aku tidak mau mengingatnya lagi!
    Aku pun
segera memencet bel dan memberikan bunga kepada si pemilik rumah. Entah
mengapa, aku ingin sekali mengambil rute melewati rumah Raka. Bukan
apa-apa, aku ingin melihat kaktusku. Aku sudah kangen sekali.
   
Aku melihatnya di sana! Di meja dekat pohon mangga, kaktusku terlihat
begitu menawan. Rasanya, aku ingin mengambilnya. Namun, aku tidak mau
berurusan lagi dengan Raka. Setelah puas melihat kaktus kesayanganku,
aku segera kembali ke toko.
♥♥♥
    2 hari kemudian… Di toko yang sama…
   
“Hah?” Mataku terbelalak. Aku berdiri mematung di depan toko dengan
kaget. Yap! Aku melihat kaktusku tergeletak di meja dekat pintu. Aku pun
segera menuju meja tersebut sambil menutup mulut karena kaget.
   
“Kaktusku…” Aku meraihnya. Sambil tertawa sendiri, aku segera membuka
pintu toko dan masuk ke dalam. Namun, pertanyaannya, siapa yang menaruh
kaktusku di sini? Aku tidak percaya jika Raka mau mengembalikan
kaktusku. Namun, sudahlah. Yang penting, kaktusku sudah kembali.
    “Hah?” Aku melihat sebuah kertas kecil terselip di pot kaktusku. Aku pun segera membacanya.
    Kaktus ini kukembalikan. Ternyata, kaktusku ada di tempat lain.
   
Aku tertawa sendiri. Dalam keadaan seperti ini dia masih angkuh? Sudah
bersalah, dia enggan meminta maaf lagi. Dan kenapa dia tidak memberikan
langsung kepadaku? Kenapa harus seperti ini?
    Tiba-tiba, aku mendengar pintu terbuka. Aku pun segera menoleh. Tak kusangka Raka datang ke sini.
    “Heh, kamu kenapa ke sini?” tanyaku.
    “Minta maaf,” jawabnya pendek.
    “Sangat kebetulan. Berarti sekarang waktu yang tepat untuk memberi hukuman.”
    “Hukuman apa?”
   
Aku tersenyum. “Waktu kaktusku kamu ambil, ada orang yang mau membeli
kaktusku berapapun harganya. Dan karena aku tidak jadi mendapatkan uang 5
juta, maka kamu harus menebusnya.”
    Raka pun berkacak pinggang sambil berkata: “Silakan!”
    “Kamu harus bekerja di tokoku selama 2 minggu tanpa kubayar.”
    “Apa? Aku tidak mau! Enak saja!”
    “Jadi kamu tidak mau? Apa mau dilaporkan ke polisi?”
    “Eh, jangan, jangan…”
    “Ya sudah, turuti saja! Mulai sekarang…” Aku melemparkan bunga ke tubuh Raka yang langsung disambut bibir manyunnya.
   
Sambil merapikan bunga, aku menoleh ke belakang ke arah Raka.
Sepertinya dia sedang mengamati bunga-bungaku. Tak lama kemudian, ada
seorang gadis memakai seragam sekolah yang melihat bunga-bungaku. Dia
pun segera masuk ke dalam dan membeli bunga. Karena aku sedang sibuk,
maka Raka yang melayaninya.
    Namun, ada hal yang sangat
mencengangkan terjadi. Tiba-tiba saja, gadis itu berteriak: “Ayo ke
sini! Penjualnya ganteng banget, lho! Ayo beli bunga ke sini!”
   
Satu menit kemudian, teman-temannya langsung datang dan melihat-lihat
bungaku. Aku geli sendiri melihatnya. Namun, situasi ini cukup membuatku
senang.
    Lima belas menit kemudian, gerombolan itu tidak ada
lagi. Namun, beberapa perempuan datang ke tokoku dan membeli bunga.
Situasi seperti itu berlanjut sampai malam. Alhasil, tokoku untung
banyak.
    “Kamu tidak berterima kasih? Gara-gara aku, banyak cewek yang datang membeli bunga ke sini.”
    “Heh, ini semua kan karena kamu dihukum. Jadi, buat apa berterima kasih?”
    “Tapi, kalau nggak ada aku, kamu nggak akan bisa makan selama sebulan.”
    “Terserah kamu, deh. Ya sudah, sekarang kamu boleh pulang.”
    “Pulang? Dari tadi aku belum makan, kalau aku mati kelaparan bagaimana?”
    “Ya sudah, kita makan dulu di luar.”
    “Nah, gitu dong…”
   
Aku pun segera merapikan semua bunga dan tanaman yang ada di sini. Tak
lupa, aku mengambil kaktusku dan memasukkannya ke dalam tas.
    “Kenapa kaktus itu kamu bawa?” tanya Raka.
    “Karena kaktus ini sangat berharga. Kalau aku sedih, dan aku melihat kaktus ini, maka perasaan sedih itu hilang,” jawabku.
   
Raka mengernyitkan dahi. Mungkin saja aku ini sinting baginya. Dan
kamipun segera berjalan menuju angkringan untuk memesan soto mie.
   
“Pak, soto mie dan teh hangat 2!” teriakku pada si penjual. Si pemilik
angkringan pun mengangguk. Sambil menunggu pesanan datang, aku iseng
bertanya pada Raka:”
    “Sekarang, kaktusmu ada di mana?”
    Raka terlihat kaget dengan pertanyaanku. Dan bukannya menjawab, dia malah balas memberiku pertanyaan.
    “Kamu sayang dengan kaktus itu, kan?”
    “Iya, memang kenapa?”
    “Kalau kamu sayang, kenapa kaktus itu kamu jual?”
   
Aku tersenyum kecil. “Sebenarnya aku menjual kaktus ini hanya iseng,
tidak serius. Mana mungkin ada orang yang mau membeli kaktus kecil dan
biasa ini seharga 5 juta. Tidak ada, kan? Kalaupun ada, aku pasti sudah
sangat bersyukur sekali. Dan ternyata, ada bapak-bapak yang mau membeli
berapapun harganya. Sayangnya, kaktusnya tidak ada. ”
    “Kalau
kamu sayang dengan kaktus itu, dan kaktus itu sangat berharga, kenapa
kamu rela menjualnya? Walaupun hanya iseng, tetap saja aku nggak akan
rela kalau jadi kamu.”
    Aku terdiam. Apa yang dikatakan Raka
benar. Aku sangat tega sekali dengan kaktusku. Berani-beraninya aku
menjualnya, padahal, kaktus ini adalah temanku yang paling setia.
   
Dan diam-diam, aku mengagumi sosok Raka. Ternyata, dia bisa memberiku
pelajaran yang sangat berharga. Aku sangat terkesan. Apa aku mulai
menyukainya?
♥♥♥
    Dua minggu kemudian…
    Perasaan
sukaku pada Raka semakin hari semakin bertambah. Apalagi setelah
ditemani tingkah kocaknya 2 minggu ini. Tapi sayangnya, itu semua akan
berakhir di hari ini. Dan hari ini, aku melihat tingkah Raka yang
berbeda. Entah mengapa, dia terlihat bersemangat dalam bekerja. Selain
itu, dia juga sering bercanda dan tersenyum kepadaku. Apakah dia juga
mempunyai perasaan yang sama? Entahlah.
    “Raka, kenapa kamu kelihatan semangat hari ini?” tanyaku sambil menyemprot air ke tanaman hiasku.
    “Aku sedang bahagia saja,” jawab Raka sambil tersenyum. Uoh, manis sekali…
    “Apa karena ini hari terakhirmu bekerja di sini?”
    “Bukan itu. Aku senang, kok, bisa membantumu.”
   
Aku tersenyum sambil menunduk, takut jika Raka melihatnya. Akhirnya,
daripada aku senyam-senyum tidak jelas, aku pun duduk di kursi dan
mencatat penghasilan selama 2 minggu ini.
    “Wah, hasil penjualan meningkat tajam, Ka…” ujarku.
    “Karena ada aku, kan?” sahut Raka sambil menyenggol pundakku. Uh, aku dibuat salah tingkah olehnya.
    “Mungkin salah satunya karena itu,” jawabku. Raka pun tersenyum. Lalu, dia melanjutkan pekerjaannya, membersihkan jendela.
   
Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berwarna merah berhenti di depan tokoku.
Aku pun segera berdiri untuk menyambut calon pembeli itu. Sesosok
perempuan berpostur tinggi dan berkacamata hitam pun keluar dari mobil
dengan anggunnya.
    “Masuk…”  ucapku sambil membuka pintu.
   
“Terimakasih…” ujarnya sambil membuka kacamata dan ternyata… Bukankah
itu perempuan yang pernah mengirim bunga untuk Raka? Dia Rena…
    Dan yang membuatku lebih kaget lagi, Raka menyambut Rena dengan senyum lebarnya bak seorang kekasih.
   
“Carissa, ini Rena, dia calon tunanganku. Kamu tahu tidak? Hubungan
kami sempat renggang karena Rena akan bersekolah ke Australia. Aku tidak
terima akan hal itu. Kami sudah bersahabat sejak kecil dan kami sangat
dekat. Makanya, waktu Rena mengirim bunga sebagai tanda perpisahan, aku
sangat marah dan membanting bunga itu. Dan ternyata, Rena yang mengambil
kaktusku. Kakus itu pemberian Rena, dan Rena tidak mau kalau aku sedih
karena teringat Rena karena kaktus itu,” cerita Raka.
    Aku
yakin ceritanya belum selesai. Namun, itu cukup membuatku sakit hati.
Raka pun melanjutkan bicara lagi. “Lusa Rena akan ke Australia dan mulai
bersekolah. Dan orangtua kami memutuskan agar kami bertunangan besok.
Kamu tahu, kenapa karena kami balikan? Karena aku sadar bahwa semakin
aku membenci Rena, hatiku semakin sakit. Rena sangat berharga untukku…”
   
Srek… Rasanya hatiku dibelah oleh pedang milik Raka dengan pelumas
Rena. Aku menangis, namun dalam hati. Aku tidak menampakkannya di depan
Raka.
    “Ini undangan untuk kamu,” kata Raka sambil menyerahkan undangan kecil berwarna merah jambu.
    “Terimakasih,” jawabku sambil tersenyum terpaksa.
   
Setelah kejadian itu, aku melamun sampai aku tidak sadar bahwa Raka dan
Rena sudah pergi. Dan kini, hari menginjak malam. Aku pun segera
menutup toko dan kembali ke rumah.
♥♥♥
    Hari ini, Raka
dan Rena bertunangan. Aku tidak akan hadir di pertunangan mereka. Aku
takut merusak pertunangan mereka karena aku menangis sekeras-kerasnya.
Lebih baik aku menangis di kamar.
    Tiba-tiba, aku teringat
kaktusku. Siapa tahu kaktus itu bisa menghiburku. Aku pun mengambilnya
dari meja belajar. Namun, entah mengapa, rasa sedih itu tidak berkurang
sedikitpun. Apa kaktusku sudah tidak manjur? Biasanya, jika aku sedih,
kaktus ini bisa menghilangkan kesedihanku. Namun, kali ini tidak. Aku
tidak tahu kenapa. Bahkan, tangisanku semakin bertambah. Aku merasa duri
kaktus ini semakin menambah tusukan di hatiku.
    Dua minggu
sudah cukup untuk mengenal dan mencintai Raka. Namun, selama 2 minggu
itu, aku juga yakin bahwa akan sulit untuk melupakan kenangan bersama
Raka. Mungkin akan membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan selamanya…
Oh, my dearest cactus… Now I fall in love, truly fall in love… Love is hurt my heart…

Contoh cerpen tentang musik terindah

MUSIK TERINDAH
Bunyi
alunan gitar yang indah terdengar dari balik pintu ruang musik. Sangat
terlihat bahwa orang yang memainkannya mahir bermain gitar. Ya, di balik
ruangan itu, ada dua sahabat yang tengah bermain gitar secara duet
sambil melantunkan lagu.
♫♫♫
“Lana, pokoknya kita harus
memberikan yang terbaik untuk debut pertama kita tanggal 24 nanti.
Ingat, waktunya tinggal 2 minggu!” ujar Shilla bersemangat.
    “Iya, kita harus bersemangat!” sahut Lana.
    “Ya sudah, ayo kita mulai lagi dari awal.”
    “Oke…”
   
Mereka berdua pun kembali memainkan gitar sambil menyanyikan lagu
bertema persahabatan yang mereka ciptakan sendiri. Di tengah-tengah
lagu, pintu ruangan itu terbuka. Dan tampak sosok berkacamata mengumbar
senyum di hadapan mereka berdua.
    “Maaf mengganggu,” ujarnya sambil duduk di kursi.
    Entah mengapa, tiba-tiba saja Shilla berdiri dan meletakkan gitarnya. Dia pun segera menghampiri sosok berkacamata itu.
    “Heh Fani, kenapa kamu kesini?” tanya Shilla kesal.
    “Aku hanya ingin menonton kalian berlatih,” jawab Fani.
    “Kalau aku tidak suka bagaimana? Sejak pertama bertemu, aku sudah sangat benci dengan kamu!” bentak Shilla.
    “Ya sudah, kalau begitu, aku pergi saja…” Fani mengalah, dia segera keluar dari ruang music.
    Lana yang melihat kejadian tersebut segera menghampiri Shilla dan mengelus pundaknya.
    “Shilla, kamu jangan kasar dengan Fani…” ujar Lana lembut.
    “Habis dia menyebalkan, sih!” sahut Shilla.
♫♫♫
    “Shilla, aku ada kejutan buat kamu…” ujar Lana di sekolah.
    “Kejutan apa?” tanya Shilla penasaran.
    “Ada deh… Kalau aku kasih tau, bukan kejutan lagi namanya!”
    “Bener juga! Ya udah, mana kejutannya?”
    “Tada…”
Lana menyerahkan sebuah kotak kecil berbentuk hati pada Shilla. Shilla pun membukanya.
“Wah… Cantik sekali…” ujar Shilla kagum. Lana yang melihat hal tersebut hanya nynegir.
Yap,
Lana membeli 2 pasang kalung dengan liontin hati. Kalung tersebut
sangat cantik. Lana sengaja membelinya untuk aksesori saat debut nanti.
“Gimana, bagus kan?”
“Iya. Ini pasti untuk debut!”
“Tepat!”
“Kalau begitu, aku yang akan membelikan gaun di debut kita nanti. Pokoknya, kita harus tampil cantik di debut nanti. Setuju?”
“Setuju…”
Namun, tiba-tiba saja ekspresi Lana berubah menjadi muram. Shilla yang melihat hal tersebut merasa bingung.
“Lana, kenapa kamu jadi murung seperti itu?”
“Ngg… Nggak papa, kok. Aku cuman sedikit pusing saja.”
“Yah… Padahal, aku berniat mengajak kamu membeli gaun…”
“Ya sudah, nanti aku ikut. Aku nggak papa, kok. Sekarang udah mendingan…”
    Akhirnya, setelah 7 jam, pelajaran pun selesai. Shilla pun mengajak Lana ke mall dekat sekolah.
   
“Ya ampun… Baju-baju di sini bagus banget… Aku sampai bingung…” ujar
Shilla. Shilla pun menarik tangan Lana ke sebuah butik yang ada di dalam
mall. Kebetulan, di sana sedang ada diskon besar-besaran.
   
“Shilla, jangan mahal-mahal, ya… Gaun seperti itu kan, hanya bisa
digunakan saat acara formal, kalau untuk sehari-hari, kan gak bisa…”
   
“Iya… Nah, akhirnya ketemu juga!” Shilla pun memamerkan sebuah gaun
selutut berwarna merah muda. “Kayaknya, ukurannya pas deh untuk kita
berdua. Badan kita kan sama-sama langsing…”
    Lana tersenyum kecil. “Shil, bagaimana kalau gaun untukku agak besar sedikit?”
    “Agak besar?”
    “Iya… Kayak gini.” Lana mengambil sebuah gaun berwarna senada. Namun, ukurannya lebih besar.
    “Lana… Emangnya, kamu Fani yang gendut apa?”
    “Emmm… Aku merasa, akhir-akhir ini makanku banyak. Jadi, bisa saja badanku melar…”
    “Enggak tuh, badanmu tetap ideal, kok.”
    “Tapi, Shill…”
    “Ya sudah, aku terserah kamu saja. Yang penting, penampilan kita kompak.”
    “Makasih ya, Shill… Kamu memang pengertian.”
♫♫♫
    “Lana! Lana!”
   
Tiba-tiba saja, Lana pingsan saat sedang pelajaran olahraga. Seluruh
teman satu kelasnya pun bergegas membawa Lana ke UKS. Semuanya panik,
termasuk Shilla. Shilla pun menelpon orangtua Lana. Beberapa menit
kemudian, orangtua Lana datang ke sekolah dan berniat membawa Lana ke
rumah sakit.
    “Lana…” Mama Lana terlihat khawatir.
   
“Tante… Kenapa Lana harus dibawa ke rumah sakit? Kan bisa saja kalau
Lana hanya kecapekan. Memangnya Lana sakit apa?” tanya Shilla khawatir.
    “Lana memang sering kayak gini akhir-akhir ini. Kalau pulang latihan musik, dia sering capek.”
    “Tapi, memang Lana sakit apa?”
    “Sudah, kalau kamu mau ikut ke rumah sakit, ikut saja.”
    “Ya sudah, Tante.”
    Akhirnya, Shilla pun ikut ke rumah sakit menumpang mobil orangtua Lana. Sesampainya di sana, Lana segera dibawa ke UGD.
    “Lana…” Mama Lana menangis.
   
“Sudah… Lana pasti baik-baik saja. Lana kan, anak yang kuat… Lagipula,
selama ini, Lana sehat-sehat saja, kan?” hibur Shilla.
   
Tiba-tiba saja, ada pemandangan yang mengejutkan Shilla. “Mama!
Bagaimana keadaan Lana?” tanya Fani. Tiba-tiba, Fani datang ke rumah
sakit. Dan yang lebih mengagetkan, Fani menyebut Mama Lana dengan
sebutan Mama.
    “Fani…” Mama Lana pun memeluk Fani.
    “Ma, Lana kenapa?” tanya Fani sambil menangis. “Fani takut terjadi apa-apa dengan Lana…”
    “Sabar, sayang… Semoga Lana baik-baik saja…”
    Shilla yang melihat hal tersebut hanya bisa mematung. “Tante, sebenarnya Fani ini siapa? Anak angkat Tante?” tanya Shilla.
    “Dia anak kandung saya, kembarannya Lana…” jawab Mama Lana.
    “Hah? Apa? Kok beda dari Lana? Kenapa dia jelek?” tanya Shilla yang langsung menutup mulutnya.
   
Namun, Mama Lana dan Fani tidak menghiraukan. Mereka bergegas pergi ke
ruang dokter setelah dokter yang menangani keluar dari UGD.
   
Sementara itu, Shilla masih tidak percaya bahwa Fani adalah kembaran
Lana. Pantas saja selama ini Fani sering melihat mereka latihan.
Walaupun sering juga diusir Shilla.
    Selang beberapa menit
kemudian, orangtua Lana dan Fani keluar dari ruang dokter dengan wajah
sayu. Shilla pun segera menghampiri mereka.
    “Tante, Om,
sebenarnya Lana sakit apa?” tanya Shilla. Namun, mereka enggan menjawab
karena menangis. Shilla yang melihat hal itu hanya bisa menghentakkan
kakinya karena kesal. Namun, sekarang Shilla benar-benar khawatir.
Bagaimana kalau ternyata Lana sakit parah? Padahal Lana adalah rekan
duetnya saat debut nanti? Shilla yang membayangkan hal itu langsung
lemas.
♫♫♫
Keesokan harinya, Shilla berkunjung ke rumah sakit. Kali ini dengan kedua orangtuanya.
    “Ma, Pa. Shilla kebelakang dulu, ya?” ujar Shilla. Kedua orangtuanya pun mengangguk.
   
Sesampainya di toilet, dia melihat seorang perempuan sebayanya yang
sedang mencuci muka. Saat perempuan itu menoleh, Shilla sangat kaget.
    “Lana? Kenapa kamu ada di sini? Kamu sudah sembuh?” tanya Shilla.
    Perempuan itu hanya tersenyum. Sangat manis. Bahkan lebih manis dari Lana yang ia kenal selama ini.
    “Aku Fani, bukan Lana…” sahut Fani sambil memakai kacamatanya.
    Shilla tersentak kaget. Ternyata Fani sangat mirip dengan Lana, bahkan dia lebih cantik. Namun, Fani lebih berisi dari Lana.
    Setelah mencuci muka, Fani pun segera meninggalkan Shilla yang mematung di dekat wastafel.
   
“Ya ampun… Fani cantik sekali…” Shilla kagum, namun dia tak berani
menampakkannya di depan Fani. Sekarang Shilla sadar, yang membedakan
Fani dan Lana hanyalah kacamata.
    Siang itu, Lana keluar dari ruang rawatnya. Dengan menggunakan kursi roda, dia menemui Shilla di taman rumah sakit.
   
“Shilla, sekarang kamu sadar, kan? Bahwa kita tidak boleh menilai orang
hanya dari luarnya saja? Walaupun Fani culun, tapi hatinya baik.
Buktinya, dia mau menerimamu. Lagipula, Fani itu sangat cantik…”
   
“Iya, Lana. Aku khilaf. Aku memang salah, karena hanya menilai Fani
dari luarnya saja. Padahal sebenarnya, Fani juga cantik, sama seperti
kamu. Tapi, kenapa kamu tidak bilang dari awal kalau Fani itu
kembaranmu?”
    “Karena waktu itu kamu terlanjur benci dengan
Fani. Aku tidak enak kalau harus memberitahukannya kepadamu. Oh, ya!
Satu hal lagi yang harus kamu tahu, Fani itu sekolah di SMP nomor satu
di Jakarta. Dan aku hanya sekolah di SMP nomor dua di Jakarta bersama
kamu. Jadi, kalau kami tidak satu sekolah, itu karena Fani lebih
pintar.”
    Ya ampun. Aku semakin kagum dengan Fani. Ternyata dia
sangat pintar. “Oh, ya! Sebenarnya kamu sakit apa? Kenapa keluargamu
sampai khawatir seperti itu?”
    “Aku hanya kecapekan, kok. Ya sudah, aku balik ke kamar dulu, ya? Kata dokter, sekarang aku harus istirahat.”
    “Mau aku bantu?”
    “Tidak usah, makasih…” Lana pun menggerakkan kursi rodanya dan menuju kamarnya.
♫♫♫
Menjelang
konser, Lana masih harus dirawat di rumah sakit. Jadi, Shilla kerap
berlatih di rumah sakit bersama Lana. Dan kini, 1 hari menjelang konser,
kondisi Lana masih sama seperti kemarin.
    “Lana, kamu
semangat dong… Besok kita debut, kalau kamu belum sembuh, bagaimana
dengan debut kita?” rengek Shilla pada Lana sambil memegang tangannya.
Lana dengan bibir pucatnya hanya bisa tersenyum kecil.
    “Kenapa harus dengan aku? Kan dengan yang lain bisa?” ujar Lana.
    Shilla pun berdiri dan melepaskan tangannya. “Kamu gila, ya? Kita sudah latihan, dan mau diganti dengan siapa?”
    “Jangan marah dong…”
   
Tiba-tiba saja, Fani masuk ke dalam kamar dengan membawa bubur. “Lana,
bubur ini dimakan, ya?” ujar Fani yang disambut anggukan Lana. Fani pun
menyuapkan bubur ke mulut Lana. Tiba-tiba saja, Lana tersedak. Namun,
dari mulutnya, Lana mengeluarkan darah.
    “Lana, kamu kenapa? Aku panggilkan dokter, ya?” teriak Shilla dengan khawatir.
    “Tidak usah. Aku mau bicara dulu dengan kalian berdua,” sahut Lana.
    “Mau bicara apa?” tanya Shilla heran.
   
“Shila, umurku nggak lama lagi. Sejak kita latihan pertama kali
menjelang debut, aku divonis dokter hanya bertahan selama 2 minggu
karena penyakit leukemia yang kuderita 4 bulan yang lalu. Dan aku rasa,
sekarang sudah waktunya. Selama  2 minggu, aku berusaha untuk kuat agar
aku bisa debut, aku berharap untuk itu. Tapi, semakin dekat dengan
debut, kondisi kesehatanku melemah. Aku benar-benar sedih…” cerita Lana.
Fani hanya bisa menangis mendengar cerita Lana.
    Sementara
itu, Shilla menutupi mulutnya karena kaget. “Lana, kamu bicara apa?
Kenapa aku baru tahu sekarang? Kenapa kamu nggak ngasih tahu sejakawal?”
   
“Aku nggak mau nyusahin kamu. Dan aku benar-benar ingin debut. Jadi,
aku paksakan saja. Siapa tahu, vonis dokter salah,” sahut Lana sambil
menangis.
    “Lana… Aku nggak mau debut sendiri…” tangis Shilla sambil memeluk Lana.
    “Fani akan gantiin aku,” ujar Lana. Shilla pun berdiri dan menghadap Fani. Sementara itu, Lana melanjutkan perkataannya:
   
“Di rumah, aku sering melatih Fani. Dan semakin hari, perkembangannya
semakin baik. Jadi, aku rasa, Fani bisa gantiin aku. Aku rasa, sekarang
sudah waktunya. Shilla, maaf kalau ternyata waktuku tidak sampai untuk
debut besok. Fani, maaf kalau aku sering menyusahkan. Sekali lagi, aku
minta maaf,” kata Lana yang disambut isak tangis Shilla dan Fani.
   
Beberapa menit kemudian, Lana memegang dadanya dan mengeluh sesak
napas. Fani pun berteriak memanggil dokter dan orangtuanya. Sementara
itu, Shilla hanya bisa menangis di samping tempat tidur Lana.
   
Tak beberapa lama kemudian, dokter dan orangtua Lana datang. Dan saat
itulah, Lana meninggalkan keluarga, teman-teman, serta dunia ini. Kamar
rawat Lana pun dipenuhi isak tangis keluarga dan kerabat. Sekarang,
Shilla paham kenapa Lana memilih gaun dengan ukuran yang lebih besar,
ukuran Fani.
♫♫♫
Siang ini, Lana selesai dimakamkan. Fani
dan kedua orangtuanya masih berada di dekat pusara Lana. Begitu juga
Shilla. Shilla baru saja membaca diary Lana yang cukup membuatnya
menangis.
    “Fani, kita siap-siap yuk… Lana pasti sedih kalau
debut nanti tidak berhasil…” ujar Shilla sambil memegang pundak Fani.
Dengan mata yang masih berair, Fani pun mengangguk.
    Kini,
mereka berdua sudah sampai di tempat konser. Setelah beberapa jam
berlatih, Shilla dan Fani pun segera berdandan karena konsernya akan
segera dimulai. Dan hasilnya, keduanya sama-sama cantik dengan gaun
merah muda serta sepatu balet berwarna perak. Rambut panjang Shilla
terlihat menawan dengan gaya curly. Sementara itu, Fani melepas
kacamatnya dan mengikat rambut sebahunya ke kanan.
    “Hadirin…
Marilah kita sambut… Nayshilla Reina Amanda dan Fani Sabrina Aisya,
dalam debut mereka…” teriak sang pembawa acara yang disambut tepuk
tangan hadirin. Selanjutnya, Shilla dan Fani pun naik ke atas panggung
dengan gitar mereka dan duduk di kursi yang disediakan.
   
“Selamat malam hadirin… Perkenalkan, saya Nayshilla Reina Amanda dan ini
teman saya, Fani Sabrina Aisya. Sebelumnya, saya adalah pemenang Music
Contest tingkat dunia di Jerman bersama teman saya. Dan ini adalah debut
kami. Debut ini, akan kami persembahkan untuk teman saya, partner saya,
yang telah pergi mendahului kita semua, Lana Sabrina Aisya. Dan dia
adalah saudara kembar dari seseorang yang duduk bersama saya…” ujar
Shilla dengan mata berkaca-kaca.
    “Ya. Sebenarnya, Lana-lah
yang seharusnya duduk di sini. Namun, Allah punya rencana lain yang
lebih indah. Jadi, saya akan menggantikan Lana. Untuk saudaraku,
sahabatku, dan inspirasiku, ini untukmu…” sambung Fani yang terlihat
lebih tegar.
    Tak berapa lama kemudian, gitar mulai dipetik dan
mengalunlah music yang indah dari atas panggung. Mereka pun menyanyikan
lagu berjudul “Janjiku untuk Sahabatku” ciptaan Shilla dan Lana.

Hari ini…
Ku melihatmu begitu cerah…
Senyummu menyungging begitu indah…
Buatku semangat dan bergairah…

Hari ini…
Kita kobarkan janji…
Janji sehidup semati…
Untuk saling…menyayangi…

Kau sahabatku…
Yang paling setia…
Yang paling kucinta…
Selamanya…

Jika kita…
Berpisah suatu hari nanti…
Ku kan berjanji…
Untuk menjaga kenangan kita…
I promise…

Akhirnya,
lagu tersebut selesai. Penonton pun memberikan standing applause.
Itulah musik terindah, musik yang dimainkan dari hati, dan dinikmati
dengan hati pula.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *