Categories
Uncategorized

Contoh cerpen tentang super hero

Contoh cerpen tentang super hero

Jika sepasang sepatu tidak akan dapat berfungsi jika salah satunya tidak lengkap atau tidak ada, jika sebuah kunci dan gemboknya tidak selalu berdampingan maka yang terkunci tidak akan bisa terbuka, seperti ibarat surat dan perangko, ibarat sebuah mobil yang tidak mungkin akan berjalan jika tidak ada mesinnya, ibarat sebuah pesawat dengan pilotnya , ibarat sebuah kapal dengan nahkodanya , ibarat kereta api dengan masinisnya, yang mungkin tidak akan dapat dipisahkan , begitu jugalah dengan seorang anak dengan ibunya, seorang anak dengan ayahnya.

Hari ini dunia seakan tersenyum, dengan keadaan cuaca yang sangat cerah, keadaan alam yang begitu menyapa, dan dengan semangat 45 ku langkahkan kaki keluar dari kamar dan segera berangkat ke sekolah.

“ Ayah ! Antarin aku dong ! Sudah telat nih, kataku pada ayah dengan kerasnya “ Iya ta, tunggu sebentar lagi ya, ayah sedang sarapan lita ! “ Aku sudah telat nih,” iya ta” Tanpa pikir panjang ayah langsung menghentikan sarapannya dan segera mengantarku ke sekolah, dan lebih parah nya lagi disaat kami akan berangkat, tiba-tiba motor yang akan kami naiki rusak.

“Astagfirullah haladzim ta, ayah lupa ganti oli nya kemarin!” terus gimana dong, aku udah telat banget nih yah, masa aku harus jalan kaki , pokoknya aku nggak mau taugimana caranya aku harus cepat sampai di sekolah”

Dan dengan wajah yang binging ayah mencari solusi untuk masalah ini, dan tanpa pikir panjang ayah langsung mempunyai ide untuk masalah ini, yaitu dengan meminjam motor tetangga untuk mengatarku ke sekolah.

Begitu besar perjuangan ayah untukku, aku sadar akan besarnya pengorbanan seorang ayah kepada anak yang dicintainya.

*****

“Yah! Besok aku ada lomba ke Bandung, lombanya hari sabtu tanggal 20 april, bolehkan aku ikut? Boleh ya yah? “ Ayah selalu mengizinkan apa yang terbaik bagimu, tapi masalah nya adalah ayah tidak punya uang untuk kamu pergi lomba itu lita”

“ yah , masa aku nggak ikut sih, teman-teman aku pada ikut, pokoknya aku nggak mau tau aku harus ikut lomba itu, apapun caranya aku harus ikut”.

Mungkin masalah ini sangat membebani pikiran ayah.

” Kalitha, ayah sudah dapat uang untuk kamu berangkat lomba nanti nak!” oh ya, dari mana ya, ? “ Dari mananya kamu nggak perlu tau lita, yang penting kamu bisa berangkat ke Bandung besok.!” Terima kasih untuk semua nya yah , aku nggak tau harus dengan apa aku membalas semua pengorbananmu”.

*****

Hari ini tanggal 20 april dan hari untuk aku berangkat lomba ke Bandung , aku dan ayah berangkat dari rumah menuju tempat kami naik bus untuk berangkat ke Bandung tepat jam 04.00 WIB, karena rumah ku sangat jauh dari tempat kami naik bus maka aku dan ayah berangkat dari rumah lebih awal dari yang lain.

Dengan keadaan motor butut ayah, kami mulai berangkat dari rumah.Aku dan ayah sampai di terminal jam 04.30 WIB, dan untungnya aku belum terlambat . Tanpa menunggu terlalu lama, bus yang akan membawa kami pergi ke Bandung sudah datang, kami pun akan segera berangkat, semua siswa yang akan pergi lomba sudah naik ke atas bus, bus sudah mulai berjalan, ku lihat di jendela bus ayah yang sedang melambaikan tangannya kepada ku, melihat pengorbanan ayah , rasa nya aku mau menangis , tapi segera ku tahan air mata ini agar tidak jatuh.

*****

Setelah lomba selesai,saatnya kami pulang, skitar 10 kilometer lagi sebelum terminal, aku langsung menghubungi ayah untuk segera menjemputku.

Semua siswa di jemput oleh orang tuanya , dan termasuk aku yang di jemput oleh ayah naik motor butut itu lagi, tapi aku tetap bersyukur dengan karunia itu, karena dengan motor butut itu aku bisa diantar ayah kemanapun.

Setelah sampai dirumah ayah menceritakan bahwa sepulangnya mengantar aku ke terminal, motor ayah rusak dan terpaksa ayah harus mendoronnya sejauh 5 kilometer ke bengkel, mendengar itu aku jadi kasihan sama ayah yang telah susah karena aku, maafkan aku ayah karena telah merepotkan mu, aku berjanji akan membanggakanmu semampuku.

Hari ini hasil lomba itu keluar, dan alhamdulillah aku memperoleh peringkat lim besar dari 2060 orang peserta, dan aku langsung memberitahukannya kepada ayah.

“ Yah, aku dapat rangking lima dari 2060 peserta!” “ kamu serius ta?

‘ iya yah, aku serius dan besok aku akan pergi lomba lagi.

‘ Alhamdulillah nak, ayah bangga kepada mu, pengorbanan ayah tidak sia-sia.

*****

“ Ayah! Ayah di mana ? “ ayah di dapur ta, ada apa? “ Ayah lagi ngapain ? Tadi ayah ketemu batu ini di ladang kita, kayaknya ini batu akik deh lit,” coba lihat ya,! Ayah melihatkan batu yang di pegangnya kepadaku. “ Ya Allah aku tau ini Cuma batu biasa , ini bukan batu akik atau permata sekalipun, ( bisik ku dalam hati) “ “ itu beneran batu akik kak lit, dengan senang hati ayah bertanya itu padaku.”( Ya Allah aku nggak tau harus bilang apa, aku takut melukai hati dan perasaan ayah ,)

Aku nggak tau yah ini batu apa,! “Ya ampun lita ini batu akik , kamu nggak percaya, lihat deh warnanya bagus banget, warnanya putih lit”

Mungkin sekarang sedang musimnya batu akik, dan ayah jadi ikut-ikutan suka batu akik, walaupun hanya batu biasa ayah sudah senang karena telah punya batu akik.

“Ya Allah, jika nanti aku punya uang aku janji akan membelikan ayah batu akik yang bayak, aku akan membelikan kacamata baru untuk ayah, aku janji akan membuat ayah bangga.

Berikan kesehatan kepada ayah ku Ya Allah, jaga dia sebagaimana dia menjaga aku segenap jiwanya pada waktu kecil, aku sangat menyayanginya ! SELAMANYA!!!

Categories
Uncategorized

Contoh Cerpen tentang Arti sebuah persahabatan

Contoh Cerpen tentang Arti sebuah persahabatan

Sahabat itu seperti sepasang sandal yang selalu bersama. Walaupun berbeda, tetapi tetap satu tujuan dan selalu bersama. Seperti persahabatan yang kualami. Selalu bersama dalam suka maupun duka. Namaku Friska dan sahabatku Linda.

Aku dan Linda tidak satu sekolah. Tetapi rumah kita tidak terlalu jauh, dan sering main bersama.

Malam itu aku dan Linda pergi ke warung bakso untuk makan bareng. Setelah selesai aku dan Linda langsung pulang karena sudah ngantuk. Ketika dijalan tiba-tiba

“Fris… Friska….. Friskaaaa “

“Apa sih… eh Ardi, kamu dari mana?”

“Itu dari warung depan, kamu dipanggil kok gak nyaut sih… cape tau lari-lari”kata Ardi yang terdengar agak ngos-ngosan.

“Hehe.. gak denger. Maaf deh” jawabku singkat

“Ok. Nggak masalah. Aku duluan ya, udah sampe rumah nih. Daaaaaaaah” kata Ardi “yaaa”jawabku

Ardi.. yaps dia adalah cowok yang aku suka sejak aku masuk SMA, dan kebetulan dia sekarang menjadi teman satu kelasku.

Keesokan harinya tepat pukul 06.00 pagi aku sudah bersiap untuk berangkat ke sekolahku tercinta bersama maticku. Sesampainya disekolah aku langsung menuju kekelas dan membuka handphone ku yang dari tadi bergetar.

Ternyata ada sms dari Linda

“Fris nanti sepulang sekolah aku tunggu diwarung bakso biasa. Aku yang traktir” katanya

“Oke”jawabku

Setelah pulang sekolah aku langsung meluncur ke tempat yang sudah dijanjikan dengan Linda.

Disana aku sudah melihat Linda dengan dua mangkuk bakso dan dua gelas es teh. Aku langsung dipersilahkan makan.

Saat aku makan Linda mengatakan bahwa dia suka sama Ardi pada pandangan pertama. Pada saat itu aku tersedak dan hatiku hancur berkeping-keping, dan tak terasa air mataku mengalir dengan sendirinya. Aku segera menghapus air mataku sebelum Linda melihat dan curiga padaku.

Setelah makan Linda meminta nomor hp Ardi kepadaku, dan langsung kuberi.

Setelah itu aku pamit dan pulang kerumah. Saat aku sampai dirumah, aku menangis dan aku bingung apa yang harus aku lakukan. Mungkin karena kelelahan akhirnya akupun tertidur.

Akhir-akhir ini pun Linda sering pergi kerumahku untuk bercerita tentang Ardi, panjang lebar Linda bercerita aku hanya menjawab “oh”

Sampai akhirnya dia kesal denganku.

“Fris kamu dari tadi kok diam aja. Apa jangan-jangan kamu suka ya sama Ardi. Pokoknya kamu gak boleh suka sama dia, dan kamu harus deketin dia sama aku. Dan satu lagi, kamu gak boleh deket-deket sama dia lagi”

Jleeebbb… hatiku bagai disambar petir disiang bolong.

“Bagaimana mungkin aku harus deketin sahabatku dengan orang yang aku suka sejak dulu. Bagaimana mungkin aku gak boleh suka sama dia. Bagaimana mungkin aku gak boleh dekat dengan dia… “jeritanku dalam hati

“I… iya. Nanti akan aku deketin sama dia.”jawabku

Mulai hari itu disekolah aku selalu menghindar dari Ardi. Menjadi cuek, dan gak peduli sama Ardi. Pertemanan yang tadinya dekat mendadak hancur hanya karena aku sayang dengan sahabatku.

Anehnya Ardi selalu mendekatiku, mengikutiku, dan selalu menanyakan apa salah dia kepadaku.

Sudah satu minggu ini aku menghindar dari Ardi, tetapi Ardi tidak henti-hentinya menanyakan hal yang sama kepadaku. Hingga teman satu bangkuku menanyakan sesuatu padaku

“Fris kamu lagi ada masalah ya sama Ardi”tanya Sisca

“Nggak kok”jawabku

“Gak usah bohong deh. Aku tahu kok”katanya

“Gak ada apa-apa Sis”jawabku

“Ya udah deh kalau kamu gak mau cerita”katanya

Saat istirahat tiba aku gak boleh pergi dari kelas. Aku boleh keluar asal aku menceritakan apa salah dia kepadaku.

Tetapi aku hanya diam mematung. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutku hingga bel istirahat habis, dan Ardi pun mulai kesal denganku.

Aku merasa bersalah, tapi ini yang harus aku lakukan demi sahabatku Linda.

Saat pulang sekolah aku melihat Ardi duduk diatas maticku. Aku tidak bisa menghindar lagi.

Dan akhirnya aku mengajak Ardi ke taman sekolah. Disanalah aku menumpahkan kesedihanku kepada Ardi.

“Di aku mohon, mulai sekarang jangan dekati aku. Dekatilah Linda temenku, dia suka sama kamu”kataku sambil menangis

“Kenapa aku gak boleh dekat sama kamu. Kenapa harus sama Linda?”

“Di Linda itu suka kamu. Dan aku sahabatnya, gak mungkin aku menyakiti sahabatku sendiri”

“Tapi Fris. Sudah lama aku suka sama kamu”

“Aku juga Di. Tapi ini sudah telat. Kalau kamu emang suka sama aku please belajar cintai Linda”

“Tapi?”

“please Di, demi aku”

“I..iya kalau ini bisa buat kamu bahagia. Akan aku lakukan demi kamu”

“Makasih. Oh iya aku harus pulang sekarang”

Aku meninggalkan Ardi, dan langsung pulang. Karena aku tidak mau bertemu dengan siapapun hari ini.

Sesampainya dirumah aku pergi kekamar dan menangis sejadi-jadinya. Kebetulan orang tuaku sedang pergi keluar kota. Jadi tidak akan ada yang menggangguku sementara ini.

Kira-kira sudah tiga bulan lamanya aku tidak berkomunikasi dengan Ardi dan Linda. Dan aku tidak tahu bagaimana hubungan mereka. Entah sudah jadian atau pun belum. Aku hanya memikirkan bagaimana aku bisa sukses setelah SMA dan mendapat nilai yang memuaskan saat Ujian Nasional.

Tak terasa akhirnya masa SMA pun telah usai. Aku memutuskan untuk pergi kekota agar dapat melupakan masalah pahit yang ada dihidupku.

Dan aku bertemu sodara yang ada disana, dan dia menawarkan pekerjaan yang menurutku menarik. Karena aku butuh uang untuk hidup, akhirnya aku menerimanya.

Awalnya disana aku diajari menjahit dan menggambar pola boneka. Lalu aku mencoba untuk membuat satu buah boneka. Dengan pola yang aku buat.

Setelah beberapa tahun aku kerja disana. Dan tabunganku cukup aku memutuskan untuk membuka tempat pembuatan boneka sendiri, dan keluar dari tempat saudaraku itu.

Setelah toko itu sukses dan kini aku mampu membayar karyawan yang ada, aku memutuskan untuk pulang kekampung halaman untuk melihat suasana yang ada disana.

Aku berangkat pukul 07.00 pagi dengan aila putih.

Sesampainya dirumah aku langsung kekamar, mandi dan beres-beres. Lalu mamahku masuk.

“Fris kemarin kamu dicariin sama Linda dan temennya Ardi. Katanya nomor kamu yang satu gak aktif.”kata mamah

“Iya mah. Nomorku yang satu emang udah lama hilang. Eh mah Linda bilang apa?”

“Katanya kalau kamu udah pulang kamu suruh langsung menghubungi Linda. Oh iya sayang, mamah udah ditunggu sama papah mau kerumah nenek kamu. Mama berangkat dulu ya. Assalamu’alaikum”

“iya mah. Wa’alaikumsallam”

Setelah itu aku kekamar dan ambil handphone untuk sms Linda. “Ada apa Lin, kata mamah kamu nyariin aku?”

Linda tidak membalas pesan singkatku. Dan aku memutuskan untuk tidur.

Keesokan harinya aku mendengar pintu rumahku yang diketuk oleh seseorang. Dan akhirnya aku bukakan pintu itu.

Aku sangat terkejut, ternyata yang datang itu Linda dan Ardi. Linda memelukku sambil menangis.

Jujur aku tidak tahu apa maksudnya ini.

“Fris.. aku minta maaf. Aku terlalu egois, dan aku sudah merusak hubungan kamu dan Ardi. Fris kalau kamu mau marah, marah aja. Asal kamu jangan tinggalkan aku lagi.”

“Kamu ngomong apa sih Lin”

“Udah deh, aku udah tau semua. Sebenarnya kamu dan Ardi itu saling suka, tapi karena keegoisanku kamu jadi meninggalkan Ardi”

“Maafin aku”kataku

“Kamu nggak salah. Yang salah itu aku. Dan mulai sekarang kita gak boleh jauh-jauhan lagi ya”

“Tapi maaf sekarang aku bekerja. Jadi aku pulang hanya hari jum’at – minggu”

“I bya gak papa kok”

Dan setelah itu hubungan aku dan Linda itu kembali seperti semula. Sedangkan Ardi sekarang menjadi sahabat baruku, yang selalu melindungi kami ketika kami pergi bersama.

Setiap hari sabtu dan minggu aku selalu nongkrong diwarung biasa. Yaitu warung bakso langganan aku dan Linda.

Dan kami pun berjanji bahwa kita tidak akan terpisahkan dengan alasan apapun.

Setelah lima tahun kedepan Linda telah menjadi dosen, Ardi menjadi Direktur, dan saya sendiri menjadi pengusaha yang bisa dikatakan sukses.

Walaupun kita sudah sibuk sendiri. Tetapi waktu berkumpul pasti ada.

Itulah indahnya persahabatan yang baik.

Categories
Uncategorized

Isi dekrit presiden 5 juli 1959 yang Lengkap

Isi dekrit presiden 5 juli 1959 | Inilah isi dekrit presiden 5 juli 1959 yang sejarahnya berawal dari pembentukan Badan Konstituante yang telah dibentuk melewati pemilihan umum pada tahun 1955 yang dipersiapkan untuk bisa merumuskan undang-undang dasar konstitusi yang baru sebagai konstitusi yang menggantikan UUDS 1950. Di tanggal 20 November 1956 maka dewan Konstituante memulai suatu persidangan dengan diawali pidato dari Presiden Soekarno. Sidang yang dilaksanakan oleh para anggota Dewan Konstituante ialah untuk dapat menyusun dan menetapkan Republik Indonesia dengan tanpa adanya pembatasan pada kedaulatan. Sampai pada tahun 1959, Konstituante tidak pernah lagi berhasil dalam merumuskan undang-undang dasar yang baru.

Kondisi tersebut semakin mengguncang situasi yang ada di Indonesia. bahkan masing-masing dari partai politik senantiasa selalu berusaha dalam menghalalkan segala cara supaya tujuan partainya bisa segera tercapai. Sementara sejak pada tahun 1956, kemudian kondisi politik negara Indonesia bertambah buruk dan kacau. hal tersebut disebabkan karna adanya daerah-daerah yang mulai bergejolak, serta telah memperlihatkan adanya gejala-gejala separatise. Semisal pembentukan dewan gajah, dewan garuda, dewan manguni dan dewan Banteng. Dewan Lambung- Mangkurat dan sebagainya. Beberapa daerah yang bergejolak tersebut tak mengakui pemerintahan pusat, bahkan mereka mulai membentuk pemerintahan tersendiri.

Isi dekrit presiden 5 juli 1959 yang Lengkap


Seperti pada pemerintahan Revolusioner republik Indonesia PRRI yang di sumatra dan perjuangan rakyat semesta atau Permesta yang ada disulawesi utara. Kondisi tersebut semakin bertambah kacau dan mampu membahayakan dan mengancam keutuhan negara republik indonesia. Suasana kian bertambah panas, namun sementara itu rakyat sudah tak sabar lagi dalam menginginkan pemerintah untuk segera mengambil sebuah tindakan yang bijaksana untuk dapat mengatasi kemacetan pada sidang konstituante. Namun Konstituante ternyata tak dapat kita harapkan lagi.

Kegagalan Konstituante didalam melakukan pembuatan undang-undang dasar yang baru itu telah menyebabkan negara Indonesia kemudian dilanda kekalutan konstitusional. Undang-undang dasar yang sudah menjadi dasar dalam pelaksanaan pemerintah masih belum berhasil untuk dibuat, sedangkan pada Undang-undang dasar sementara 1950 yang memiliki sistem pemerintahan demokrasi liberal masih dianggap tak sesuai dengan keadaan kehidupan bermasyarakat yang ada di Indonesia. Untuk dapat mengatasi kondisi yang tak menentu itu maka pada bulan Februari pada tahun 1957 Presiden Soekarno mulai mengajukan suatu konsepsi.

Konsepsi Presiden Soekarno untuk menginginkan terbentuknya kabinet yang berkaki empat dimana (terdiri dari empat partai terbesar seperti PKI, MASYUMI NU dan PNI) dan dewan Nasional yang terdiri atas golongan fungsional yang berfungsi menjadi penasihat pemerintah. Ketua Dewan yang menjabat yaitu presiden sendiri. Konsepsi yang telah diajukan oleh Presiden Soekarno tersebut ternyata memunculkan perdebatan. Berbagai macam argumen antara kontra dan pro yang bermunculan. Pihak yang melakukan penolakan konsepsi tersebut menyatakan bahwa perubahan yang mendasar tersebut yang ada dalam sistem kenegaraan hanya dapat dilakukan oleh Konstituante.

Sebaliknya yang telah menerima konsepsi tersebut telah menyatakan bahwa krisis politik hanya dapat diatasi kalau konsepsi tersebut dijalankan. Di tanggal 22 April pada tahun 1959, maka didepan sidang konstituante Presiden Soekarno kemudian menganjurkan untuk mengembalikan UUD 1945 menjadi Undang-undang dasar Negara RI. Menanggapi pernyataan tersebut maka pada tanggal 30 Mei 1959, Konstituante kemudian mengadakan sidang pemungutan suara. Dengan hasil pemungutan suara tersebut telah menunjukkan bahwa mayoritas dari anggota konstituante telah menginginkan berlakunya kembali UUD 1945 menjadi Undang-Undang dasar Republik Indonesia.

Namun jumlah anggota konsituante yang hadir tersebut tak mencapai dua pertiga dari jumlah anggota konstituante pada saat itu, seperti yang telah disyaratkan di pasal 137 UUDS 1950. Bahwa pemungutan suara diulang hingga dua kali. Pada pemungutan suara terakhir tersebut diselenggarakan di tanggal 2 juni 1959, akan tetapi juga telah mengalami kegagalan dan tak dapat memenuhi dua pertiga dari jumlah suara yang diinginkan. Maka dengan demikian, sejak pada tanggal 3 juni 1959, Konstituante kemudian mengadakan reses atau istirahat. Untuk dapat menghindari terjadinya bahaya yang telah disebabkan oleh aktivitas partai-partai politik maka pengumuman istirahat dari Konstituante diikuti dengan adanya larangan dari penguasa perang pusat untuk menjalankan segala bentuk aktivitas politik.

Dalam kondisi dan situasi seperti itu maka beberapa tokoh partai politik kemudian mengajukan saran kepada Presiden Soekarno agar dapat mendekritkan untuk pemberlakukan UUD 1945 dan melakukan pembubaran Konstituante. Adanya pemberlakuan kembali Undang-undang dasar 1945 tersebut merupakan jalan yang terbaik untuk dapat mewujudkan adanya persatuan dan kesatuan nasional. Oleh hal tersebut maka di tanggal 5 juli 1959, Presiden Soekarno kemudian mengeluarkan isi dekrit presiden 5 juli 1959 yang memiliki isi tentang:

1. Pembubaran konstituante; 2. Berlakunya kembali UUD 1945; 3. Tidak berlakunya UUDS 1950; 4. Pembentukan MPRS dan DPAS.

Dekrit presiden kemudian mendapatkan dukungan yang penuh dari masyarakat Indonesia, sedangkan untuk kepala staf angkatan Darat (KSAD) kolonel A.H. Nasution telah mengeluarkan perintah harian untuk seluruh anggota TNI-AD untuk dapat mengamankan Dekrit Presiden.

Demikianlah artikel tentang isi dekrit presiden 5 juli 1959, semoga artikel sejarah ini dapat memberikan wawasan tentang isi dekrit presiden 5 juli 1959.

Categories
Uncategorized

Contoh cerpen tentang Pengantin Wanita

Contoh cerpen tentang Pengantin Wanita


10 hari sebelumnya

“Apa gaun ini pantas untukku?”

“Wow!! Kamu sangat cantik!” Puji laki-laki itu. Namun dia benar soal kecantikan yang dimiliki oleh wanita tersebut. Kecantikan yang tersembunyi dibalik peampilannya yang sederhana juga tatapan sendunya.

“Terima kasih. Tapi menurutku semua wanita akan tampak cantik dengan gaun pernikahan manapun. Karena itu sudah kodratnya.” Ujarnya sambil tersipu malu.

“Tapi bagiku kamu pengantin wanita yang paling cantik, Titania.”

“Terima kasih, Adit.”

“Lebih cantik lagi kalo kamu jadi pengantin wanitaku.”

Hening… Titaniamemutar tubuhnya menghadap cermin panjang yang terjulur hingga ke lantai. Disana ia melihat sosok wanita muda berparas mungil dan berwajah manis memakai sebuah gaun putih yang menjuntai kebawah menutupi kakinya. Tiap lekukan tubuh dihiasi oleh manik-manik, corak-corak gambar sulur dan bunga, juga berlian-berlian kecil menghiasi pinggang rampingnya, namun sosok itu terlihat tak sempurna. Bayangan itu terlihat sendu dan ragu dibalik senyumannya.

“Ngomong apa sih kamu? Ngaco deh!” Titania membalas ungkapan Adit dengan senyum mencibir, seolah-olah itu lelucon baginya.

“Aku sungguh-sungguh Tan! Aku itu…”

“CUKUP!!”ucapnya dengan wajah dingin.

“Aku harap kamu berubah pikiran.”

Titania terdiam mendengar Adit. Bahkan ia sendiri sebenarnya ragu. Ragu dengan perasaannya. Tapi ia tidak bisa mundur. Azka adalah laki-laki yang tepat untuknya. Hanya dia yang mau menerima kondisinya dan mengerti bagaimana kekurangannya. Hanya Azka yang membuat Titania menerima masa lalunya.

Hanya Azka.

Iya. Adit belum tahu siapa dirinya. Belum tentu juga Adit akan tetap menyukai Titania jika ia tahu masa lalunya. Tapi untuk saat ini, hanya untuk saat ini, Titania hanya ingin melihat Adit. Hanya melihatnya sebagai seorang teman.

“Makasih udah nemenin hari ini.” ucapnya setelah berganti pakaian.

“Sama-sama. Aku senang bisa bantuin kamu. Jangan sungkan lagi buat minta tolong! —

“…dan yang tadi itu,”lanjutnya,”Omonganku, tolong lupain! Aku seharusnya gak ngomong gitu. Itu bikin kamu gak nyaman. Maaf Tan, aku tadi hanya terbawa perasaan sesaat.”

Hanya perasaan sesaat katanya?pikir Titania.

“Abis ini kamu mau kemana, Tan?” tanya Adit lagi.

“Aku mau dinner bareng Azka. Kamu mau gabung sama kita? Yaa… itung-itung sebagai ucapan terima kasih karena udah bantuin buat hari ini.”

“Thanks, tapi aku ada janji sama temenku malam ini.”

“Kalo gitu aku pergi dulu. See you Dit.” Ujarnya seraya tersenyum dan masuk kedalam taksi.

Adit menatap kepergian Titania. Dalam hatinya berharap bahwa taksi itu akan berhenti dan Titania akan keluar dari taksi. Kemudian ia akan berlari pada Adit, namun itu hanyalah khayalan semata. Titania takkan berhenti. Tidak akan.

7 hari sebelumnya

“Woyy…bengong aja lu!!”

“Apaan sih Dara? Ngagetin aja deh!”

“Abis lo ngapain bengong di depan rumah malam-malam begini? Kesurupan tau rasa loh!!” ujarnya seraya menyambar biskuit.

“Aku lagi mikirin sesuatu!” jawab Titania yang terus memandang jauh kedepan.

“Apaan? Cerita dong?”

“Kamu tau’kan kalo aku ketemu sama Adit lagi sebulan lalu dan sebulan itu kita cukup deket. Gara-gara itu aku jadi ngerasa bingung sama perasaanku sendiri. Aku gak tau apa ini karena keadaan atau memang dari dulu aku gak pernah berhenti suka sama Adit?

“Kamu tau sendiri kalo Adit itu cinta pertamaku dan cuman dia cowok yang bikin aku nyaman, Ra. Disisi lain, aku gak bisa milih dia karena sekarang ada Azka. Aku gak bisa tinggalin Azka, dia selalu ada pas aku lagi terpuruk dan bahagia. Aku juga ngerasa nyaman banget sama dia.”

“Terus perasaan lo sendiri gimana?”

Titania menoleh dan berkata, “Perasaan gimana maksud kamu?”

Dara menghembuskan nafas berat kemudian ia meletakkan toples berisi biskuit itu ke atas meja. “Perasaan lo ke Azka gimana? Terus mana yang lebih lo cintai? Azka atau Adi?”

“Aku…” Titania menundukkan kepalanya, seolah-olah jawaban itu ada dibawah,”lebih cinta sama Azka. Tapi aku masih suka sama Adit.”

“Yaelah…. Menurut gue nih, mending lo pilih Azka daripada Adit. Karena Azka udah tau seluk beluk kehidupan lo, nah Adit sendiri belum tahu’kan kehidupan lo seperti apa? Gue sih khawatirnya Adit gak bisa nerima lo apa adanya.”

Titania terdiam memikirkan pendapat Dara dalam-dalam. Aku juga mikirnya gitu, Ra.

“Tapi gimana kalo akhirnya Adit mau nerima aku? Beberapa hari yang lalu dia bilang kalo berharap banget aku berubah pikiran.”

“Whatt??? Serius dia ngomong gitu?”

Titania mengganggukan kepalanya singkat.

“Ya udah deh. Gak usah mikirin hal itu! lo tuh udah mau nikah sama Azka jadi gak boleh mikir yang macem-macem.” Dengan lembut Dara menarik tangan Titania dan menyakinkannya, “Percaya sama gue! Azka itu yang cowok yang paling baik. Dia bakalan bahagian lo, mencintai lo dan ngejagain lo. Jujur, kalo bukan Azka gue gak akan rela lepasin lo. Karena mengingat masa lalu lo itu bikin gue skeptis dan gak percaya sama cowok. Gue sayang banget sama lo Tan, lo kayak saudara gue sendiri. Meskipun gue gak ngalamin yang elo alamin tapi sebagai sahabat yang hampir 10 tahun kenal sama lo, gue ngerasain yang elo rasain.”

Mata Titania berkaca-kaca.Ia tak dapat berkata-kata, terharu dengan ucapan sahabatnya. Dara memang bukan saudaranya tapi ia dan Dara sudah berbagi banyak hal. Meskipun banyak perbedaan diantara mereka namun hal itu tidak membuat persahabatan mereka goyah. Sebaliknya, persahabatan mereka tetap awet sampai sekarang.

“Gue pengen lo dapetin yang terbaik karena elo pantes dapetin semua itu. Elo udah ngalamin hal-hal buruk dan sekarang waktunya elo bahagia, Tan.”

Airmata Titania tak dapat ditahan lagi. Namun itu bukan airmata kesedihan. Itu adalah airmata bahagia dan syukur. Dia beruntung memiliki Dara, Azka dan Ibunya. Sedangkan Adit sendiri, anggap saja ia adalah bonus dari Tuhan.

“Makasih banget Dara. Makasih banget udah mau jadi sahabatku. Aku bener-bener gak tau harus ngucapin apa setelah semua yang kamu kasih ke aku…”

“Ssshhh… udah-udah.” Ujar Dara sambil menepuk-nepuk punggung Titania dengan lembut, mencoba untuk menenangkannya.

“Sekarang elo masuk gih! Udah malem dan dingin. Elo itu harus jaga kesehatan, sebentar elo nikah dan gak lucu’kan pas malam pertama elo sakit.” Ujar Dara lagi.

Spontan Titania melepas pelukannya dan mencubit tangan Dara. “Aww… gila lu ya! Kurus begitu nyubitnya sakit amat. Dapet tenaga dari mana sih loh?”

“Abis kamu tuh mesum. Cewek gak boleh mesum tau!” bela Titania manyun.

“hahaha… mana ada peraturan kayak gitu? Gak masalah cewek mau mesum atau enggak yang penting jangan dilakuin. Kalo cewek didunia ini pada polos kayak elo, gak bakal ada yang namanya pelacur.”

“Tau ah! Bodo. Aku mau masuk aja deh.” Kata Titania berlalu.

Dara terkekeh melihat tingkah laku sahabatnya seperti anak kecil itu. Walau Titania terlihat dewasa dan matang, tetapi tingkah lakunya masih seperti anak kecil yang mudah untuk digoda. Apalagi kalau mereka sudah berdebat, maka Titania-lah yang akan kalah dan kehabisan kata-kata melawan Dara.

Elo harus bahagia Tania! Harus! Gue gak bakal biarin elo disakitin sama cowok lain lagi. Gue janji Tania!, ucap hati Dara.

Hari Pernikahan

“Udah cantik kok! Gak usah diliat lagi, ntar kacanya pecah loh!” Dara tiba-tiba masuk ke dalam kamar rias pengantin.

“Wuiihhh… ternyata kamu bisa pake rok juga? Ciee… jadi keliatan cakep dan kayak cewek loh!!” goda Titania.

“Sialan loh! Elo pikir selama ini gue bukan cewek, gitu?”

Titania menjawab dengan sekali anggukan dan tersenyum lebar. “Kamu cantik Dar..”

“Elo juga. Ya bukan mau bilang kalo tiap hari elo itu keliatan jelek tapi kali ini elo cantik. Bener-bener cantik kayak bidadari keluar dari rumah sakit jiwa. Hhahaha”

“Ihhh… Dara. Kalo mau muji, muji aja napa. Gak pake ngejek gitu. Nyebelin tau!” dengus Titania seraya melemparkan bantal kecil.

“weiittss… Seorang pengantin itu gak boleh manyun gitu dong! Ini’kan hari yang paling membahagiakan.” Dara masih terlihat kesal,” Iya deh, iya. Elo pengantin paling canti sedunia akhirat dah. Puas lo!”

“Hehehe… gak pake akhirat kali.”

“Gimana perasaan elo?”

“Gak usah ditanya. Deg-degan tau!”

“Hehe.. iya juga ya. Oh iya, gue denger elo dapet telpon dari Adit ya?

Pasti Mama yang ngasih tau. Pikir Titania

“Iya, itu dari Adit, Ra.” Jawab Titania dengan suara mengecil.

“Ceritain! Apa aja yang kalian omongin?”

Titania menghela nafas panjang, “Dia masih belom nyerah, Ra. Dia bilang bakalan nunggu di bandara kalo aku milih dia. Tapi kalo enggak, dia bakal pergi dan gak bakal balik lagi.”

“Wah. Gila tuh orang! Udah tau elo gak milih dia masih aja ngejar-ngejar. Dasar keras kepala banget!” lanjutnya, “Tapi elo baik-baik aja’kan, Tan?”

Titania menggelengkan kepalanya. “Tenang aja. Meskipun masih ada perasaan suka sama Adit tapi bukan berarti aku bakalan lari dari Azka.”

“Tania…” seru seorang laki-laki.

“Adit? Ngapain kamu disini? Bukannya kamu itu …”

“Enggak. Aku ini’kan diundang sama kamu. Masa kamu lupa? Gak mungkin dong aku gak menghadiri acara pernikahan kamu, yang MUNGKIN bakalan batal.”

“Tunggu dulu-tunggu dulu! Elo jangan kepedean gitu deh! Titania gak bakal milih elo. Mending elo keluar deh daripada gue teriak terus elo digebukin.”

“Gue gak nanya sama elu Dara. Mending elu diem aja deh. Ini urusan gua sama Titania.”

“Eh elo itu res….”

“Udah, Ra. Aku bakalan nyelesein urusan ini. Kamu ke depan aja gih.”

“Tapi Titania, gue gak bisa ninggalin elo sama cowok beginian gue gak percaya sama dia!”

“Kalo gitu percaya sama aku, Ra!” ucap Titania berusaha menyakinkan.

Setelah menghembuskan nafas berat, alhirnya Dara menuruti ucapan Titania. Hanya tinggal dirinya dan Adit sekarang yang berdiri memandangi dirinya.

“Silahkan duduk, Dit!” ucapnya memecah keheningan.

Titania berdiri, mengambil tempat duduk didepan Adit. “Aku ingin memberitahumu sesuatu. Dan mungkin ini akan menjadi alasanku kenapa aku tidak memilihmu.”

“Baiklah. Aku akan mendengarkanmu.” Jawab Adit penuh kesiapan.

“Kamu masih ingat kapan kita ketemu pertama kalinya? Di kampus’kan? Ketika kamu berfikir baru menyukai, aku udah suka sama kamu pas kedua kali aku lihat kamu. Aneh ya?? Tapi begitulah nyatanya. Aku gak tau kenapa? Kehadiran kamu bikin hidupku lebih cerah daripada sebelumnya. Setelah semua masa-masa buruk itu tapi bukan itu yang ingin aku katakan,-

“Aku gak perawan lagi, Dit. Aku adalah seorang anak yang jadi korban kekerasan dan pelecehan oleh mantan ayah tiriku. Aku mengalami trauma berat dan dirawat di rumah sakit. Aku hampir sembuh namun gagal setelah aku diberitahu bahwa aku sedang hamil. Bayangin aja aku harus mengandung anak dari laki-laki bajingan yang udah merusak kehormatanku dan hidupku. Aku benci! Bener-bener benci bajingan itu, dan itu bikin aku benci dengan semua laki-laki. Aku putus asa dan merasa muak dengan hidup jadi aku mencoba untuk bunuh diri. Tapi gagal. Kemudian aku keguguran. Dokter bilang aku tidak bisa punya anak lagi. Aku hancur. Bener-bener hancur dan gila. Wanita mana yang sanggup nerima semua peritiwa yang mengerikan itu. Tepat saat itu Azka datang. Dia seperti cahaya matahari yang menghangatkanku. Dia selalu membuatku merasa nyaman saat aku ketakutan. Aku sembuh dari traumaku, itu karena bantuan Azka. Cuman Azka yang aku butuhkan. Meskipun masih ada rasa untukmu, tapi rasa nyamanku dan butuhku lebih besar daripada rasa menyukaimu.

“Setelah semua yang aku ceritakan, apakah kamu masih sanggup untuk menerimaku? Tidak’kan?” Titania berdiri kemudian berbalik menuju pintu, “Kalau begitu aku harus pergi. Acaranya sudah dimulai. Selamat tinggal Adit.” Lanjutnya.

Adit masih terdiam mendengar cerita Titania. Ia tidak tahu harus bagaimana. Apakah ia harus menolak untuk percaya atau menerima cerita itu? Kenapa dia merasa Titania tidak layak untuknya? Apakah sebesar itu perasaannya? Apakah ia menyukai Titania karena syarat dan alasan? Adit masih termangu, menatap dunia luar dari jendela kecil tempatnya ia berdiam diri. Titania pantas mendapatkan Azka, ucapnya dalam hati.

Categories
Uncategorized

Contoh cerpen tentang Happy Family

 Contoh cerpen tentang Happy Family

“Tapi ayah kan udah janji buat jemput Kania hari ini.”

“Iya Kania, tapi meeting nya juga mendadak dan penting! Gimana kalo kak Alfa aja yang jemput?”

“Kak Alfa? Mau seribu kali Kania telfon juga enggak bakal diangkat sama My Busy Brother. Ya udah, yah. Biar Kania pulang sendiri, walau nunggin angkot seribu tahun lamanyaaa.” Telfon pun langsung kumatikan. Begitulah perdebatan yang biasa terjadi antara aku, ayah, dan tentu saja dengan kakakku tercinta, kak Alfa.

Dulu sebelum kecelakaan yang menyebabkan mama meninggal, kami adalah keluarga yang harmonis bahkan sangaat bahagia diantara keluarga yang lain. Tapi setelah meninggalnya mama everything has change. Ayah yang dulu selalu bisa menyempatkan makan malam dirumah meskipun sibuk. Sedangkan ayah yang sekarang adalah ayah super sibuk dengan pekerjaannya tanpa mempedulikan anak-anaknya. Alhasil, kak Alfa yang dulu kusebut malaikat pelindungku berubah menjadi monster yang kelaparan, galak, egois, dan menyebalkan. Mereka berdua yang aku harapkan bisa memberikan kasih sayang seperti mama malah sibuk dengan urusan masing-masing. Semua yang berubah ini membuatku menjadi seorang yang dingin, ketus, dan labil, begitu orang lain bilang. Namun semua sifat burukku itu, seketika sirna saat aku bersama dengan Dino, sahabatku yang selalu menjadi pendengar dan penasehat yang sangat baik. Kami satu sekolah saat SD dan SMP. Tapi di SMA ini kami berbeda sekolah, meskipun begitu dia setia menungguku di depan gerbang saat kuminta untuk dijemputnya.

“Hallo, Dino kamu dimana?”

“Hei, Kania! Kenapa emangnya?”

“Biasa ayah enggak jadi jemput, padahal aku pengin ke toko buku. Kamu dimana sekarang, Dino?”

“Oh seperti itu. Aku ada di belakangmu.” Aku pun langsung menengok kebelakangku, dan terkejut sembari menutup telfon ketika kudapati Dino yang tersenyum dengan motornya.

“Secepet itu kamu datang? Tahu darimana aku udah pulang? Kan aku belum telfon kamu!”

“I always here everyday, Kania. So, jadi enggak ke bookstore nya?” katanya sedikit menggoda. Membuatku menghela nafas.

“Okey, fine. Terimakasih sudah setia menunggu saya sampai anda berlumut, Dino.” Balasku.

“Sama-sama, Kania. Come on “cold girl” we should go now!” katanya semangat sambil memberikan helm kepadaku. Aku hanya membuat senyum paksa dan naik di jok belakang motornya.

Saat di toko buku, aku merasa seperti anak kecil yang sedang bahagia karena dituruti keinginannya. Aku sangat suka melihat buku-buku tersusun rapi dan warna warni. Dino selalu menemaniku ke toko buku, meskipun tidak membeli buku tapi hanya melihat-lihat saja. Jika tertarik maka akan kubeli.

“Jadi kenapa ayahmu enggak jadi jemput?” katanya saat menemaniku melihat-lihat novel.

“Important meeting. Biasalah pasti kayak gitu.”

“Terus gimana? Udah punya temen, Kan?”

“I haven’t friends even a friend. Mereka lihat aku aja sinis banget. Mereka itu egois. Enggak enak temenan sama orang yang egois.” Aku mendengar dengusannya.

“Masa sih? Pasti ada kok yang baik, trust me!” Aku mengangguk lemah dan berharap yang mengucapkan seperti itu adalah kakakku. Selama ini Dino yang menguatkan aku setelah mama meninggal.

Hari ini aku malas sekali melangkahkan kaki masuk kelas. Pikiranku sudah yang macam-macam. Membayangkan tatapan sinis mereka di kelas saat aku masuk kelas. Namun, pikiranku itu salah. Saat masuk kelas, tiba-tiba..

“Hai Kania! Selamat pagi!” sapa Iris kepadaku. Aku refleks langsung terkejut dan beribu pertanyaan tersimpan di benakku.

“Mmm se..lamat pagi, Iris!” jawabku agak canggung.

“Duduk disebelahku, yuk!” dia menuntunku kearah mejanya. Aku yang masih bingung hanya mengikutinya.

“Iris, kenapa kamu aneh sekali hari ini?” tanyaku spontan saat kami berdua ke kantin.

“Hmm begini. Aku memperhatikanmu dari awal. Kamu selalu duduk sendirian, tidak mau bergabung dengan teman yang lain, dan pendiam sekali. Itu yang membuatku penasaran kepadamu. Sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Mungkin aku bisa membantumu dan menjadi teman curhatmu. Kamu bisa menumpahkan keluh kesah kepadaku apapun itu. Orang-orang bilang aku ini pendengar yang baik lho.” Jelasnya panjang lebar.

“Terima kasih, Iris. Sebenarnya aku masih belum bisa melupakan kejadian kecelakaan yang menyebabkan mama meninggal. Ini yang membuatku jadi lebih tertutup, pendiam, dan dingin. Maaf ya dan tolong jangan dimasukkan hati, aku orangnya suka refleks langsung bilang tanpa mikir.” Kataku tenang dengan senyum kepada Iris. Sejak tadi kami bercerita dan aku merasa nyaman berteman dengan Iris.

“Jadi begitu ceritanya. Menurutku itu wajar dan aku bisa bantu kamu ngelupain kesedihan itu. Tapi aku yakin kok, pasti ada sisi baik dari kamu.” Katanya lembut sambil memegang kedua bahuku. Aku pun tersenyum lagi dibuatnya.

Aku keluar dari gerbang sekolah dengan hati yang bahagiaaa sekali. Baru saja Ayah telfon dan berkata akan menjemputku siang ini. Hal yang jarang sekali terjadi, akhirnya terjadi lagi. Seperti layaknya anak kecil yang berlarian keluar gerbang sekolah untuk menunggu jemputan orang tuanya, itulah aku sekarang

Sudah pukul 4 sore, berarti aku sudah menunggu ayah selama 3 jam. Entah sudah berapa kali aku menelfon ayah dan entah berapa kali juga ayah mengucapkan “sebentar lagi ya, Kania!” Tapi aku masih setia menunggu jemputan ayah walaupun sampai tempat ini benar-benar sepi.

“Udah berapa jam nunggu?” aku tersentak kaget dan menengok ke sumber suara.

“Kak Rudi? Kakak kok belum pulang? Lagi nunggu dijemput juga?” tanyaku langsung.

“Whoa, santai dong tanyanya! Tadi masih ada urusan di OSIS. Mungkin iya, mungkin enggak juga. Oh iya nama kamu siapa ? Aku lupa.” Ujarnya sambil mengambil duduk disampingku.

“Kania” jawabku singkat.

“Jadi ini toh anak IPS yang terkenal dinginnya. Tapi kayaknya kamu enggak dingin deh. Kalo dingin kan pasti kamu udah membeku deh sekarang.” Candaan garingnya membuatku menahan tawa dan akhirnya tidak bisa lagi kutahan. Tiba-tiba saja mobil hitam yang menurutku milik ayah lewat di depan kami. Aku pun berpamitan kepada kak Rudi dan masuk ke jok samping pengemudi mobil.

“Siapa tuh?” goda ayah tiba-tiba.

“Senior kok, ayah.”

“Senior sama junior berduaan gitu?”

“Ayaah, sekolahnya memang sudah sepi dan bukan salah sekolah yang sepi kayaknya. Tapi salah yang jemput mungkin.” Aku sedikit menyindir karena kesal.

“Ya udah deh. Maafin ayah ya, Kania!”

“Iya, yah. Udah biasa kok.”

Aku sengaja untuk berangkat pagi tadi dengan sepeda, karena hari ini aku ingin membuat kejuatan untuk ayah dan kak Alfa. Aku juga tidak ingin bergantung terus pada Dion, kasihan dia sudah mengantarku kemana-mana tanpa upah pula. Kejutan ini karena mereka berulang tahun di hari ini. Sayangnya hari ini aku ada tambahan pelajaran, jadi aku pulang pukul 4 sore. Sepulang sekolah aku langsung menuju toko kue yang tidak jauh dari SMA ku tentu saja dengan sepeda. Aku tidak peduli jalanan dengan debu dimana-mana yang sudah menodai bajuku. Kukayuh sepeda dengan cepat agar sampai tujuan dengan cepat. Akhirnya tidak sampai 5 menit, aku sampai di toko kue itu. Betapa pelupanya aku, jika membeli kue tart harus memesan dulu. Yah, alhasil aku harus menunggu 1 jam sampai kue tart nya jadi.

1 jam kemudian, kue tart sudah terbungkus dengan rapi dan indahnya. Aku segera membayar dan buru-buru kunaiki sepeda untuk segera sampai ke rumah. Semangatku menggebu-gebu untuk segera sampai kerumah dan memberikan kejutan untuk ayah dan kak Alfa. Namun, tiba-tiba…Bruuk… Aku tidak melihat ada batu di depan ku, sepeda yang kubawa membuatku terjatuh dan kakiku pun berdarah. Tapi aku tidak peduli dengan itu. Aku segera membuka kotak yang berisi kue tart tadi dan bersyukur karena kue tart nya masih utuh. Tanpa peduli orang-orang memperhatikanku, sepeda yang terjatuh bersamaku tadi langsung kutegakkan kembali. Tak kapok dengan kejadian baru saja terjadi, aku kembali mengayuh dengan cepat sampai di halaman rumahku. Dengan tergesa-gesa, sepeda kutaruh sembarang, segera kurapikan diriku, dan menyiapkan lilin diatas kue tart yang bertuliskan “Happy Birthday Dad and Happy Birthday Brother”. Tak sabar aku mengetuk pintu. Tapi pintu itu malah terbuka, membuatku mundur ke belakang. Ternyata ayah dan kak Alfa yang sudah berpakaian rapi. Dengan ekspresi nervous karena gagal memberikan surprise, aku mengucapkan…

“Happy Birthday Dad and Happy Birthday My Brother.” Ucapku setengah berteriak sambil mengangkat kue tart. Mereka pun sama terkejutnya dengan aku.

“Kania darimana saja kamu? Lihatlah dirimu yang penuh dengan debu! Ayah ada meeting mendadak. Kita rayakan besok saja ya.” Kata ayah sembari pergi meninggalkan aku yang masih mematung.

“Kak Alfa juga ada janji sama temen. Jagain rumah ya!” katanya santai dan bersikap seperti ayah tadi. Aku sudah menyiapkan semuanya tanpa ada yang menghargai dan aku sudah muak.

“Okey, Kania tahu kalian sibuk.” Teriakku sekencangnya, membuat mereka berdua menoleh.

“Sibuk dengan pekerjaan dan teman-teman sampai tidak pernah ada di rumah sepanjang hari. Kania heran sebenarnya kesibukan apa yang buat ayah sama kak Alfa jadi kayak gini. Bahkan untuk menoleh ke Kania aja jarangnya minta ampun. Kania tahu kesibukan yang dilakuin ayah sama kak Alfa itu buat ngelupain kesedihan tentang mama, kan? Semua juag sedih ayah, kak Alfa dan mama enggak akan pernah bisa dilupain. Setelah mama meninggal, Kania sadar supaya bisa buat keluarga ini jadi harmonis lagi. Tapi kenyataannya kalian semua egois. Enggak ada yang mau dengerin cerita Kania, enggak ada yang nanyain kabar Kania, enggak ada yang peduli sama Kania. Kania enggak butuh uang saku yang lebih dari ayah, Kania butuh ayah sama kak Alfa saat Kania butuh atau paling enggak kita bisa makan malam bareng setiap hari. Itu aja kok. Dan ini Kania buat surprise buat ayah sama kak Alfa supaya sadar kalo Kania sayang banget sama keluarga ini. Tapi semua usaha Kania enggak dihargai sama sekali. Kania cuma pengin semuanya kembali kayak dulu lagi. Itu aja, yah, kak. Selamat bersenang-senang orang-orang sibuk.” Kata-kata itu terucap begitu saja dari mulutku. Selesai menumpahkan semuanya itu, aku berlari tanpa mempedulikan apapun menuju kamarku. Aku menangis tersedu-sedu sambil memegangi lututku yang terluka tadi. Sempat terdengar suara ayah sambil mengetuk pintu kamarku. Namun, tak berlangsung lama suara itu sudah hilang diganti dengan suara mesin mobil yang pergi menjauh. Aku mencoba untuk menenangkan diriku sendiri dan yakin jika aku tidak seorang yang cengeng. Setelah tangisku mulai reda, aku memutuskan untuk membersihkan diri dan membiarkan mimpi membawaku kedalamnya.

Esok paginya aku terbangun karena cahaya matahari yang menyilaukan mata. Saat kubuka benar-benar mataku, kudapati ayah dengan celemek masak dan kak Alfa dengan nampan yang berisi segelas air putih dan sepiring nasi goreng yang baunya menyebar ke seluruh kamarku. Aku masih terheran segera mengumpulkan nyawaku.

“Selamat pagi, Kania!” sapa mereka berdua kompak.

“Se..la..mat pagi, ayah dan kakak !” ucapku masih terbata dan bingung apalagi setelah kejadian kemarin malam yang membuatku semakin awkward.

“Ini nasi goreng istimewa hanya untukmu dan segelas air putih karena katamu itu lebih sehat daripada minuman lain.” Jelas kakak dan memberiku nampan itu.

“dan jika kamu ingin tahu, ayah yang membuat nasi goreng lezat ini.” Tambah ayah. Aku masih belum berbuat apa-apa dan memberikan tatapan “ada apa ini” kepada kedua laki-laki ini.

“Hmm.. Ayah dan kak Alfa ingin meminta maaf kepada Kania. Karena selama ini tidak pernah memperhatikan Kania. Ayah tahu ayah ini adalah ayah yang tidak…”

“Ayaah! Apa ayah tahu? Ayah adalah laki-laki terhebat pertama yang pernah Kania kenal.” aku segera memotong perkataan ayah. Aku tidak ingin ayah menyalahkan dirinya sendiri.

“Kan, kak Alfa juga minta maaf ya. Kakak…”

“Kalo gitu Kania juga minta maaf karena kemarin sempat emosi ke ayah sama kak Alfa. Nah sekarang kita semua baikan yaa!”

“Okay deh. Sekarang saatnya Kania cobain nasi goreng buatan ayah!”

“Gini aja, kita makannya bareng-bareng aja di ruang makan, gimana?” saranku.

“That’s good idea. Let’s go!” kak Alfa yang bersemangat memimpin perjalanan kami sampai ke ruang makan. Aku merasa semua telah kembali, terutama KEBAHAGIAAN walaupun tanpa mama. Tapi aku yakin mama pasti senang melihat kami rukun seperti ini. Setelah makan, ayah mengeluarkan kotak yang baru kusadari adalah kue tart kemarin dari dalam kulkas. Canda dan tawa kami pun kembali juga. Tiada yang bersedih lagi, karena semuanya telah berubah menjadi kebahagiaan yang utuh.

The true happiness come from our family.

Categories
Uncategorized

Contoh cerpen tentang Fallacious

FALLACIOUS
            Hujan turun lagi. Tak cukup deras.
Indah. Menyenangkan. Berdiri memandangi hujan dari jendela kamarku. Merasakan
dinginnya hujan yang merasuki jiwaku. Menghanyutkan dalam lamunan hidup ini.
Memutar ulang video hidup ini. Video yang akan terus tersimpan di dalam memori
hidupku. Tak akan pernah bisa dilupakan. Tak akan.
            “Alin… Ngapain kamu hanya berdiri
saja, melihat air hujan yang turun? Lebih baik kamu lihat jam deh. Sudah jam 06
lewat 15 menit. Kamu masih mau sekolah, kan?” Tegur Kak Fina.
            “Hah? Oh iya. Yaudah kak, kakak
turun duluan aja, aku mau dandan dulu. Hihi..” Ujarku cengegesan.
            Sebenarnya aku tidak perlu dandan.
Untuk apa aku mempercantik diriku, namun penyakit ini terus menghabisi diriku.
Penyakit yang sudah aku derita sejak tahun lalu. Penyakit yang hingga sekarang
tak pernah membuatku percaya ini terjadi padaku. Penyakit yang memburamkan
penglihatanku akan masa depan. Memburamkan hidup ini.
            Aku hanya mengenakan liptint berwarna peach dibibirku supaya tidak terlihat pucat. Mengenakan sedikit
bedak, mengambil tas, lalu menuju ke ruang makan. Di ruang makan, Kak Fina
sudah siap dengan sarapan sehatnya dan juga senyum manisnya.
“Pagi,
kak.” Sapaku.
            “Pagi, sayang. Kamu sarapan dulu,
trus jangan lupa obatnya diminum ya.” Kalimat yang selalu dilontarkan Kak Fina
setiap pagi.
            “Iya, kakakku tercintaaaa…”
            “Oh iya, Lin. Nanti kakak ada acara,
jadi gak bisa jemput kamu. Kamu naik taksi aja, ya. Nanti kakak kasih uangnya.”
Timpal Kak Fina.
            “Acara apa, kak?” Tanyaku.
Kakakku
seorang designer sukses. Dia punya butik yang telah bercabang di beberapa kota
besar di Indonesia.
            “Ada fashion show beberapa koleksi baju kakak. Tenang… Kemungkinan
pulangnya gak terlalu malam. Makan siangnya udah kakak siapin. Kakak pulang
sebelum jam makan malam, kok.” Jelas Kak Fina.
            “Ohhh.. Berangkat, yuk, kak. Udah
jam 06 lewat 30 menit nihh.” Ajakku sembari melihat jam tangan berwarna hijau
tosca milikku.
            “Yaudah. Kamu tunggu diluar dulu,
kakak mau beresin meja makan.” Ujarnya sambil mengambil beberapa piring kotor.
            Jujur, aku kasihan dengan kakakku
yang harus mencari uang untukku, lalu mengerjakan pekerjaan rumah. Aku selalu
ingin membantunya. Namun, Kak Fina selalu marah kepadaku. Setiap aku ingin
membantu, ia pasti berkata, “Gak usah, sayang. Kakak bisa sendiri. Lagipula,
kan, kamu gak boleh capek.” Lagi-lagi karena penyakit ini…
            Tak lama, Kak Fina keluar dari
rumah. Ia segera mengunci pintu, lalu mengedipkan matanya dengan maksud
menyuruhku masuk ke mobil. Aku segera masuk ke mobil berwarna hitam pemberian
Mama dan Papa untuk Kak Fina ini.
            Setelah menempuh perjalanan selama
10 menit, mobil yang kutumpangi ini sudah berhenti di depan gerbang sekolahku.
Aku segera pamit kepada Kak Fina, lalu keluar dari mobil, memasuki sekolahku.
            Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku
dari belakang.
            “Mmm… Maaf, gue mau tanya. Ruang
wakil kepala sekolah dimana, ya?”
            Dari pertanyaan yang dilontarkannya,
aku yakin laki-laki ini anak baru. Tinggi, putih, ganteng. Oh My God!Siapa dia?
            “Hellooo..” Tanpa sadar aku melamun.
            “Eh.. Mmm.. Itu.. Lurus, trus belok
kiri. Ruangannya di samping ruang kepsek. Ada papan nama ruangannya, kok.”
Jelasku.
            “Oh.. Thanks yaa..” Ia langsung
berjalan pergi mengikuti arahanku tadi.
            “Eh.. Eh.. Tunggu! Lo anak baru,
ya?” Aku memberanikan diri untuk bertanya.
            “Iya.” Dia segera berhenti lalu
berbalik badan.
            “Pindahan dari mana?” Tanyaku
penasaran.
            “SMA Putra Bangsa” Jawabnya ramah.
            Kringggggg!!!!
Tiba-tiba bel berbunyi. Hufftt.. Padahal,
baru aja mau gue ajak kenalan
.
            “Oh. Yaudah kalau gitu. Gue ke kelas
duluan ya.” Aku segera berlari kecil menuju kelas.
            Di kelas, aku duduk sendiri. Murid
di kelasku jumlahnya ganjil, dan aku yang harus duduk sendiri. Jam pelajaran
pertama diisi oleh guru matematika yang juga wali kelasku, Bu Aris. Namun, Bu
Aris belum masuk ke kelasku. Tak biasanya Bu Aris terlambat begini…
            Setelah hampir 15 menit kelas
berisik, akhirnya Bu Aris datang. Namun, Bu Aris tidak sendiri. Bu Aris
bersama….
            “Assalamualaikum.” Bu Aris memberi
salam.
            “Waalaikumsalam” Ujar para murid
serempak.
            “Maaf, ya, ibu telat. Kalian akan
punya teman baru. Dia pindahan dari Bandung. Namanya Kelvin. Kelvin, kamu duduk
di samping Alin, ya.” Bu Aris menunjuk bangku di sampingku.
            “Iya, bu” Kelvin segera berjalan ke
arahku.
            Oh..
Jadi cowo ganteng ini namanya Kelvin, toh.. Yes! Bisa PDKT nihhh..
Gumamku
dalam hati.
            “Eh,
lo lagi! Nama lo tadi siapa?” Tanya Kelvin.
            “Alin.” Jawabku ramah. Kelvin hanya
mengangguk-angguk saja.
            Bu Aris segera memulai pelajaran.
Selama pelajaran, aku jadi gak fokus. Selalu terbayang-bayang dengan wajah
ganteng Kelvin. Sedangkan Kelvin, dia dengan serius memperhatikan Bu Aris yang
sedang mengajar. Kayaknya, nih cowo
pinter juga, deh.
Hatiku jadi makin berbunga-bunga.
            Biasanya jam Bu Aris berlangsung
sangat lama. Namun, hari ini sepertinya terlalu cepat. Kelvin benar-benar
mengubah segalanya…
            “Woy! Ngelamun mulu! Mikirin apaan,
sih?” Kelvin membuyarkan lamunanku.
            “Eh.. Mmm.. Ini.. Soal Bu Aris tadi
susah banget. Bingung gue.” Jawabku terbata-bata.
            “Jadi dari tadi lo ngelamunin soal
ini. Ini tuh gampang banget. Sini gua ajarin.” Kelvin langsung menarik buku
catatanku lalu mengajariku.
            Seketika, aku merasa melayang di
udara. Tuh, kan, bener. Dia juga pinter.
Lo gak usah ajarin soal ini. Gue udah paham. Ajari gue cara untuk mencintai lo,
Vin…
            “Woy! Ngerti, gak?” Kelvin
membuyarkan lamunanku lagi.
            “Eh.. Mmm.. Ngerti.. Mmm.. Makasih
ya” Jawabku terbata-bata. Lagi.
            “Eh, kan gue baru pindah kesini.
Nanti pas pulang sekolah, lo mau gak temenin gue ke toko buku? Gue gak tau toko
buku deket sini. Mau gak?” Tanya Kelvin.
            Yes!
Pas banget! Kak Fina, kan, lagi ada acara, jadi gak repot izinnya.
            “Yaudah,
gue mau. Kebetulan juga hari ini gue gak dijemput.” Jelasku.
            “Ok!” Kelvin mengedipkan sebelah
matanya. Membuatku makin melayang di udara.
**
*
Kringgggg!!!
Bel pulang sekolah yang dari tadi ditunggu akhirnya bunyi juga. Aku langsung
memasukkan buku-buku milikku kedalam tas.
“Jadi,
kan, lin?” Tanya Kelvin.
“Jadi.
Yuk!” Ajakku.
“Eh,
tapi kita makan siang dulu, ya. Gua udah laper banget, nih. Ada gak restoran
yang enak deket sini?” Tanya Kelvin sambil memegangi perutnya.
“Ada.
Satu arah juga, kok, sama toko bukunya.”
“Ok!
Yuk!” Aku dan Kelvin langsung jalan berdua keluar dari kelas menuju mobil
Kelvin.
Di
mobil Kelvin, kita banyak berbincang-bincang. Bertanya tentang satu sama lain.
Tertawa. Bercanda. Melupakan segalanya. Merasa bahwa dunia hanya milik kita
berdua. Saat di restoran pun tak kalah serunya.
Di
toko buku, Kelvin sangat serius memilah-milih buku.
“Cari
buku apa, Vin?”
“Beberapa
buku pelajaran tambahan, sama buku pengetahuan umum.” Jawabnya sambil memilah
buku.
Aduhh.. Kelvin makin
ganteng aja kalau lagi bingung milih buku gitu.
“Lin?
Udah milih bukunya? Gue udah, nih.” Kelvin mengejutkanku.
“Udah.
Yuk, ke kasir!” Ajakku.
Karena
terlalu asik memikirkan Kelvin, aku sampai tidak sadar akan 2 hal. Yang
pertama, aku tidak sadar kalau hari sudah senja. Jam di tanganku menunjukkan
pukul 4 sore. Yang kedua, diluar sedang hujan. Ternyata, perasaan ini sampai
menulikan telingaku. Hujan sederas ini aku sampai tidak mendengarnya.
“Lin,
lo tunggu sini, ya.” Kelvin memberikan plastik berisi buku yang kami beli tadi,
lalu segera menuju ke parkiran mobil.
Tak
lama, mobil Kelvin berhenti di depanku. Aku segera masuk ke mobil Kelvin.
Kelvin basah kuyup karena hujan-hujanan dari depan toko buku hingga ke parkiran
mobil. Biarpun basah kuyup, masih tetep
ganteng aja, sih, lo…
Aku
segera menunjukkan jalan pulang ke rumahku. Kelvin mengendarai mobilnya sesuai
dengan arahanku. 20 menit kemudian, mobil Kelvin berhenti di depan rumahku.
“Makasih
ya, Lin, buat hari ini.” Kelvin memberikan senyum manisnya.
“Iya.
Maksasih juga, ya, makan siangnya dan bukunya.” Aku balik memberikan senyum
termanisku.
“Eh,
Lin, tunggu! Muka lo kenapa pucat gitu?” Kelvin memperhatikan wajahku.
“Hah?
Enggak, kok. Gue gak kenapa-napa. Gue duluan, ya.” Aku segera turun dari mobil
Kelvin.
Belum
sempat aku membuka pintu rumahku, aku merasa pusing. Pusing sekali. Dan
tiba-tiba, semuanya gelap.
**
*
Aku
membuka mataku pelan-pelan. Ada Kak Fina dan Kelvin disampingku.
“Kak?
Aku dimana? Aku kenapa?” Tanyaku heran.
“Kamu
dirumah sakit. Dokter bilang, penyakit kamu makin parah. Kamu pasti terlalu
capek dan gak minum obat.  Apa aja, sih,
yang kalian lakukan berdua?” Kak Fina menangis.
“Maaf.
Ini semua salah saya. Saya yang mengajak Alin ke toko buku. Saya gak tau kalau
Alin gak boleh terlalu capek.” Kelvin berbicara dengan nada sedikit bersalah.
“Eh,
Kelvin! Dengar, ya! Kakak gak suka kalian berdua berteman, apalagi lebih dari
itu! Kamu bukan anak baik-baik! Kalau memang kamu anak baik-baik, kamu sayang
sama Alin, kamu seharusnya jaga dia sebaik-baiknya! Enggak ngajak Alin pergi
lama-lama!” Kak Fina memarahi Kelvin sambil nangis.
            “Udahlah, kak. Ini semua bukan salah
Kelvin. Ini salah aku. Aku yang gak ingat penyakit aku.” Aku berbicara dengan
Kak Fina dengan nada sedikit membentak.
            “Lebih baik kamu pulang! Kakak gak suka
kamu masih dekat dengan Alin!” Kak Fina menunjuk pintu keluar ruangan.
            “Ok, kak. Saya akan pulang. Tapi,
saya laki-laki yang bertanggung jawab. Tunggu saya besok!” Kelvin pergi dengan
kalimat yang menggantung.
**
*
            “Alin! Kakak punya kabar bahagia.
Ada yang ingin mendonorkan hatinya untuk kamu! Siang ini, kamu akan operasi,
dan kamu akan sembuh. Kamu siap, kan?” Kak Fina mengejutkanku saat aku bangun.
            “Siapa, kak?” Tanyaku heran.
            “Pendonor tidak mau dikasih tau
identitasnya. Yang terpenting, kamu siap, kan?” Tanya Kak Fina bersemangat.
            “Siap, kak! Siapapun dia, aku
berterimaksih banget ya. Dia baik banget!” Aku ikut bersemangat. Kak Fina
memberikan senyum manisnya.
*
* *
            Aku membuka mataku. Ada Kak Fina.
            “Hai, sayang. Gimana, kamu agak
enakan?” Tanya Kak Fina.
            “Mmm.. Iya, kak. Kak.. Mmm.. Kelvin
gak jenguk aku?” Tanyaku heran. Tiba-tiba, aku ingat dengan Kelvin.
            “Mmmm.. Dia.. pulang ke Bandung.”
Jawab Kak Fina terbata-bata.
            “Loh, kok gitu, sih? Dia seharusnya
jenguk aku tiap hari. Nerima aku apa adanya. Sekarang, kan, aku udah sehat.
Cuma gara-gara aku penyakitan, dia ninggalin aku. Jahat! Gue benci sama lo,
Vin!” Kesalku.
            “Kamu jangan benci gitu sama dia.
Dia orang terbaik buat kamu.”
            “Maksud, kakak?” Tanyaku heran.
            Bukannya menjawab, Kak Fina malah
meninggalkanku sendirian.
*
* *
            Setelah beberapa hari dirawat, aku
akhirnya dibolehkan pulang ke rumah. Betapa rindunya aku dengan rumah ini.
Sekarang, aku benar-benar ingin melupakan Kelvin. Namun, tak pernah bisa.
Entahlah. Seperti ada yang selalu membuatku mengingat dan mengingatnya lagi.
            Aku mengecek setiap sudut dirumah.
Melepaskan rasa rinduku. Yang pertama, adalah kamarku. Tidak ada yang berubah.
Lalu, yang kedua, kamar Kak Fina. Aneh. Banyak foto-foto di kamar Kak Fina. Foto-
foto yang dibingkai indah, diletakkan di atas meja. Foto seorang laki-laki
sepertinya. Aku mendekati salah satu foto itu. Astaga! Foto Kelvin! Banyak
sekali! Ada sebuah surat tergeletak dibawah salah satu foto Kelvin. Aku membuka
surat itu.
Dear Alin,
Mungkin saat kamu membaca surat
ini, aku sudah tidak ada lagi. Aku sengaja tidak memberitahumu terlebih dahulu,
karena aku hanya ingin kamu tidak memikirkan ini. Aku hanya ingin membuktikan
sama kamu dan kakakmu, kalau hanya aku yang pantas untukmu. Aku yang terbaik
untukmu. Gak ada yang lain. Aku sudah memikirkan ini matang-matang. Semua ini
kulakukan karena aku sayang sama kamu. Sejak pertama kita bertemu, aku sudah
melihat sesuatu yang berbeda pada diri kamu. Entah apa itu. Biarpun aku udah
gak disamping kamu lagi, aku akan selalu jagain kamu. HATI AKU, SELALU ADA BUAT
KAMU…
Salam cinta dan sayang,
Kelvin
            Ini
tidak mungkin. Jadi, Kelvin yang mendonorkan hatinya untukku?
            “Oh. Kamu udah baca surat itu, ya?
Maaf, kakak gak kasih tau kamu dari awal. Kelvin yang suruh. Awalnya, kakak gak
mau Kelvin mendonorkan hatinya buat kamu, karena kakak tau kamu sayang sama
dia. Tapi, Kelvin maksa. Dia ingin buktiin kalau emang dia yang terbaik buat
kamu. Kakak masang foto Kelvin di kamar kakak, sebagai tanda kalau kakak juga
yakin, Kelvin yang terbaik untuk kamu.” Kak Fina memelukku erat-erat.
Categories
Uncategorized

Contoh Cerpen tentang kehilangan

Contoh Cerpen tentang kehilangan

“LOSE”

Aku kehilangan sosoknya.

Sosok paling ceria yang pernah kutemui.

Dia satu-satunya gadis yang paling mengertikanku, meskipun aku selalu mengabaikannya.

Dia yang masih tetap tersenyum, meski aku menyakiti hatinya.

Dia yang selalu mengoceh sepanjang waktu, meski aku hanya diam tak memperhatikan ucapannya.

Dia adalah gadis yang sangat mencintaiku, meski dulu aku tak menyukainya.

Aku tak menyukai tingkahnya yang baik padaku.

Aku tak menyukai senyumnya yang terkadang tampak menyebalkan di mataku.

Aku tak menyukai suara rajukan manjanya yang selalu membuatku menutup kedua telingaku saat mendengarnya.

Tapi. . . . . Kini aku merindukannya.

Aku merindukan sosoknya, setelah dia pergi.

Dia pergi sebelum aku memberitahu yang sebenarnya padanya.

Pada. . Kania.

—oOo—

Namanya Kania Tasaya Kaneta. Aku mengenalnya sejak kami sekelas, tepatnya 2 tahun yang lalu. Entah kebetulan macam apa, yang membuat aku selalu sekelas dengannya hingga kami kelas 3 SMA. Itulah yang membuat aku selalu berfikir hal aneh itu.

Jika ada keramaian, di situ pasti ada Kania. Terutama pada saat acara perlombaan di sekolah kami. Kania akan berada di barisan penonton paling depan, dan berseru meneriaki orang yang dia kenal yang ketika itu menjadi peserta lomba. Dia akan berteriak paling keras dengan suara cemprengnya tanpa menghiraukan rasa malunya. Itulah, Kania. Gadis ceria dan terheboh yang pernah kukenal selama hidupku.

Waktu itu, aku hanya diam, tidak memperhatikannya berteriak heboh di bangku penonton. Aku hanya menggelengkan kepalaku, bila melihat tingkah gadis itu.

Aku bahkan masih mengingat dengan jelas kejadian saat perlombaan yang diadakan sekolah pada musim gugur lalu.

Hari itu pertandingan basket, dan aku diamanahi tugas sebagai kapten tim basket sekolah kami. Saat pertama kali aku memasuki lapangan, aku dikejutkan oleh tingkah konyol gadis itu. Bagaimana mungkin kusebut hal itu tidak konyol? Kania lagi-lagi duduk di baris penonton terdepan bersama dua sahabatnya. Bella dan Angel. Mereka bertiga memakai baju berwarna merah terang dan berdandan heboh, sambil meneriaki tim kami. Sedangkan para siswa lain, hari itu mereka mengenakan baju olahraga berwarna putih. Sangat kontras, bukan?

Satu lagi yang membuatku berdecak sebal kala itu. Kania membawa spanduk besar bertuliskan “Defan, Saranghae!” sambil terus memegangnya tanpa merasakan lelah sedikitpun. Tiga gadis itu tidak memperdulikan tatapan siswa dari sekolah kami bahkan dari SMA lain ynag menghujami mereka. Mereka tetap saja melakukan aksi konyolnya.

Jujur, aku merindukan suara cemprengnya yang meneriakiku, ralat, menyemangatiku, saat itu.

—oOo—

Kania adalah salah satu murid berprestasi di kelas. Dua tahun berturut-turut, dia menduduki peringkat 2 di kelas kami. Sedangkan aku, selalu berada tepat di bawahnya. Itulah yang membuat semua murid akhirnya ramai-ramai menjodohkan kami, dan itu berhasil. Kania benar-benar menyukaiku. Aku tidak terlalu menganggap serius ejekan teman-temanku di kelas. Toh, berita itu bukan kabar besar. Tetapi, Kania menganggapnya serius, dia secara terang-terangan menunjukan perasaannya padaku sejak kami masih kelas 1 SMA.

Dia begitu mencolok di kelas kami. Guru-guru sangat mengenalnya, dan akibatnya, dia yang paling sering ditunjuk. Pada saat di depan kelas, dia akan dengan senang hati memamerkan senyum manisnya, dan dengan percaya diri menjawab bahkan menjelaskan materi pelajaran yang dibahas. Kania suka menjadi pusat perhatian.

—oOo—

Kania mempunyai suara yang merdu dibalik teriakan cemprengnya yang memekakan telinga orang yang mendengarnya. Dia pandai bernyanyi, terutama saat menyanyikan lagu Korea. Kania sangat menyukai segala hal yang berbau negeri ginseng tersebut.

Setiap malam, dia juga rutin menelponku. Meskipun aku mengabaikan telepon darinya, dia tidak menyerah. Bahkan hingga missed call mencapai puluhan dia tetap memaksa agar aku mengangkatnya. Dan akhirnya, aku menyerah, dan dengan terpaksa kuangkat telepon dari Kania.

Jika dia sudah lelah mengoceh lewat telepon, dia akan mengeluarkan kalimat andalannya yang bisa membuatku menanggapinya kemudian, meski enggan.

“Aku kan udah bilang sama kamu, kalau orang yang jarang berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang lain itu bisa ngerusak otak. Nanti kalau otak kamu korslet, gimana?”

Awalnya aku hanya menganggpa itu angin lalu. Namun, setelah sering aku mendengar kalimat itu, diam-diam aku mulai mencari tahu. Berawal dari iseng ingin mencari tahu, aku menemukan sebuah artikel di internet yang membenarkan ucapan Kania. Bahwa kurang berkomunikasi akan menyebabkan kerusakan jaringan pada otak.

Terkadang, di dalam telepon itu dia bernyanyi untuk menghilangkan rasa bosannya karena aku terus bertingkah acuh padanya. Tetapi, tidak ada yang tahu, jika secara tak sadar, aku menekan tombol ‘rekam’ saat mengangkat telepon darinya. Hingga hasil rekaman itu menumpuk di memori ponselku tanpa ada niat untuk membukanya.

Kini, hampir setiap malam, aku menyetel rekaman suara Kania yang kurindukan.

—oOo—

Setiap pagi, tepatnya saat istirahat pertama, Kania selalu menyempatkan untuk menghampiriku yang duduk di depannya. Dia akan terburu-buru sebelum aku meninggalkan kelas, lalu menyerahkan sekotak bekal berisi bento. Meski aku selalu menolak pemberiannya, tetapi gadis itu tetap kekeuh, dengan keras kepalanya memaksaku. Dan aku lagi-lagi menyerah setelah mendengarnya merengek seperti bayi yang meminta permen pada ibunya.

Kuakui, Kania pintar memasak. Tapi, mengapa dulu aku selalu menolak makanannya, dan memberi makanan itu pada teman-temanku, tanpa menyentuhnya sama sekali. Itu dulu, ketika kami kelas 1. Aku bahkan tidak pernah menyentuh atau merasakan bento itu sedikitpun. Kania pernah memergokiku ketika aku melempar sekotak bento itu pada teman-temanku ketika di kantin, dulu. Kulihat dia kecewa melihatnya. Tetapi keesokan harinya, dia masih tetap memberiku kotak dengan makanan yang sama.

Terkadang aku heran, gadis itu tidak pernah merasakan rasa sakit, atau… memang dia terlalu pandai menutupi perasaanya pada orang lain di sekitarnya? Aku salut terhadap sikapnya. Aku juga berfikir, aku dapat menyebutkan semua kegemarannya, tingkah dan polah gadis itu, kebiasaannya ketika di kelas, bahkan mungkin yang tidak disadari gadis itu. Apa mungkin, aku telah mengamatinya jauh sebelum dia menyukaiku? Dan tanpa aku sadari, dari dulu, pertama kali aku mengetahui namanya saat perkenalan di kelas, aku sudah menaruh hati padanya. Pada gadis itu, Kania.

—oOo—

Hal yang tidak kuduga sebelumnya, terjadi pada Kania. Pagi itu, kulihat ada sesuatu yang aneh menimpa gadis itu. Wajahnya terlihat murung, tidak seperti biasanya. Kania yang setiap pagi menyapaku, pagi itu dia hanya diam menunduk di bangku kelasnya. Aku bingung, tapi terlalu gengsi untuk menanyakan kabar gadis itu. Jadi aku juga diam, duduk di depan gadis itu, dengan perasaan cemas yang berkecamuk di dada.

5 menit sebelum bel berdering, dia keluar dari kelas. Aku masih tetap diam, tak bersuara. Sekilas, saat gadis itu melewati kursiku, aku melihat wajahnya yang cukup pucat. Dia menunduk, tidak menghiraukan pertanyaan teman-temannya yang menghalangi jalannya. Lalu menghilang ditelan pintu kelas. Dan aku masih tidak melihatnya hingga pelajaran pertama berakhir.

Aku memang lelaki pengecut. Hati dan bibirku tidak sejalan. Meski aku ingin menanyakan keadaan gadis itu, nyatanya bibirku hanya diam, bertindak acuh seolah tidak peduli.

Pada jam berikutnya Kania memasuki kelas. Syukurlah, wajah gadis itu tidak sepucat tadi pagi. Dia sudah terlihat seperti Kania yang biasanya, walaupun kutahu, dia seperti terpaksa bersandiwara. Padahal dari air mukanya aku bisa membaca “Aku tidak baik-baik saja,”

Dia tersenyum padaku, lalu berkata, “Def, hari ini aku gak bawa bento buat kamu. Kamu gak papa, kan? Nanti kamu beli makanan aja di kantin,” ujarnya tersenyum. Aku balas tersenyum, kemudian mengangguk. Dalam kondisinya yang sedang sakit, dia masih tetap memikirkan orang lain.

Tanpa kusadari, aku beranjak dan duduk di bangku sebelah Kania. Aku diam memperhatikan gadis itu. Dia menceritakan kejadian tadi pagi, mengoceh tentang dokter sekolah dan anggota PMR yang payah, dan obat di UKS yang tidak lengkap. Aku diam, tetapi aku mencoba mengikuti kata hatiku. Tanganku beralih menyentuh keningnya, menyeka keringatnya yang dingin. Aku membelai wajahnya, lalu kalimat yang keluar dengan lancarnya dari bibirku membuatku tersentak.

“Kania, tolong, berhentilah suka padaku. Karena aku tahu, mencintaiku hanya membuat kamu menderita. Aku tidak ingin terus membuatmu menderita dan menangis sepanjang hari. Aku tidak bisa,”

Kania tersentak, lalu menatapku terkejut. Aku melanjutkan, “ Kita sudah kelas 3, aku gak mau kamu terbebani tentang aku, aku ingin kamu lupain aku, dan jangan bermain-main lagi. Buktiin sama aku, kalo kamu bisa capai cita-cita kamu. Dengan, atau tanpa aku disisi kamu,”

Bodoh! Aku mengutuk habis-habisan semua kalimat itu. Tidak! Aku tidak ingin dia menjauh, munafik jika aku menginginkannya!

Kania diam, lalu dia mengangguk. Dan tersenyum.

“Oke. Aku akan mencoba melupakan kamu. Meski aku gak mau tahu, alasan kamu berkata begitu,”

Aku mencoba mengikuti kata hatiku, aku membiarkannya memelukku. Pelukan pertama dari Kania. Dan sejak saat itu, aku berharap, jika itu bukanlah pelukan terakhir dari gadis itu.

—oOo—

Kabar tentang Kania yang sudah tidak lengket denganku lagi, menyebar pesat. Pasalnya, aku yang kapten tim basket memang membuat semua siswa di sekolah mengenalku. Kania sudah tidak melakukan kebiasaanya lagi. Tetapi mengapa, rasanya, bukan ini yang kuinginkan, aku merasa kehilangan. Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

Berita keberangkatan Kania ke Jepang merebak di sekolah. Kania mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan study-nya hingga S2 di sana. Aku gembira mendengar kabar itu sekaligus sedih. Itu artinya, akan semakin membosankan hari-hariku berikutnya jika tidak melihat gadis itu.

Dan hari itu tiba, hari keberangkatan Kania ke Jepang. Aku mengantarnya hingga pintu penerbangan. Dia menahan tanganku dan berkata, “Kalo kamu bilang, aku jangan pergi, aku gak akan pergi, Def,” katanya menggenggam tanganku. Tapi aku tidak ingin menahannya. Aku tidak ingin menghalangi cita-citanya menjadi Desainer terkenal. Jadi aku tetap menyuruhnya pergi. Meski aku tidak rela. Aku telah memikirkan tentang satu hal malam harinya. Aku akan menunggunya. Ya! Aku akan menunggu Kania hingga gadis itu menyelesaikan study-nya.

Aku memeluknya lalu meyakinkannya bahwa aku akan menunggunya. Hari itu, untuk pertama kalinya aku mengungkapkan suatu hal yang sakral dalam hidupku. Setelah dia kembali, aku akan langsung menikahinya. Dia mendongak dan mengecup pipiku. Dia berujar “Amin,”.

Aku melambai untuk terakhir kalinya saat dia berada di ujung pintu pesawat. Kemudian aku mentekadkan hati dan langkahku. Aku hanya menginginkan dia. Maka aku juga harus berhasil bersamanya.

—oOo—

2 September 2010

Aku sedang membaca koran pagiku saat kulihat berita menggemparkan itu. Aku melonjak. Mataku mendelik lebar-lebar, kemudian aku segera berlari menuju satu tempat. Bandara.

Semua orang berlalu lalang mencari tahu kabar sanak saudaranya. Termasuk aku. Aku bersama semua orang yang menyayangi Kania, dikejutkan oleh berita dari pihak penerbangan. Pesawat yang ditumpangi Kania dan 215 orang lainnya jatuh di perairan Laut Cina Selatan ketika menuju ke Jepang.

Aku hampir limbung saat itu. Padahal 10 jam lalu, aku masih melihat senyumnya. Aku masih dapat memeluknya.

Tuhan! Kumohon, jangan seperti ini!

~

“Kamu simpan baik-baik ya, kalung ini. Ini kalung kesayanganku, nanti waktu aku balik ke Indonesia, kamu harus ganti kalung ini jadi cincin nikah kita,”

“Def, kamu bisa sering-sering main ke rumahku. Mamah sama papah akan membuka lebar-lebar pintu rumah buat kamu,”

“Aku sayang kamu,”

“Saranghaeyo, Defandra Syahilan Putra,”

~

Seperti yang Kania bilang, aku jadi sering mengunjungi rumahnya. Aku juga tak pernah absen ke makamnya.

Dia … Kania. Gadis yang kucintai, dan dengan sabarnya mencintaiku.

Categories
Uncategorized

Contoh cerpen tentang KETULUSAN CINTA

Contoh cerpen tentang KETULUSAN CINTA


Citra siswi SMA Y, dia gadis manis yang periang, ramah dan humoris serta memiliki banyak teman. Hampir semua teman-temanya kelas X mengenal dia, bukan itu seniornya pun rata-rata mengenal dan mengagumi dia. Suatu ketika gurunya menyarankan citra untuk bermain alat musik pianika, sebulan sebelum perayaan 17 Agustus citra pun berlatih untuk memainkan alat musik itu, guru SMA nya itu sebut saja Pak Fikar menyuruh seniornya itu yang bernama jefri untuk mengajari citra.

Seniornya itu bukan mengajari citra tapi menyiksanya dengan membuat dirinya bermain pianika dengan susah untuk mengikuti nada yang benar. Jefri sengaja membuat citra marah karena dulu citra pernah mengejek jefri sebagai dirigen yang lemah, aneh dan tidak layak sebagai dirigen, karena itu jefri emosi dan membuat citra tidak betah dan mengundurkan diri dalam Perayaan 17 Agustus. Ternyata cara dan usaha yang dilakukan jefri tidak berhasil, citra semakin semangat berlatih dan akhirnya jefri nyerah untuk mengerjain citra.

Dan acara 17 Agustus pun berjalan dengan baik dan semuanya menikmati hari itu, bukan hanya itu jefri pun mengangap kalah dan tidak niat lagi untuk mengerjain citra karena hasilnya gagal terus, malah citra semakin tekun belajar alat musik pianika bahkan recorder (seruling) sekarang pun dia tahu.

Jefri tak menyangka bahwa sebenarnya citra orang nya baik dan suka menolong orang yang lagi kesusahan dan selalu ada saat orang meminta bantuan padanya. Bukan hanya itu citra juga orang manis dan ramah sehingga teman-temanya banyak yang menaruh hati padanya.

Suatu ketika jefri menguji kebaikan citra dengan meminjam Kamus Bahasa Inggris citra dengan tidak memulangkan sampai 1 minggu. Saat jefri mau memulangkan sama dia kamus nya itu citra bukan marah karena sudah lebih dari 3 hari waktu perjanjian, citra hanya senyum dan berkata, “kalau masih diperlu, pakai sajalah kamus aku ada 2 kok”. Mendengar perkataan citra, jefri pun terdiam dan heran, seharusnya marah, tapi bukannya marah dia malah menyarankan jefri untuk meminjam kamus nya lagi jika masih diperlukan.

Mulai dari situ jefri mulai tertarik sama citra dengan kebaikan dan ketulusan citra membantu orang. Dan suatu ketika jefri meminjam kmaus citra berulang-ulang dengan niat hati untuk mengambil perhatian citra, kemudian jefri membuat selipan surat didalam kamus citra yang berisi perasaan hatinya pada citra dengan tujuan agar dia tahu apa sebenarnya yang dirasakan jefri.

Tak sengaja teman citra membuka kamus citra yang baru dipulangkan jefri,betapa terkejutnya citra mendengarkan temannya membaca surat yang ada di kamusnya dengan kuat dan didalam nya dibuat syair namanya. Wajah citra merah dan malu sekali, karena baru pertama kali citra mendapatkan surat cinta dan surat itu dibaca temannya.

Citra pun marah dan memberitahukan sama temannya anna teman satu kampung dan juga saudara jefri untuk berani menyatakan cinta langsung jangan lewat surat, jangan jadi lelaki pengecut dan sok ganteng. Sewaktu citra bercerita sama anna, lewatlah jefri sambil mendengar kata-kata citra tadi, citra kemudian melihat jefri dan meninggalkan mereka semua dengan hati kesal.

Keesokan harinya pas bel pulang berbunyi jefri menghampiri citra dan membawanya kearah Taman Sekolah. Dia pun berkata masalah semalam itu sama citra dan menjelaskannya dan akhrinya nando menyatakan cintanya sama citra langsung, kemudian citra terkejut dan hanya bisa menjawab : “Ya sudah, kita jalani saja”. Jefri senang mendengar citra dan memberi senyuman manis pada citra.

Beberapa hari kemudian jefri memberitahukan sama teman-temannya bahwa dia telah berpacaran dengan gadis yang selama ini di ceritakannya itu. Teman-temanya yang menyukai citra itu pun akhirnya menjauhkan diri mendengar cerita dari jefri. Seminggu kemudian jefri sering memperhatikan citra dan sering mengajari kekasih hatinya itu, apalagi di bidang kimia, karena bidang itu citra agak susah mengerti.

Sewaktu pembagian raport tak heran citra masuk peringkat 5 di kelasnya itu berkat hasil didikan dan ajaran dari kekasihnya setiap sore. Dan jefri juga mendapat peringkat 5, mereka mulai dikenal guru karena mereka pacaran sehat, bisa meningkatkan semangat belajar mereka. Mereka senang sekali hasil belajar mereka membuahkan hasil yang baik.

Seiring berjalan waktu pengumuman kelulusan tiba, jefri lulus dengan nilai baik dan diterima di Universitas Yogjakarta dengan jurusan yang dipilihnya. Citra senang bercampur sedih karena mereka harus merasakan pacaran jarak jauh padahal baru saja dia merasakan kebahagia jatuh cinta dan harus siap untuk menerima kenyatakan percintaan mereka harus di pisahkan jarak dan waktu. Walau begitu rita tetap percaya pada jefri karena pujaan hatinya pergi untuk kuliah dan mengapai cita-cita agar kelak menjadi orang sukses.

Sesampai kekasihnya di Yogjakarta mereka sering smsan, sering teleponan, kangen-kangenan dan cerita-cerita yang indah. Namun komunikasi mereka hanya sebulan, lebih dari sebulan sms dan dan telepon tidak ada jawaban. Sehingga citra rindu dan kesepian karena handphone citra tak pernah berdering lagi. Pujaan hatinya tidak pernah lagi memberi kabar hingga pernah juga citra sakit akibat rindu sama kekasih hatinya itu.

Setahun kemudian berlalu citra pun dapat melupakan kekasihnya itu dan tidak berharap lebih lagi. Mulai dari situ citra sering menutup diri sama semua lelaki, dia takut pacaran dan akan diabaikan lagi cintanya. Buktinya setiap pria yang menyatakan perasaannya sama citra, dia selalu menolak.

Sekarang citra duduk di Kelas XII, awal Tahun Ajaran Baru di mulai yaitu pelajaran yang membosankan baginya yaitu pelajaran kimia, citra pun berhayal dan tidak mendengarkan guru kimianya menerangkan. Dalam hayalannya dia bertemu seorang pangeran ganteng, bertepatan dengan hayalan citra lewatlah seorang pria didepan kelasnya. Dengan tak percaya pria itu mirip dengan jefri, kekasih hatinya dulu yang menghilang. Tiwi teman sebangkunya mengatakan sama citra: “Itu kan bang jefri?”. Citra terkejut teman sebangkunya pun melihat kekasih hatinya yang berjalan tadi. Tapi citra hanya senyum dan berkata : “Tak mungkin itu, salah kamu wik”.

Bel istirahat berbunyi citra, tiwi, dan nica keluar dari kelas menuju kantin sekolah, ternyata pria itu duduk depan kantin, citra berhenti senjenak dan menghentikan perjalannya. Akan tetapi sahabatnya tapi tiwi dan nica menghampiri seniornya dulu dan menyalaminya. Nica dan tiwi memanggil citra dan menghampirinya dan memberi masukan dan saran sehingga citra pun menghampiri kekasihnya itu. Dengan perasaan kesal, binggung dan marah rita cuman bisa diam sambil menyalam jefri dan hanya ngomong saat jefri memulai cerita.

Sambil menyalam rita dan tidak melepaskan gengaman tangan citra, jefri bertanya : “Uda senior sekarang ya dek, sehatnya kau kan dek?”. Jawab citra dengan ketus, Udalah, sehat, kmu?, aku sehat kok dek dan dengan merasa bersalah jefri bertanya pelan “Siapa sekarang pacarmu dek?”, jawab menjawa, “Banyak dan bukan urusanmu”. Jefri tersenyum, jutek kali sekarang ya dek, maafkan abang lah dek, ujarnya. Maaf kau bilang, gampang kali kau bilang maaf. Citra cuman bilang ya udahlah, sekarang aku mau masuk kekelas. Seperginya citra meningalkan kekasihnya itu, jefri mengatakan ku tunggu nanti ya dek di Taman Sekolah.

Sepulang sekolah hati citra tak tenang, dag dig dug, rita bingung menjumpai kekasihnya atau tidak, tapi apa dayanya, karena masih sayangnya citra sama kekasihnya itu, citra pun menunggu di taman sekolah. Uda sejam citra menunggu, ternyata jefri tidak juga datang, betapa kesalnya rita niat ingin memaafkan kekasihnya. Tapi semakin membuat dia semakin marah dan emosi, tak berapa lama kemudian handphone citra berdering dengan isi pesannya, Ini citra kan? citra pun membalas sms itu, ia ini siapa? Dan kekasihnya itu membalas, ini jefri abangmu yang pernah hilang dari peredaran dan kemudian sms dari jefri tidak di balas citra lagi.

Satu jam kemudian jefri menelepon citra yang isi : “maafkan aku ya dek bukan maksudku hilang komunikasi samamu dek, tapi karena kemarin handphone aku rusak dan kemudian aku beli handphone lagi, handphone yang aku beli itu hilang dan nomor kamu tidak ku ingat dek. Ini aja aku dapat dapat nomor kamu dari temanmu tiwi. Maafkan aku ya dek, masih sayang kali aku samamu, aku ingin mengajakmu jalan-jalan malam minggu nanti untuk menebus kesalahaku dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan aku lagi.” Jawab citra : Ya, sudahlah aku tidak butuh janji, aku hanya butuh fakta.

Malam minggu pun tiba, jefri pun datang kerumah citra dan mengajaknya jalan-jalan sambil menggenang masa lalu mereka, mereka menikmati malam minggu yang indah itu dengan cerita-cerita indah mereka dan jefri menceritakan pengalaman lucu dia dikampusnya. Mereka kelihatan senang dan tertawa bersama. Tepat jam 22.00 citra pun di antar pulang sama jefri.

Sebulan kemudian, jefri mengirimkan pesan sama citra isinya : “Dek, besok aku balik ke Yogjakarta, karena tiket uda dipesan mama”. Tak lama kemudian citra mengirimkan pesan lagi, “Jahat kau bang, bukanya kau janji pulang tangal 15 September tapi kenapa jadi tangal 8 September kau pulang bang dan kau mengabari aku malam ini. Kita belum jalan-jalan keliling Medan seperti yang kau bilang itu, aku mau besok kita ketemu, ada yang mau kukasih samamu, dan kado ultahmu nanti”. Tapi jawab jefri : Ku usahkan pun ya dek.

Keesokan harinya tepat jam 8 pagi citra uda ada didepan sekolahnya tempat janjian mereka, 2 jam citra menunggu sampai kehujana, jefri pun tak kunjung datang. Dan akhirnya citra menelepon jefri,” Jahat kali kau bang, mau perginya kau tapi kenapa kali ini saja kau usahakan datang pon gak bisa. Jefri hanya menjwab: “Maaf ya dek,ku usahakannya dari tadi hujan jadi gak bisa aku datang.

Citra marah dan cuma mengtakan : “ Kalau sampai Yogjakarta kabar ya bang. Jefri pun menjawab : Ya dek. Tapi sesampai di Yogja, Jefri tidak pernah mengabari apa-apa hingga sebulan berlalu. Ternyata jefri memiliki kenalan baru sehingga membuat dia lupa akan janjinya kepada citra. Kenalan baru jefri sangat cantik, manis dan sexy sehingga membuat jefri berpaling dari citra.

Mendengar informasi dari media Facebook dan kawan-kawanya, awalnya citra tidak percaya tetapi melihat tingkah laku jefri yang semakin lama semakin aneh, citra pun percaya karena dulunya dia perhatian dan sering bercanda-gurau sekarang sudah tidak lagi. Melihat keanehan jefri citra akhirnya pun mengerti bahwa jefri memiliki hati lain dan menduakan cinta citra.

Seminggu kemudian citra memberanikan diri untuk menelepon jefri dan memutuskan hubungan dengan jefri dan mundur dari permainannya serta tidak melarang dia untuk mencari yang terbaik untuk diri jefri. Inti kata-kata citra, dia ingin melihat jefri senang walau tak bersamanya. Bukan main sakit hatinya citra karena jefri cuman bilang “ya udah”. Berulang kali kekasih hatinya ini menyakiti tapi apa dayanya dia hanya sedih dan kecewa.

Tapi apa harus dikatakan lebih baik sendiri daripada pacaran tapi menyiksa diri. Gadis yang baik hati ini selalu menangisi kekasihnya yang tidak lagi mengangap dia ada. Dia berhrap cepat-cepat dia melupakan jefri. Citra akhirnya mengikhlaskan jefri demi yang di sayangnya.

Setahun kemudian berlalu dan citra akhirnya melupakan jefri dan sekarang citra lulus dari SMA dan masuk ke bangku kuliah. Dikampusnya dia terkenal sebagai mahasiswi baik dan suka menolong, semua orang mengagumi ketulusan hatinya. Dan hingga akhirnya dia berkenalan dan membuka diri pada seniornya ranly dan tak lama kemudian mereka berpacaran. Pacar citra sekarang orangnya baik hati, ramah, penyayangwalau tak sepintar jefri tapi selalu membuat citra tertawa dan tersenyum kembali.

Mendengar kabar dari teman-teman yang lain citra sudah memiliki pacar baru, jefri tidak berani pulang kampung lagi dan tidak berani menghubunginya lagi. Kebodohan jefri meninggalkan citra yang baik hati itu semakin membuat jefri semakin terluka karena pacar jefri sekarang hanya memanfaatkan jefri saja demi kepentingan wanita itu. Dan kemudian pacar jefri meninggalkan dia, jefri pun sedih dan menyesal sekali.

Suatu ketika jefri memberanikan diri menelepon citra untuk meminta maaf, citra pun memaafkan jefri sambil berpesan : “Sayangilah orang yang sayang samamu, dan semoga kau bahagia dengan pilihanmu sebab aku selalu mendoakanmu, mendengar itu mengislah jefri, karena dia tahu mantan kekasihnya sungguh baik, tapi sayang mantannya itu sudah milik orang lain dan pria itu sangat sayang dengan citra begitu juga sebalinya dengan citra. Mulai dari itu, jefri pun berjanji untuk berubah dan benar-benar mencintai dan menyayangi orang yang sayang samanya.

Categories
Uncategorized

Contoh Cerpen Tentang Pohon Persahabatan

Contoh Cerpen Tentang Pohon Persahabatan

Kinan dan Kara adalah sahabat sejati. Mereka mulai berteman sejak kelas 3 SD. Semakin hari, mereka semakin dekat. Dalam waktu 1 bulan mereka sudah menjadi sahabat. Mereka berjanji untuk selalu bersama dalam suka maupun duka, mereka akan menjadi sahabat sejati selamanya meskipun sudah tamat SD.

Kinan adalah anak perempuan yang cantik, pandai, lembut, tetapi cengeng layaknya anak perempuan yang feminim. Sedangkan Kara adalah anak yang manis, dan tomboy. Tetapi dia tidak kalah pandainya dari Kinan. Dia selalu juara 1 di kelas, dan Kinan selalu juara 2 darinya.

Suatu ketika Kara dan keluarganya ingin pindah. Kara mengusulkan sekaligus memohon kepada kedua orang tuanya agar pindah ke dekat rumah Kara. Kedua orang tuanya pun setuju. Sebelum mereka pindah(ketika masih persiapan pindahan) Kara memberitahukan kepada Kinan di sekolah. Kinan terkejut tidak percaya.

“Apa …??!!!”(teriak Kinan). Semua yang ada di kelas itu mendengar teriakan Kinan, dan mereka semua memandang kepada Kara, dan Kinan. Lalu mereka pun hanya bisa tersenyum kecil menyeringai.

“Yang bener Kara…???” Kinan bertanya dengan wajah serius.

“Iya… beneran, aku tidak berbohong. 4 hari lagi persiapan kami selesai dan hari ke-5 kami sudah bisa menempatinya!!” kata Kara.

“Oh ya…?? Waaah…. senangnya rumah kita bisa berdekatan. Berarti setiap hari kita akan pulang dan pergi ke sekolah bersama-sama??” tanya Kinan dengan wajah berseri-seri.

“Ya… tentunya. Aku sudah melihat lokasi rumahku. Ternyata hanya kelang 3 rumah dari rumahmu Kinan!!! Dengan begitu, kita lebih mudah untuk bertemu, tidak perlu dengan kendaraan…!!! Oh ya…, di hari pertama tinggal di rumah baruku, kamu mau gak menginap di rumah ku…??” kata Kara.

“Ya pastinya aku mau… tapi..,, aku tidak tahu…ibu dan ayahku mengizinkan atau tidak…” jawab Kinan dengan wajah sedikit murung.

“Tenang saja Kinan…!! Aku yang akan memintanya pada ibumu. Pasti ibumu akan mengizinkannya, dan ibumu yang akan mengatakannya pada ayahmu…!!!” sahut Kara memberi solusi dengan percaya diri.

“Benarkah itu??” tanya Kinan. “Ya…!!” jawab Kara. “Tapi..,, apakah kau yakin ini akan berhasil…??” tanya Kinan lagi. “Ya…aku sangat yakin…!!!” jawab Kara dengan mantap.

Akhirnya hari yang ke-5 pun tiba. Setelah pulang sekolah, Kara dan Kinan ke rumah Kinan untuk meminta izin. Apa yang sudah direncanakan pun berhasil. Dan Kinan akhirnya bermalam di rumah Kara 1 hari.

Setiap hari mereka berangkat sekolah bersama, pulang sekolah pun juga bersama. Sampai pada suatu siang yang panas terik, mereka pulang sekolah.

“Kara, lihat itu…!!” seru Kinan sambil menunjuk ke arah sudut jalan.

“Kau menyuruhku melihat apa Kinan?? Itukan hanya tumpukan batu..!!” seru Kara kebingungan sambil mengernyit.

“Itu…,, ada tumbuhan di balik batu-batu itu. Sepertinya itu bunga sakura…!!” jawab Kinan

“Emmm…(Kara mencoba melihatnya). Oh iya ya…, kalau begitu ayo kita singkirkan batu-batu itu dari bunganya!!” kata Kara.

“Ayo…!!!” jawab Kinan bersemangat. Mereka pun menolong bunga yang terjepit itu.

“Waaaahh… kasihannya bunga ini,, karena tertimpa batu-batu ini dia hampir mati…!!” kata kinan dengan suara sedih. Karena melihat Kinan yang begitu sedih, Kara ikut sedih. Lalu terfikirkan satu ide olehnya

“Bagaimana jika kita rawat saja bunga sakura ini, sampai bunga ini menjadi pohon sakura yang indah dan rindang!??” tanya Kara

“Oh iya…!!! Tak terfikirkan olehku…!!! Itu ide yang sangat bagus Kara…!!” kata Kinan sangat gembira sekali.

“Kalau begitu ayo kita bawa pulang dan langsung taruh di pot dan disiram…!!” ajak Kara. “Baiklah” jawab Kinan. Mereka pun pulang ke rumah Kinan. Dan bergegas melakukan apa yang dikatakan Kara.

Keesokan harinya.

“Assalammu’alaikum Kinan…!!” sapa Kara mengucapkan salam.

“ Wa’alaikum salam warohmatullah…” jawab Kinan. “Bunga yang kemaren pagi ini sudah mulai berdiri tegak dan daunnya sudah mulai mengembang lhooo…!!” sambung Kinan.

“Oh ya…?? Syukurlah kalu begitu aku juga ikut senang kalau kau senang.” kata Kara sambil menyunggingkan senyuman manisnya.

Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka ke sekolah. Dan sehabis pulang sekolah mereka langsung melihat kembali bunga sakura itu di rumah Kinan. Bunga itu diletakkan di dalam kamar Kinan di atas jendala agar bunga itu juga mendapatkan cahaya.

“assalammu’alaikum bunga sakura. Sekarang kamu pasti sedang bereproduksi…!!” seru Kara. Kinan hanya tersenyum dan tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya itu.

Waktu terus berjalan, dan bunga sakura itu sudah seharusnya dipindahkan ke tanah.

“Kara!!! Berhubungan ini hari minggu…,, bagaiman jika kita memindahkan unga sakura itu ke tanah?? Bunga itu pun juga sudah besar, jika tidak dipindahkan pot itu bisa pecah.” tanya Kinan memberikan saran.

“Ya,, ide bagus tuh. Memang sudah seharusnya bunga itu dipindahkan. Jadi…, kemana kita akan memindahkan bunga itu??” kata Kara sambil melihat kearah bunga yang ada di teras rumah Kinan.

“Emmm…,, kemana ya??” Kinan bergumam. “Ke bukit yang saat SD kita selalu bermain kesana saja…!!!” sambung Kinan.

“Boleh juga tuuhh…!! Disanakan belum ada pohon sakura…!! Oh ya,, sudah lama sekali ya.., kita tidak pergi dan bermain-main kesana!!” kata Kara sambil tersenyum mengingat masa kecil.

Iya ya,, apa karena kita sudah SMP dan lebih banyak PR kali ya…?? Jadinya kita lupa untuk bermain kesana… Mungkin dengan adanya pohon ini, kita bisa lebih sering kesana…!!” kata Kinan.

“Kalau begitu, tunggu apalagi?? Sekarang kita sedang tidak ada kerjaankan?? Aku juga sudah selesai membaca komiknya. Ayo…!! Kita kesana dan pindahkan bunga sakura ini…!!” seru Kara sangat bersemangat. “Ayo…!!” jawab Kinan. Mereka pun segera bergegas dan pergi ke bukit itu.

Bunga sakura itu pun semakin lama semakin besar dan tumbuh menjadi pohon sakura yang rindang dan indah. Dan semenjak mereka memindahkan bunga itu,mereka selalu datang bermain, mengerjakan tugas, dan bersantai disana di bawah pohon sakura. Mereka pun menamai pohon sakura itu “POHON PERSAHABATAN”.

“Kara!! Pohon sakura yang kita rawat sudah besar sekali sekarang. Kita juga selalu bermain, mengerjakan tugas, bersantai, dan ngapain aja disini. Bagaimana kalau kita menamakan pohon sakura ini??” tanya Kinan memberi saran.

“Iya ya…,,tidak terasa sudah 2 tahun kita merawat pohon sakura ini, dan bersamanya tapi kita belum memberikan nama pada bunga sakura ini!!” kata Kara.

Kira-kira apa ya nama yang cocok untuk pohon kita ini??” tanya Kinan.

“Karena kita bersahabat, dan melewati hari-hari bersama pohon ini juga… bagaimana jika kita namakan pohon ini POHON PERSAHABATAN…?? Kamu setuju…??” tanya Kara.

Emmm….,, boleh juga tuh… kalau begitu ayo kita ukir nama kita di pohon ini dan nama pohon ini juga…!!!” seru Kinan. Mereka pun mengukir nama mereka di pohon itu dan berjanji setelahnya.

“Sudaaahh….!!! Aku sudah selesai” kata Kara. “Aku juga!!” sambung Kinan.

“Dengan adanya pohon ini, ini menjadi bukti kalau kita akan terus menjadi sahabat sampai kapan pun.” Kata Kara.

“Ya…,, kalau pun kita sudah tamat SMP, atau diantara kita ada yang pindah rumah, sehingga rumah kita berjauhan…,, pohon ini akan menjadi pengikat hati kita dan kita selalu ingat satu sama lain…!!” kata Kinan.

“Ya…,, you and I is best friend forever…!!” mereka mengucapkan bersamaan dan berpelukan.

Hari sudah sore, mereka pun pulang ke rumah sambil berpegangan tangan. Saat Kinan melepaskan tangannya dari Kara karena ingin menyebrang menuju rumahnya, tiba-tiba dari arah belakang di balik gang ada motor yang melaju kencang. Kara melihat motor itu ingin menabrak Kinan.

“Kinan!!! Awass!!” teriak Kara sambil berlari kearah Kinan. Mendengar teriakan itu Kinan melihat kearah kiri (asal motor itu muncul). Tapi belum sempat melihat Kara sudah mendorongnya. Tapi, sayangnya setelah mendorong Kinan, Kara belum sempat mengelakkan dirinya juga. Sehingga motor itu menabrak Kara dan Kara terbang terguling-guling di aspal dan mengeluarkan banyak sekali darah.

“Kara!!!” teriak Kinan yang tadi jatuh ke tanah langsung berlari kearah Kara begitu melihat kara tertabrak. Kinan menangis tersedu-sedu dan berteriak-teriak meminta tolong pada warga sekitar sambil memeluk Kara.

Karena mendengar teriakan Kinan, semua warga keluar dari rumahnya,termasuk ibu Kinan dan Kara. Warga pun sibuk berkerumun.

“Masyaallah Kara!! Kenapa bisa begini??” ibu Kara langsung menangis dan spontan pingsan.

Ibu Kinan lalu berteriak. ”Kenapa kalian diam saja?? Apakah sudah di telepon ambulannya?!!”

Salah seorang dari warga pun menjawab. “Sudah, dalam perjalanan…!!”

Kinan yang dari tadi hanya bisa memeluk Kara sambil menangis menggoyang-goyangkan sedikit tubuh Kara seraya berkata.

“Kara bangun Kara!! Bangun!! Kita barusan saja berjanji untuk selalu bersama menjadi sahabat. Tapi kenapa?? Kamu begitu cepat pergi?? Bahkan kita belum melewati 1 hari pun bersama setelah perjanjian itu kita buat.!!! Ayolah Kara!! Kamu harus bangun dan bertahan!” seru Kinan. Perlahan akhirnya Kinan membuka matanya seraya berkata dan tersenyum.

“Terimakasih…Untuk selama ini. Meskipun kita tidak bersama, tapi hati kita selalu bersama. Jangan lupakan aku ya Kinan…!!!” ucap Kara sambil terbata-bata dalam penghembusan nafas terakhirnya.

“Kara!!! Bertahanlah Kara!! Kamu pasti akan tetap hidup…!!! Kara!!” teriak Kinan.

Ambulan pun datang dan langsung membawa Kara ke rumah sakit. Ibu Kara yang pingsan juga dibawa ke rumah sakit, ibu Kinan juga ikut ke rumah sakit. Tetapi Kinan tidak ikut. Dia menunggu di rumahnya sambil berdo’a agar Kara selamat. Lalu, akhirnya ibu Kinan menelepon Kinan. Dan memeberi tahukan kepada Kinan bahwa Kara tidak bisa diselamatkan. Mendengar hal itu, Kinan langsung berlari ke POHON PERSAHABATAN. Dan menangis disana. Orangtuanya pun mencari Kinan dan berhasil ditemukan, dan membujuk Kinan untuk pulang. Akhirny, Kinan mau pulang juga.

Keesokan harinya Kara dimakamkan. Setelah di makamkan, Kinan pergi ke POHON PERSAHABATAN.

“Kara…,,aku gak akan pernah melupakanmu..!! semoga kita bisa bertemu lagi nanti di syurga…!!” kata Kinan.

Kinan lalu membuat bukit itu, menjadi taman yang indah. Sehingga banyak orang yang datang kesana. Dia juga memagari POHON PERSAHABATANnya. Lalu, memberi tanda tidak boleh diganggu gugat, dan mengisahkan terjadinya POHON PERSAHABATAN itu (tercantum di pagarnya). Dan yang pasti, membuat papan nama POHON PERSAHABATAN. Karena itu semua, masyarakat yang datang menjadi simpatik, dan ikut merawat pohon dan taman itu. Mereka bahkan sampai menangis membacanya.

TAMAT

Categories
Uncategorized

Contoh Cerpen tentang kesakitan

Contoh Cerpen tentang kesakitan

 My Hurts
Genggaman
tangan itu seperti tak bisa lepas dari sepasang kekasih. Mereka
menggambarkan percintaan yang abadi bagai Romeo dan Juliet.
   
Setiap pasangan pasti menginginkan yang terbaik untuk kehidupan mereka.
Seperti aku mencintai kekasihku, dan kekasihku mencintaiku. Walaupun aku
tidak selalu ada di sampingnya, namun dia akan selalu berada di dalam
hatiku. Semoga kisah kami tidak secepat itu berakhir.
***
    Aku kembali ke Indonesia. Setelah cukup lama berlibur di Amerika, aku merasa merindukan negeri ini.
    Aku mengambil ponselku di dalam tas, kucari menu untuk menulis pesan.
“Aku sudah di Indonesia. Tolong jemput aku di Bandara. Aku tunggu…”.
 Aku mengirimnya untuk Vino, dia teman priaku. Kutunggu beberapa detik dia sudah membalasnya.
“Ok. Aku segera ke Bandara dan mendapat pelukan dari kekasihku. Kamu harus melakukannya jika aku sampai”.
“Pasti. Aku rindu padamu. Semoga aku melihatmu membawa sesuatu untukku”.
“Sesuatu seperti apa? Kau ingin aku membelikanmu bunga?”
“Aku tidak suka bunga. Carikan aku yang lain”.
“Baju? Cokelat? Atau mobil?”
“Kamu semakin gila! Aku tahu kamu tidak bisa membelikanku mobil. Memangnya uangmu segudang?”
    “Ck… Pacarku ini… Ohh! Aaaaa!!!!” Bruak!! Duarr!

Satu menit, satu jam, aku belum juga mendapat balasan dari Vino. Dia bahkan belum menemuiku di bandara.
    Aku kembali menulis pesan teks untuknya.
“Vino… Sedikit lebih cepat, aku sudah lama menunggumu”.
    Beberapa menit, aku memeriksa ponselku, namun dia tetap tidak membalas. Aku pun menelponnya.
Nomor yang anda tuju… sedang tidak aktif…
   
“Arghh! Kenapa ponselnya tidak aktif?! Di mana dia sekarang?!” Aku
terus melirik sekitar bandara. Tidak ada tanda-tanda Vino akan datang.
Aku berusaha sabar menunggunya, namun sudah 4 jam aku menunggu dia tetap
tidak tampak.
    “Hh…”. Aku menghela nafas berat. Kembali
kuperiksa ponselku, berharap nama Vino muncul kali ini. Tapi ternyata
masih sama. Dia belum juga membalas pesanku dan menelponku. Aku semakin
gelisah memikirkan hal buruk sedang terjadi padanya.
Dan kali ini
aku benar-benar ingin meninggalkan bandara dan segera sampai di rumah.
Tapi Vino tidak juga datang menjemputku. Aku berfikir sejenak. Akhirnya
aku memutuskan untuk mencari taksi karena hari sudah semakin gelap. Aku
tidak ingin menunggu lebih lama lagi di sini. Setelah mengecek kembali
di sekelilingku, aku pun melangkah pergi dan mencari taksi di sekitar
bandara.   
Sekitar 20 menit aku sampai di rumahku. Kedaannya
masih tetap seperti dulu, penuh dengan tanaman hijau. Namun aku tidak
merasa senang berada di rumah. Aku selalu memikirkan Vino, tentang di
mana dia sekarang, apa yang terjadi dengannya saat ini. Aku benar-benar
gelisah dan takut mengingatnya, perasaanku tidak sedang baik.
   
“Vitha… Kamu sudah pulang… Ya Allah, ibu kangen sekali denganmu…”.
Ibuku memelukku dengan erat, aku sedikit merasakan kenyamanan di
pelukannya.
“Ibu… Aku lelah, aku ingin tidur…”. Ibu melepas pelukannya. Aku bergegas memasuki kamarku.
“Uhh…”.
Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Di sampingku sebuah
lukisan yang kubeli dari Amerika untuk Vino, aku belum sempat
memberikannya. Kupikir dia akan menjemputku di bandara, dan saat itulah
kuberikan lukisan ini. Tapi ternyata dia tidak menjemputku. Aku sangat
kecewa, aku juga marah dengan Vino, tapi rasa khawatirku lebih besar
dari pada itu. Di mana dia sekarang? Kenapa sama sekali aku tidak bisa
menghubunginya? Atau mungkin, dia sedang ada urusan mendadak, sehingga
aku tidak begitu penting untuknya sekarang? Kuharap itu terjadi, semoga
dia baik-baik saja dan tidak bersama wanita lain.
    Besok pagi aku akan ke rumahnya, aku ingin memberikan lukisan ini.
***
Terdengar
jelas suara ayam berkokok, pertanda hari sudah pagi. Aku bangun dan
bergegas untuk mandi. Ibu sudah menyiapkan sarapan untuk kami berdua.
Berdua saja, karena ayah sedang bertugas di luar kota. Aku hanya makan
sedikit, setelah itu aku berpamitan pada ibu dan menuju rumah Vino.
Tidak lupa aku membawa lukisan sepasang kekasih untuk kuberikan padanya.
   
Aku menaiki taksi. Sekitar 10 menit aku sampai di rumah Vino. Tercium
aroma wangi-wangian bunga melati, di sekitarnya terlihat bunga melati
bertaburan dengan keadaan layu. Aku bingung saat melihat rumah Vino,
seperti baru saja dilaksanakan peringatan untuk orang meninggal. Aku
semakin bingung ketika ibu Vino menghampiriku dengan keadaan tersendu.
   
“Vitha… Hiks hiks hiks… Kamu harus sabar, kamu tidak boleh bersedih
setelah kehilangan Vino… Hiks hiks… maafkan ibu, ibu menyesal tidak bisa
menjaga Vino dengan baik… Sekarang dia sudah pergi meninggalkan kita
semua… hiks hiks hiks…”. Ibu Vino memelukku. Aku berkaca-kaca, aku tidak
bisa melakukan apa-apa. Lukisan yang tadinya akan kuberikan pada Vino
telah terkulai di tanah. Kali ini air mataku berjatuhan semakin kencang.
Dadaku terasa sakit seperti ditusuk ratusan jarum tajam. Aku tidak
percaya Vino meninggalkanku secepat ini, semuanya masih seperti dalam
mimpi.
    Aku melepas pelukan ibu Vino dan bergegas meninggalkannya.
    “Vitha!!!”
Aku
berlari secepat mungkin. Tidak peduli di mana aku sekarang, namun
kakiku akan selalu berlari. Aku menangis di sepanjang perjalanan. Semua
orang mungkin melihatku saat ini, tapi aku juga tidak peduli. Keadaan
seperti ini membuatku ingin pergi dari semua orang yang kucintai.
“Vitha!!!”
    “Sudah, bu”. Rafa mencoba memberi ibunya ketenangan.
    “Rafa… Ibu sangat menyesal… Seharusnya Vitha tidak menerima semua ini…”.
   
“Ibu masuklah ke dalam. Aku akan membawanya kembali, semua akan
baik-baik saja”. Ibu menatap anak tunggalnya itu, lalu meninggalkannya
ke dalam.
    Rafa menghela nafas. Lalu dia mengambil lukisan
sepasang kekasih yang tergeletak di tanah. Lukisan itu segera diletakkan
di bagasi mobilnya, kemudian ia mulai mengemudi.
***
Air
mataku masih menetes deras. Aku terus berjalan dan memandang setiap
tempat yang kulewati. Selalu ada kenangan ketika aku dan Vino
bersama-sama, bergandengan tangan, berpelukan erat, aku ingin semuanya
kembali terjadi. Namun, aku mungkin hanya bisa memutarnya di memori
otakku, setelah dia pergi meninggalkan semuanya dengan rasa sakit.
   
“Vitha!!!” Kuhentikan langkahan kakiku sejenak. Aku menoleh pada
seseorang yang mendekat. Wajahnya sangat kukenali, dia Kak Rafa.
   
“Vitha, kau harus pulang. Kau tidak boleh pergi meninggalkan ibumu
terlalu lama”. Kak Rafa memegang tanganku dan sedikit menggeretku pergi.
Namun aku berusaha menahannya dengan kuat.
    “Lepaskan! Aku
tidak akan pulang! Kak Rafa jangan pernah menyuruhku melakukan itu”.
Tanganku pun terlepas, dan aku melangkah pergi. Tapi lagi-lagi Kak Rafa
memegang tanganku dengan sedikit erat.
    “Ayo pulang bersamaku!!”
   
“Lepaskan! Tolong lepaskan! Kumohon… Kak Rafa harus mengerti…”. Aku
kembali menangis. Kak Rafa berhenti menggeretku dan dia menatapku.
    “Kumohon jangan begini…”.
   
“Tak seharusnya kau seperti ini. Menangis dan kabur hanya akan
membuatmu lebih buruk. Kau harus pulang, ingatlah masih ada ibumu di
sana yang selalu menunggumu”.
    “Aku hanya ingin Vino… Hiks hiks hiks…”. Rafa merasa iba. Dia pun menepuk pundakku.
   
“Maafkan aku sudah membentakmu. Tapi aku hanya ingin kau pulang.
Semuanya tidak pantas disesali, kau masih punya banyak mimpi”.
    “Aku selalu memimpikan kami menikah, aku ingin itu benar-benar nyata…”.
   
“Ini sudah takdir untuk Vino. Dia harus menjemput ajalnya sebelum
menikahimu. Kau tak boleh memintanya untuk kembali, karena dia tidak
mungkin kembali dan menikah denganmu”.
    “Hiks hiks hiks…”.
    “Hh… Baiklah… Sekarang kita pulang. Aku akan mengantarmu ke rumah, kau harus menemui ibumu”. Aku berfikir sejenak.
    Akhirnya aku memutuskan untuk pulang bersama Kak Rafa. Dia mengantarku ke rumah.
“Terima kasih sudah mengantar pulang”.
    Kak Rafa mengangguk. Dia lalu berpamitan pulang dan meninggalkanku di teras rumah.
Rafa terus menatap lukisan sepasang kekasih yang dia letakkan di kamarnya. Dia memikirkan sesuatu tentang Vitha dan Vino.
   
“Lukisan ini tampak menarik bagi sepasang kekasih. Mereka selalu
bersama-sama ketika menghadapi semua masalah. Itu yang juga mereka
lakukan selama ini. Vino selalu menjadi yang terbaik di mata Vitha,
begitu juga sebaliknya”.
    Tililit! Tililit! Rafa mengambil
ponselnya yang berdering. Muncul nama seorang wanita, dia bernama Nirma,
Nirma adalah kekasih Rafa sejak 2 tahun ini.
    “Kenapa?” Rafa memulai pembicaraannya dengan Nirma.
   
“Raf… maaf… Aku tidak bisa menemuimu lagi karena harus pindah. Orang
tuaku memaksaku tinggal di Belanda selamanya. Tolong kamu mengerti,
maafkan aku sekali lagi”.
    “Apa? Ke Belanda? Memangnya kau tidak bisa meyakinkan orang tuamu jika pacarmu di sini?”
    “Sebenarnya mereka tidak pernah menyetujui hubungan kita. Aku sudah dijodohkan dengan pria Belanda… “.
    “Kau, kau gila?! Kenapa kau tidak mengatakan ini padaku?! Seharusnya aku sudah tahu sebelum kita berpacaran!!”
    “Karena aku mencintaimu… Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu sebelum aku pergi jauh…”.
    “Jadi maksudmu kau mencampakkanku?! Seperti ini caramu membuatku terluka?! Apa kau tidak paham arti cinta yang sebenarnya?!”
   
“Aku tidak pernah mencoba untuk melakukan ini… Tapi aku tidak bisa
menentang orang tuaku… jadi… jadi kita… sebaiknya semuanya berakhir
sampai di sini… Aku ingin kita putus”.
    Parr! Rafa membanting ponselnya dengan keras.
   
“Argh!!!” Dia menendang semua barang yang ada didekatnya. Meja, almari,
gitar, kaca, semuanya ia hancurkan. Ia terlanjur mencintai Nirma, tapi
setelah ia sadar, Nirma hanyalah mempermainkan perasaan cintanya. Seakan
perasaannya hanya sebuah lelucon yang sama sekali tak berarti. Dan kini
hubungan mereka berakhir dengan teka-teki. Nirma telah dijodohkan
dengan seorang pria Belanda dan tinggal di sana selamanya.
***
Pagi
yang cerah. Aku berusaha melupakan semua masalah ini. Kak Rafa benar,
menangis hanya akan membuatku lebih buruk dan dia tidak mungkin kembali.

Aku akan ke sekolah bertemu teman-teman lamaku setelah liburan cukup lama. Kuharap aku lebih tenang ketika bersama mereka.
“Bu,
aku berangkat”. Aku mengecup tangan ibu sebelum melaju ke sekolah. Tapi
mulai hari ini aku akan menggunakan mobil pribadi. Ibu baru saja
membelikannya agar aku sedikit terhibur.
Tidak terasa, pelajaran
terakhir telah kulalui. Aku pun mengambil tasku dan bersiap untuk
pulang. Tapi aku menghentikan langkahku saat melihat Kak Rafa termenung
di halaman depan, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Aku lalu
menghampirinya.
    “Hei. Apa yang kakak lakukan di sini?” Aku duduk di samping Kak Rafa, dia pun menoleh menatapku.
    “Oh, aku tidak melakukan apa-apa, hanya sedikit lelah”.
    “Apa yang kakak fikirkan?”
   
“Tidak, tidak ada yang kupikirkan. Oh, kau sendiri, sepertinya hari ini
terlihat segar, kau seperti sedang tidak ada masalah”.
    “Aku
mendengarkan ucapan Kak Rafa. Menangis dan kabur akan membuat semuanya
memburuk, tidak ada yang kita dapatkan. Hh… Vino mungkin sudah dengan
bidadarinya yang lebih baik, dia tak akan mengingatku lagi”.
    “Dia juga sudah dengan pangerannya di negri orang”.
   
“Pangeran? Kenapa kakak mengatakan pangeran saat aku sedang
membicarakan Vino? Apa, kalian putus? Dan, mungkinkah dia meninggalkan
kakak ke luar negri?”
    “Ah, itu… kita, kita… Kita hanya
sedang bertengkar, dan kami tidak akan bertemu lagi. Ya, kau benar, kami
baru saja putus”. Mulutku menganga lebar, aku pun menutupnya dengan
tanganku.
    “Ah? Kenapa harus berakhir seperti ini? Kalian pasangan yang serasi”.
   
“Dia bukan jodohku. Aku sudah melepasnya dengan pria lain, bisa
dibilang aku dicampakkan. Ah… sudahlah, itu tidak penting. Aku harus
segera pulang, dan kau juga harus pulang. Ayo kuantar”.
    “Tidak usah. Aku naik mobil, Kak Rafa pergi saja”.
   
“Oh, begitu… Ya sudah…”. Kak Rafa menaiki mobilnya dan melaju pergi.
Aku juga segera mengambil mobilku di tempat parkir, setelah itu aku
pulang.
Bruk. Kuletakkan tasku di atas meja, lalu aku masuk ke
dalam kamar. Aku mulai memikirkan Kak Rafa. Kupikir sekarang dia sedang
hancur, kekasihnya memilih untuk pergi dan memutuskannya. Itu membuatku
teringat dengan Vino. Tapi dia meninggalkanku karena kematian, sedangkan
Kak Nirma meninggalkan Kak Rafa karena pria lain. Dan karena semua ini,
aku pun mulai paham arti cinta untuk kehidupan. Vino bukanlah jodohku,
sudah jelas. Kak Nirma juga tak tercipta untuk Kak Rafa. Tapi antara Kak
Rafa dan Kak Nirma semuanya bisa diperbaiki. Mereka bisa saja berjodoh
walau di usia mereka yang renta.
    Dan cinta selalu membuat
hati terluka, tidak ada yang selalu bahagia dengan pasangannya, masalah
akan datang kapanpun untuk merusak rasa cinta.
***
Hari demi
hari kulalui dengan suka duka. Dan aku telah melupakan Vino, aku
mencoba untuk mencintai pria lain. Dia selalu di sampingku saat aku
butuh, dia juga akan memberi perhatiannya ketika aku terluka.
Dan
hari ini… Ini sudah 100 hari kepergian Vino. Aku membawakan bunga untuk
kuberikan di atas makamnya. Tapi aku tidak akan pergi sendirian, ada
Kak Rafa yang menemaniku.
    Setelah kami berdoa, kami pun
menaburkan bunga-bunga di atas makam Vino. Perlahan air mataku menetes,
semakin deras dan aku sulit menahannya di depan Kak Rafa.
   
“Kamu masih menyayangi adikku?” Kak Rafa tiba-tiba melontarkan sebuah
pertanyaan padaku. Pertanyaan itu membuatku kaget dan berhenti menatap
makam Vino.
    “Kenapa, Kak Rafa bertanya seperti itu?”
    “Kamu tidak berniat untuk melupakannya. Aku bisa melihat di matamu”. Aku tersenyum dan mengusap air mataku.
    “Kenapa tersenyum?”
   
“Karena kakak. Kakak salah mengartikan mataku. Aku mungkin memang
terlihat sedih saat mengingat Vino, tapi bukan berarti aku masih
mengharapkan dia”.
    “Jadi, kamu sudah punya kekasih lagi?” Aku menggeleng.
    “Tapi aku sudah punya orang spesial di sini”. Aku menepuk dadaku berkali-kali.
    “Dia selalu ada di dekatku”. Kak Rafa terlihat mulai berfikir. Aku tersenyum melihat tingkahnya. Padahal pria itu adalah…
    “Harry? Apa orang itu Harry?”
    “Dia teman baikku, tapi aku tidak pernah menyukainya”. Aku pun berdiri dan mulai melangkah pergi.
 Tapi Kak Rafa tiba-tiba mendekat dan memelukku dari belakang.
    “Oh! K-Kak Rafa, apa yang kakak lakukan?”
   
“Aku selalu ingin melakukan ini padamu. Maaf, tapi aku mencintaimu…”.
Mulutku menganga lebar, hatiku serasa berdegup kencang saat di pelukan
Kak Rafa. Aku tidak menyangka dia juga mencintaiku. Semuanya masih tidak
bisa kubayangkan.
    “Sebenarnya, pria itu… Itu Kak Rafa…”. Aku
merasakan Kak Rafa sedang menertawaiku. Aku pun melepas pelukannya dan
memanyunkan bibirku.
    “Apa yang lucu?”
    “Aku sudah tahu itu aku. Karena aku yang selalu ada di dekatmu, iya kan?” Aku tersenyum dan mengangguk pelan.
   
“Jadi, kamu juga mencintaiku?” Aku kembali mengangguk. Kak Rafa lalu
memegang kedua pundakku, tatapannya membuat dadaku berdegup lebih
kencang.
    “Tidak keberatan jika kita meresmikannya di depan
makam Vino?” Aku memikirkan kata-kata Kak Rafa sejenak. Terlihat
keseriusan di matanya, aku pun mulai berbicara.
    “Aku sudah
benar-benar melupakannya. Dan, aku mencintai pria lain, dia de depanku”.
Aku pun tersenyum manis pada Kak Rafa. Dia membalas senyumanku.
   
“Jadi, semua orang di dalam tanah ini menjadi saksi jadian kita,
terutama adikku, Vino”. Aku mengangguk. Kak Rafa langsung memelukku
erat. Dia membisikkan sesuatu di telingaku.
    “Aku mencintaimu”.
    “Aku juga mencintaimu”.
Dan kami saling mencintai untuk selamanya. Kami berjanji…
           

Contoh cerpen tentang bunga kaktus

My Dearest Cactus
Aku
merapikan bunga-bunga yang ada di dekat jendela. Selain itu, aku juga
merapikan pot-pot berisi tanaman hias yang cantik dan menyemprotnya
dengan air. Setelah rapi, aku segera mengeluarkan kaktus  dari
keranjang. Kaktus ini sangat indah. Aku menanamnya di pot kecil dari
gerabah. Karena aku merawatnya dengan sepenuh hati, maka aku mematok
harga cukup mahal untuk tanaman ini. Padahal, kaktus ini biasa-biasa
saja. Dan sebenarnya, aku tidak serius menjual kaktus ini. Hanya iseng.
   
Ting tong… Aku menoleh ke arah pintu sambil memegang kaktusku. Ada
seorang perempuan yang berdiri di balik pintu. Aku segera
menghampirinya.
    “Silakan…” ucapku sambil membuka pintu. Perempuan itu masuk ke dalam toko dengan langkah yang anggun.
    “Kira-kira, mana bunga yang paling romantic?” tanyanya sambil melihat-lihat rangkaian bunga yang kubuat.
   
“Mungkin mawar merah muda. Bunga itu sangat cantik sekali,” jawabku
sambil tersenyum. Perempuan itu balas tersenyum kepadaku.
   
“Kalau begitu, aku pesan yang ini,” tunjuknya, “tolong antarkan ke
alamat ini, dan buatkan kartu ucapan atas nama Rena, untuk Raka.”
Perempuan itu menyerahkan kertas kecil berisi alamat rumah. Aku pun
menerimanya.
    “Baik kalau begitu. Saya akan kirim bunga ini secepatnya,” ujarku.
    “Terima kasih,” sahut perempuan itu sambil melangkah keluar toko.
   
Aku kembali mengamati alamat rumah yang diberikan perempuan cantik itu.
Tanpa berpikir lama, aku segera mengambil kartu ucapan berwarna merah
dan menulis sebuah kalimat.
    From my deepest heart…
    From Rena…
    Aku tersenyum melihat hasil tulisanku. Aku pun segera mengantarnya ke alamat rumah yang diberikan dengan sepeda butuku.
   
20 menit kemudian… “Akhirnya sampai juga…” Aku memarkirkan sepeda di
depan rumah minimalis yang cukup mewah. Di halaman rumah itu terdapat
berbagai macam tanaman hias yang sangat indah. Ada mawar, melati,
anggrek, bahkan sampai kaktus. Eits… Ternyata, ada kaktus yang hampir
sama dengan kaktusku. Potnya pun sama.
    Tiba-tiba, aku teringat
bahwa aku harus segera memberikan bunga ini kepada si pemilik rumah.
Aku pun segera memencet bel dan tak lama kemudian muncullah sesosok
lelaki dengan rambut berantakan.
    “Permisi, apa benar ini Raka?” tanyaku.
    “Iya, ada apa?” jawab lelaki itu dengan angkuhnya.
   
Ekspresiku yang awalnya ceria saat melayani kiriman tiba-tiba langsung
berubah jadi muram. “Ini ada kiriman bunga untuk Anda.”
    Raka menerima bunga itu. “Dari siapa?”
    “Anda bisa membaca sendiri.”
    “Heh! Ini toko bunga mana, sih? Kenapa pelayanannya seperti ini?”
    Aku tersentak. Kenapa tiba-tiba dia marah? Padahal aku hanya menyuruhnya untuk membaca sendiri. Tidak ada salahnya, kan?
   
“Maaf, lagipula, saya hanya mengantarkan kiriman. Bunga itu bisa saja
surprise dari seseorang untuk Anda. Lebih baik Anda membaca sendiri.
Permisi…” Aku segera meninggalkan lelaki jutek itu. Samar-samar, aku
mendengar suara pintu ditutup dengan keras. Dengan iseng, aku menoleh ke
rumah itu. Dari jendela rumah, aku melihat Raka mengacak-acak rambutnya
dan… Astaga, bunga itu dilempar ke lantai! Ah, itu bukan urusanku. Aku
hanya mengantar bunga di sini. Aku pun segera menaiki sepedaku dan
meluncur ke toko.
♥♥♥
    “Apa?” aku menjatuhkan ponselku ke
lantai. Bagaimana tidak, aku baru saja ditelpon tetangga bahwa semua
tanaman hiasku rusak karena ada proyek perbaikan jalan di dekat rumahku.
Bagaimana ini? Berarti, aku hanya bisa menjual sisa-sisa bunga hari
ini. Apa mungkin uang itu cukup untuk kebutuhanku? Untuk makanku,
membayar kuliah, dan lain-lain. Aku pun kini hanya bisa terduduk lemas
di lantai sambil meratapi bunga-bunga yang terjajar indah di toko. Hanya
itu satu-satunya hiburanku.
    Setelah seharian bekerja, aku
segera kembali ke rumah malam ini. Aku melemparkan tubuhku ke kasur. Tak
terasa, air mataku menetes. Tidak, aku harus kuat. Jangan sampai aku
kalah dengan masalah. Bisa saja ada masalah besar lain yang siap
menunggu.
    Aku bergegas mengambil tisu di meja belajarku. Dan
aku melihat sesuatu yang sempat luput dari mataku. Itu adalah kaktus
kecilku. Aku segera meraihnya. Entah mengapa aku menjadi tenang setelah
melihat kaktus ini.
♥♥♥
    Aku membuka jendela pagi ini.
Aku membayangkan disambut oleh bunga-bunga yang indah di depan jendela.
Namun, harapan itu sirna setelah aku hanya melihat bunga-bunga yang
rusak dan bahkan sampai mengering. Pemandangan yang rutin kujumpai
setiap hari kini tinggal kenangan.
    Aku mengambil kuliah pagi.
Jadi, aku membuka toko di siang hari. Bunga-bunga yang kemarin terjual
tidak terlalu banyak. Namun, aku sudah cukup bersyukur. Tak lupa,
kuletakkan kaktus kesayanganku di jendela besar sehingga orang yang
berlalu lalang bisa melihatnya dengan jelas.
    Alhamdulillah,
10, 15 menit kemudian, para pembeli mulai berdatangan. Saat tengah
asyik-asyiknya melayani pembeli, tiba-tiba saja ada yang mendobrak pintu
tokoku. Aku pun segera menuju pintu toko dan…
    “Raka?” aku bingung. Kenapa dia ada di sini dan mendobrak pintu tokoku?
    Raka tidak menjawab. Dia malah berjalan menuju jendela besar dan mengambil kaktusku.
    “Kamu mencuri kaktusku, kan?” tanyanya dengan marah.
    “Mencuri kaktus? Aku sama sekali tidak mencurinya…”
    “Ini buktinya!”
   
Aku menelan ludah. Aku sama sekali tidak mencuri kaktusnya. Dan itu
adalah kaktus yang selama ini kurawat dengan sepenuh hati.
    “Aku sama sekali tidak mencuri kaktusmu. Kamu jangan memfitnah seperti itu…”
    “Sudah, jangan mengelak! Kaktus ini berharga banget. Aku tidak mau kehilangan kaktusku.”
    “Itu kaktusku…”
    “Alah! Saat mengantar bunga, pasti kamu mengambil kaktusku, kan?”
   
Aku menangis. Kaktus itu sangat berharga bagiku. Dan mengapa Raka
berani menuduhku seperti itu. Oke, kaktus kami memang mirip. Tapi, itu
benar-benar kaktusku. Aku tidak tahu bila aku kehilangan kaktus itu
dengan percuma.
    “Aku bawa pulang kaktus ini,” ujar Raka sambil melangkah pergi.
   
“Raka!” aku berteriak. Namun, itu semua percuma jika yang dihadapi
adalah seorang Raka. Dia tetap membawa kaktusku dan meluncur dengan
sepedanya.
    “Mbak, bunga ini harganya berapa, ya?”
    “Eh… Maaf…”
    Aku pun segera melayani pembeli. My dearest cactus, I lose you… I’ll miss you…
♥♥♥
   
Pagi ini, ada bapak-bapak yang mampir ke tokoku. Dia ingin membeli
kaktusku. Bahkan bapak itu mau membeli berapapun harganya. Sayangnya,
kaktusku tidak ada karena diambil Raka. Akhirnya, bapak itu pergi dengan
wajah kecewa.
    Aku menghela napas. Sayang sekali. Seandainya
kaktusku ada, pasti aku sudah mendapatkan uang banyak. Dan uang itu bisa
kugunakan untuk membeli bibit bunga juga memenuhi kebutuhanku.
   
Ah, sudahlah… Ini semua memang sudah takdir. Dan sekarang, aku harus
segera mengantar bunga. Aku pun mengayuh sepedaku. Dan akhirnya, aku
sampai di depan sebuah rumah. Sepertinya aku mengenal lingkungan di
sini, ya, ini adalah sebuah kompleks dimana aku pernah mengantarkan
bunga ke rumah… Ah, aku tidak mau mengingatnya lagi!
    Aku pun
segera memencet bel dan memberikan bunga kepada si pemilik rumah. Entah
mengapa, aku ingin sekali mengambil rute melewati rumah Raka. Bukan
apa-apa, aku ingin melihat kaktusku. Aku sudah kangen sekali.
   
Aku melihatnya di sana! Di meja dekat pohon mangga, kaktusku terlihat
begitu menawan. Rasanya, aku ingin mengambilnya. Namun, aku tidak mau
berurusan lagi dengan Raka. Setelah puas melihat kaktus kesayanganku,
aku segera kembali ke toko.
♥♥♥
    2 hari kemudian… Di toko yang sama…
   
“Hah?” Mataku terbelalak. Aku berdiri mematung di depan toko dengan
kaget. Yap! Aku melihat kaktusku tergeletak di meja dekat pintu. Aku pun
segera menuju meja tersebut sambil menutup mulut karena kaget.
   
“Kaktusku…” Aku meraihnya. Sambil tertawa sendiri, aku segera membuka
pintu toko dan masuk ke dalam. Namun, pertanyaannya, siapa yang menaruh
kaktusku di sini? Aku tidak percaya jika Raka mau mengembalikan
kaktusku. Namun, sudahlah. Yang penting, kaktusku sudah kembali.
    “Hah?” Aku melihat sebuah kertas kecil terselip di pot kaktusku. Aku pun segera membacanya.
    Kaktus ini kukembalikan. Ternyata, kaktusku ada di tempat lain.
   
Aku tertawa sendiri. Dalam keadaan seperti ini dia masih angkuh? Sudah
bersalah, dia enggan meminta maaf lagi. Dan kenapa dia tidak memberikan
langsung kepadaku? Kenapa harus seperti ini?
    Tiba-tiba, aku mendengar pintu terbuka. Aku pun segera menoleh. Tak kusangka Raka datang ke sini.
    “Heh, kamu kenapa ke sini?” tanyaku.
    “Minta maaf,” jawabnya pendek.
    “Sangat kebetulan. Berarti sekarang waktu yang tepat untuk memberi hukuman.”
    “Hukuman apa?”
   
Aku tersenyum. “Waktu kaktusku kamu ambil, ada orang yang mau membeli
kaktusku berapapun harganya. Dan karena aku tidak jadi mendapatkan uang 5
juta, maka kamu harus menebusnya.”
    Raka pun berkacak pinggang sambil berkata: “Silakan!”
    “Kamu harus bekerja di tokoku selama 2 minggu tanpa kubayar.”
    “Apa? Aku tidak mau! Enak saja!”
    “Jadi kamu tidak mau? Apa mau dilaporkan ke polisi?”
    “Eh, jangan, jangan…”
    “Ya sudah, turuti saja! Mulai sekarang…” Aku melemparkan bunga ke tubuh Raka yang langsung disambut bibir manyunnya.
   
Sambil merapikan bunga, aku menoleh ke belakang ke arah Raka.
Sepertinya dia sedang mengamati bunga-bungaku. Tak lama kemudian, ada
seorang gadis memakai seragam sekolah yang melihat bunga-bungaku. Dia
pun segera masuk ke dalam dan membeli bunga. Karena aku sedang sibuk,
maka Raka yang melayaninya.
    Namun, ada hal yang sangat
mencengangkan terjadi. Tiba-tiba saja, gadis itu berteriak: “Ayo ke
sini! Penjualnya ganteng banget, lho! Ayo beli bunga ke sini!”
   
Satu menit kemudian, teman-temannya langsung datang dan melihat-lihat
bungaku. Aku geli sendiri melihatnya. Namun, situasi ini cukup membuatku
senang.
    Lima belas menit kemudian, gerombolan itu tidak ada
lagi. Namun, beberapa perempuan datang ke tokoku dan membeli bunga.
Situasi seperti itu berlanjut sampai malam. Alhasil, tokoku untung
banyak.
    “Kamu tidak berterima kasih? Gara-gara aku, banyak cewek yang datang membeli bunga ke sini.”
    “Heh, ini semua kan karena kamu dihukum. Jadi, buat apa berterima kasih?”
    “Tapi, kalau nggak ada aku, kamu nggak akan bisa makan selama sebulan.”
    “Terserah kamu, deh. Ya sudah, sekarang kamu boleh pulang.”
    “Pulang? Dari tadi aku belum makan, kalau aku mati kelaparan bagaimana?”
    “Ya sudah, kita makan dulu di luar.”
    “Nah, gitu dong…”
   
Aku pun segera merapikan semua bunga dan tanaman yang ada di sini. Tak
lupa, aku mengambil kaktusku dan memasukkannya ke dalam tas.
    “Kenapa kaktus itu kamu bawa?” tanya Raka.
    “Karena kaktus ini sangat berharga. Kalau aku sedih, dan aku melihat kaktus ini, maka perasaan sedih itu hilang,” jawabku.
   
Raka mengernyitkan dahi. Mungkin saja aku ini sinting baginya. Dan
kamipun segera berjalan menuju angkringan untuk memesan soto mie.
   
“Pak, soto mie dan teh hangat 2!” teriakku pada si penjual. Si pemilik
angkringan pun mengangguk. Sambil menunggu pesanan datang, aku iseng
bertanya pada Raka:”
    “Sekarang, kaktusmu ada di mana?”
    Raka terlihat kaget dengan pertanyaanku. Dan bukannya menjawab, dia malah balas memberiku pertanyaan.
    “Kamu sayang dengan kaktus itu, kan?”
    “Iya, memang kenapa?”
    “Kalau kamu sayang, kenapa kaktus itu kamu jual?”
   
Aku tersenyum kecil. “Sebenarnya aku menjual kaktus ini hanya iseng,
tidak serius. Mana mungkin ada orang yang mau membeli kaktus kecil dan
biasa ini seharga 5 juta. Tidak ada, kan? Kalaupun ada, aku pasti sudah
sangat bersyukur sekali. Dan ternyata, ada bapak-bapak yang mau membeli
berapapun harganya. Sayangnya, kaktusnya tidak ada. ”
    “Kalau
kamu sayang dengan kaktus itu, dan kaktus itu sangat berharga, kenapa
kamu rela menjualnya? Walaupun hanya iseng, tetap saja aku nggak akan
rela kalau jadi kamu.”
    Aku terdiam. Apa yang dikatakan Raka
benar. Aku sangat tega sekali dengan kaktusku. Berani-beraninya aku
menjualnya, padahal, kaktus ini adalah temanku yang paling setia.
   
Dan diam-diam, aku mengagumi sosok Raka. Ternyata, dia bisa memberiku
pelajaran yang sangat berharga. Aku sangat terkesan. Apa aku mulai
menyukainya?
♥♥♥
    Dua minggu kemudian…
    Perasaan
sukaku pada Raka semakin hari semakin bertambah. Apalagi setelah
ditemani tingkah kocaknya 2 minggu ini. Tapi sayangnya, itu semua akan
berakhir di hari ini. Dan hari ini, aku melihat tingkah Raka yang
berbeda. Entah mengapa, dia terlihat bersemangat dalam bekerja. Selain
itu, dia juga sering bercanda dan tersenyum kepadaku. Apakah dia juga
mempunyai perasaan yang sama? Entahlah.
    “Raka, kenapa kamu kelihatan semangat hari ini?” tanyaku sambil menyemprot air ke tanaman hiasku.
    “Aku sedang bahagia saja,” jawab Raka sambil tersenyum. Uoh, manis sekali…
    “Apa karena ini hari terakhirmu bekerja di sini?”
    “Bukan itu. Aku senang, kok, bisa membantumu.”
   
Aku tersenyum sambil menunduk, takut jika Raka melihatnya. Akhirnya,
daripada aku senyam-senyum tidak jelas, aku pun duduk di kursi dan
mencatat penghasilan selama 2 minggu ini.
    “Wah, hasil penjualan meningkat tajam, Ka…” ujarku.
    “Karena ada aku, kan?” sahut Raka sambil menyenggol pundakku. Uh, aku dibuat salah tingkah olehnya.
    “Mungkin salah satunya karena itu,” jawabku. Raka pun tersenyum. Lalu, dia melanjutkan pekerjaannya, membersihkan jendela.
   
Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berwarna merah berhenti di depan tokoku.
Aku pun segera berdiri untuk menyambut calon pembeli itu. Sesosok
perempuan berpostur tinggi dan berkacamata hitam pun keluar dari mobil
dengan anggunnya.
    “Masuk…”  ucapku sambil membuka pintu.
   
“Terimakasih…” ujarnya sambil membuka kacamata dan ternyata… Bukankah
itu perempuan yang pernah mengirim bunga untuk Raka? Dia Rena…
    Dan yang membuatku lebih kaget lagi, Raka menyambut Rena dengan senyum lebarnya bak seorang kekasih.
   
“Carissa, ini Rena, dia calon tunanganku. Kamu tahu tidak? Hubungan
kami sempat renggang karena Rena akan bersekolah ke Australia. Aku tidak
terima akan hal itu. Kami sudah bersahabat sejak kecil dan kami sangat
dekat. Makanya, waktu Rena mengirim bunga sebagai tanda perpisahan, aku
sangat marah dan membanting bunga itu. Dan ternyata, Rena yang mengambil
kaktusku. Kakus itu pemberian Rena, dan Rena tidak mau kalau aku sedih
karena teringat Rena karena kaktus itu,” cerita Raka.
    Aku
yakin ceritanya belum selesai. Namun, itu cukup membuatku sakit hati.
Raka pun melanjutkan bicara lagi. “Lusa Rena akan ke Australia dan mulai
bersekolah. Dan orangtua kami memutuskan agar kami bertunangan besok.
Kamu tahu, kenapa karena kami balikan? Karena aku sadar bahwa semakin
aku membenci Rena, hatiku semakin sakit. Rena sangat berharga untukku…”
   
Srek… Rasanya hatiku dibelah oleh pedang milik Raka dengan pelumas
Rena. Aku menangis, namun dalam hati. Aku tidak menampakkannya di depan
Raka.
    “Ini undangan untuk kamu,” kata Raka sambil menyerahkan undangan kecil berwarna merah jambu.
    “Terimakasih,” jawabku sambil tersenyum terpaksa.
   
Setelah kejadian itu, aku melamun sampai aku tidak sadar bahwa Raka dan
Rena sudah pergi. Dan kini, hari menginjak malam. Aku pun segera
menutup toko dan kembali ke rumah.
♥♥♥
    Hari ini, Raka
dan Rena bertunangan. Aku tidak akan hadir di pertunangan mereka. Aku
takut merusak pertunangan mereka karena aku menangis sekeras-kerasnya.
Lebih baik aku menangis di kamar.
    Tiba-tiba, aku teringat
kaktusku. Siapa tahu kaktus itu bisa menghiburku. Aku pun mengambilnya
dari meja belajar. Namun, entah mengapa, rasa sedih itu tidak berkurang
sedikitpun. Apa kaktusku sudah tidak manjur? Biasanya, jika aku sedih,
kaktus ini bisa menghilangkan kesedihanku. Namun, kali ini tidak. Aku
tidak tahu kenapa. Bahkan, tangisanku semakin bertambah. Aku merasa duri
kaktus ini semakin menambah tusukan di hatiku.
    Dua minggu
sudah cukup untuk mengenal dan mencintai Raka. Namun, selama 2 minggu
itu, aku juga yakin bahwa akan sulit untuk melupakan kenangan bersama
Raka. Mungkin akan membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan selamanya…
Oh, my dearest cactus… Now I fall in love, truly fall in love… Love is hurt my heart…

Contoh cerpen tentang musik terindah

MUSIK TERINDAH
Bunyi
alunan gitar yang indah terdengar dari balik pintu ruang musik. Sangat
terlihat bahwa orang yang memainkannya mahir bermain gitar. Ya, di balik
ruangan itu, ada dua sahabat yang tengah bermain gitar secara duet
sambil melantunkan lagu.
♫♫♫
“Lana, pokoknya kita harus
memberikan yang terbaik untuk debut pertama kita tanggal 24 nanti.
Ingat, waktunya tinggal 2 minggu!” ujar Shilla bersemangat.
    “Iya, kita harus bersemangat!” sahut Lana.
    “Ya sudah, ayo kita mulai lagi dari awal.”
    “Oke…”
   
Mereka berdua pun kembali memainkan gitar sambil menyanyikan lagu
bertema persahabatan yang mereka ciptakan sendiri. Di tengah-tengah
lagu, pintu ruangan itu terbuka. Dan tampak sosok berkacamata mengumbar
senyum di hadapan mereka berdua.
    “Maaf mengganggu,” ujarnya sambil duduk di kursi.
    Entah mengapa, tiba-tiba saja Shilla berdiri dan meletakkan gitarnya. Dia pun segera menghampiri sosok berkacamata itu.
    “Heh Fani, kenapa kamu kesini?” tanya Shilla kesal.
    “Aku hanya ingin menonton kalian berlatih,” jawab Fani.
    “Kalau aku tidak suka bagaimana? Sejak pertama bertemu, aku sudah sangat benci dengan kamu!” bentak Shilla.
    “Ya sudah, kalau begitu, aku pergi saja…” Fani mengalah, dia segera keluar dari ruang music.
    Lana yang melihat kejadian tersebut segera menghampiri Shilla dan mengelus pundaknya.
    “Shilla, kamu jangan kasar dengan Fani…” ujar Lana lembut.
    “Habis dia menyebalkan, sih!” sahut Shilla.
♫♫♫
    “Shilla, aku ada kejutan buat kamu…” ujar Lana di sekolah.
    “Kejutan apa?” tanya Shilla penasaran.
    “Ada deh… Kalau aku kasih tau, bukan kejutan lagi namanya!”
    “Bener juga! Ya udah, mana kejutannya?”
    “Tada…”
Lana menyerahkan sebuah kotak kecil berbentuk hati pada Shilla. Shilla pun membukanya.
“Wah… Cantik sekali…” ujar Shilla kagum. Lana yang melihat hal tersebut hanya nynegir.
Yap,
Lana membeli 2 pasang kalung dengan liontin hati. Kalung tersebut
sangat cantik. Lana sengaja membelinya untuk aksesori saat debut nanti.
“Gimana, bagus kan?”
“Iya. Ini pasti untuk debut!”
“Tepat!”
“Kalau begitu, aku yang akan membelikan gaun di debut kita nanti. Pokoknya, kita harus tampil cantik di debut nanti. Setuju?”
“Setuju…”
Namun, tiba-tiba saja ekspresi Lana berubah menjadi muram. Shilla yang melihat hal tersebut merasa bingung.
“Lana, kenapa kamu jadi murung seperti itu?”
“Ngg… Nggak papa, kok. Aku cuman sedikit pusing saja.”
“Yah… Padahal, aku berniat mengajak kamu membeli gaun…”
“Ya sudah, nanti aku ikut. Aku nggak papa, kok. Sekarang udah mendingan…”
    Akhirnya, setelah 7 jam, pelajaran pun selesai. Shilla pun mengajak Lana ke mall dekat sekolah.
   
“Ya ampun… Baju-baju di sini bagus banget… Aku sampai bingung…” ujar
Shilla. Shilla pun menarik tangan Lana ke sebuah butik yang ada di dalam
mall. Kebetulan, di sana sedang ada diskon besar-besaran.
   
“Shilla, jangan mahal-mahal, ya… Gaun seperti itu kan, hanya bisa
digunakan saat acara formal, kalau untuk sehari-hari, kan gak bisa…”
   
“Iya… Nah, akhirnya ketemu juga!” Shilla pun memamerkan sebuah gaun
selutut berwarna merah muda. “Kayaknya, ukurannya pas deh untuk kita
berdua. Badan kita kan sama-sama langsing…”
    Lana tersenyum kecil. “Shil, bagaimana kalau gaun untukku agak besar sedikit?”
    “Agak besar?”
    “Iya… Kayak gini.” Lana mengambil sebuah gaun berwarna senada. Namun, ukurannya lebih besar.
    “Lana… Emangnya, kamu Fani yang gendut apa?”
    “Emmm… Aku merasa, akhir-akhir ini makanku banyak. Jadi, bisa saja badanku melar…”
    “Enggak tuh, badanmu tetap ideal, kok.”
    “Tapi, Shill…”
    “Ya sudah, aku terserah kamu saja. Yang penting, penampilan kita kompak.”
    “Makasih ya, Shill… Kamu memang pengertian.”
♫♫♫
    “Lana! Lana!”
   
Tiba-tiba saja, Lana pingsan saat sedang pelajaran olahraga. Seluruh
teman satu kelasnya pun bergegas membawa Lana ke UKS. Semuanya panik,
termasuk Shilla. Shilla pun menelpon orangtua Lana. Beberapa menit
kemudian, orangtua Lana datang ke sekolah dan berniat membawa Lana ke
rumah sakit.
    “Lana…” Mama Lana terlihat khawatir.
   
“Tante… Kenapa Lana harus dibawa ke rumah sakit? Kan bisa saja kalau
Lana hanya kecapekan. Memangnya Lana sakit apa?” tanya Shilla khawatir.
    “Lana memang sering kayak gini akhir-akhir ini. Kalau pulang latihan musik, dia sering capek.”
    “Tapi, memang Lana sakit apa?”
    “Sudah, kalau kamu mau ikut ke rumah sakit, ikut saja.”
    “Ya sudah, Tante.”
    Akhirnya, Shilla pun ikut ke rumah sakit menumpang mobil orangtua Lana. Sesampainya di sana, Lana segera dibawa ke UGD.
    “Lana…” Mama Lana menangis.
   
“Sudah… Lana pasti baik-baik saja. Lana kan, anak yang kuat… Lagipula,
selama ini, Lana sehat-sehat saja, kan?” hibur Shilla.
   
Tiba-tiba saja, ada pemandangan yang mengejutkan Shilla. “Mama!
Bagaimana keadaan Lana?” tanya Fani. Tiba-tiba, Fani datang ke rumah
sakit. Dan yang lebih mengagetkan, Fani menyebut Mama Lana dengan
sebutan Mama.
    “Fani…” Mama Lana pun memeluk Fani.
    “Ma, Lana kenapa?” tanya Fani sambil menangis. “Fani takut terjadi apa-apa dengan Lana…”
    “Sabar, sayang… Semoga Lana baik-baik saja…”
    Shilla yang melihat hal tersebut hanya bisa mematung. “Tante, sebenarnya Fani ini siapa? Anak angkat Tante?” tanya Shilla.
    “Dia anak kandung saya, kembarannya Lana…” jawab Mama Lana.
    “Hah? Apa? Kok beda dari Lana? Kenapa dia jelek?” tanya Shilla yang langsung menutup mulutnya.
   
Namun, Mama Lana dan Fani tidak menghiraukan. Mereka bergegas pergi ke
ruang dokter setelah dokter yang menangani keluar dari UGD.
   
Sementara itu, Shilla masih tidak percaya bahwa Fani adalah kembaran
Lana. Pantas saja selama ini Fani sering melihat mereka latihan.
Walaupun sering juga diusir Shilla.
    Selang beberapa menit
kemudian, orangtua Lana dan Fani keluar dari ruang dokter dengan wajah
sayu. Shilla pun segera menghampiri mereka.
    “Tante, Om,
sebenarnya Lana sakit apa?” tanya Shilla. Namun, mereka enggan menjawab
karena menangis. Shilla yang melihat hal itu hanya bisa menghentakkan
kakinya karena kesal. Namun, sekarang Shilla benar-benar khawatir.
Bagaimana kalau ternyata Lana sakit parah? Padahal Lana adalah rekan
duetnya saat debut nanti? Shilla yang membayangkan hal itu langsung
lemas.
♫♫♫
Keesokan harinya, Shilla berkunjung ke rumah sakit. Kali ini dengan kedua orangtuanya.
    “Ma, Pa. Shilla kebelakang dulu, ya?” ujar Shilla. Kedua orangtuanya pun mengangguk.
   
Sesampainya di toilet, dia melihat seorang perempuan sebayanya yang
sedang mencuci muka. Saat perempuan itu menoleh, Shilla sangat kaget.
    “Lana? Kenapa kamu ada di sini? Kamu sudah sembuh?” tanya Shilla.
    Perempuan itu hanya tersenyum. Sangat manis. Bahkan lebih manis dari Lana yang ia kenal selama ini.
    “Aku Fani, bukan Lana…” sahut Fani sambil memakai kacamatanya.
    Shilla tersentak kaget. Ternyata Fani sangat mirip dengan Lana, bahkan dia lebih cantik. Namun, Fani lebih berisi dari Lana.
    Setelah mencuci muka, Fani pun segera meninggalkan Shilla yang mematung di dekat wastafel.
   
“Ya ampun… Fani cantik sekali…” Shilla kagum, namun dia tak berani
menampakkannya di depan Fani. Sekarang Shilla sadar, yang membedakan
Fani dan Lana hanyalah kacamata.
    Siang itu, Lana keluar dari ruang rawatnya. Dengan menggunakan kursi roda, dia menemui Shilla di taman rumah sakit.
   
“Shilla, sekarang kamu sadar, kan? Bahwa kita tidak boleh menilai orang
hanya dari luarnya saja? Walaupun Fani culun, tapi hatinya baik.
Buktinya, dia mau menerimamu. Lagipula, Fani itu sangat cantik…”
   
“Iya, Lana. Aku khilaf. Aku memang salah, karena hanya menilai Fani
dari luarnya saja. Padahal sebenarnya, Fani juga cantik, sama seperti
kamu. Tapi, kenapa kamu tidak bilang dari awal kalau Fani itu
kembaranmu?”
    “Karena waktu itu kamu terlanjur benci dengan
Fani. Aku tidak enak kalau harus memberitahukannya kepadamu. Oh, ya!
Satu hal lagi yang harus kamu tahu, Fani itu sekolah di SMP nomor satu
di Jakarta. Dan aku hanya sekolah di SMP nomor dua di Jakarta bersama
kamu. Jadi, kalau kami tidak satu sekolah, itu karena Fani lebih
pintar.”
    Ya ampun. Aku semakin kagum dengan Fani. Ternyata dia
sangat pintar. “Oh, ya! Sebenarnya kamu sakit apa? Kenapa keluargamu
sampai khawatir seperti itu?”
    “Aku hanya kecapekan, kok. Ya sudah, aku balik ke kamar dulu, ya? Kata dokter, sekarang aku harus istirahat.”
    “Mau aku bantu?”
    “Tidak usah, makasih…” Lana pun menggerakkan kursi rodanya dan menuju kamarnya.
♫♫♫
Menjelang
konser, Lana masih harus dirawat di rumah sakit. Jadi, Shilla kerap
berlatih di rumah sakit bersama Lana. Dan kini, 1 hari menjelang konser,
kondisi Lana masih sama seperti kemarin.
    “Lana, kamu
semangat dong… Besok kita debut, kalau kamu belum sembuh, bagaimana
dengan debut kita?” rengek Shilla pada Lana sambil memegang tangannya.
Lana dengan bibir pucatnya hanya bisa tersenyum kecil.
    “Kenapa harus dengan aku? Kan dengan yang lain bisa?” ujar Lana.
    Shilla pun berdiri dan melepaskan tangannya. “Kamu gila, ya? Kita sudah latihan, dan mau diganti dengan siapa?”
    “Jangan marah dong…”
   
Tiba-tiba saja, Fani masuk ke dalam kamar dengan membawa bubur. “Lana,
bubur ini dimakan, ya?” ujar Fani yang disambut anggukan Lana. Fani pun
menyuapkan bubur ke mulut Lana. Tiba-tiba saja, Lana tersedak. Namun,
dari mulutnya, Lana mengeluarkan darah.
    “Lana, kamu kenapa? Aku panggilkan dokter, ya?” teriak Shilla dengan khawatir.
    “Tidak usah. Aku mau bicara dulu dengan kalian berdua,” sahut Lana.
    “Mau bicara apa?” tanya Shilla heran.
   
“Shila, umurku nggak lama lagi. Sejak kita latihan pertama kali
menjelang debut, aku divonis dokter hanya bertahan selama 2 minggu
karena penyakit leukemia yang kuderita 4 bulan yang lalu. Dan aku rasa,
sekarang sudah waktunya. Selama  2 minggu, aku berusaha untuk kuat agar
aku bisa debut, aku berharap untuk itu. Tapi, semakin dekat dengan
debut, kondisi kesehatanku melemah. Aku benar-benar sedih…” cerita Lana.
Fani hanya bisa menangis mendengar cerita Lana.
    Sementara
itu, Shilla menutupi mulutnya karena kaget. “Lana, kamu bicara apa?
Kenapa aku baru tahu sekarang? Kenapa kamu nggak ngasih tahu sejakawal?”
   
“Aku nggak mau nyusahin kamu. Dan aku benar-benar ingin debut. Jadi,
aku paksakan saja. Siapa tahu, vonis dokter salah,” sahut Lana sambil
menangis.
    “Lana… Aku nggak mau debut sendiri…” tangis Shilla sambil memeluk Lana.
    “Fani akan gantiin aku,” ujar Lana. Shilla pun berdiri dan menghadap Fani. Sementara itu, Lana melanjutkan perkataannya:
   
“Di rumah, aku sering melatih Fani. Dan semakin hari, perkembangannya
semakin baik. Jadi, aku rasa, Fani bisa gantiin aku. Aku rasa, sekarang
sudah waktunya. Shilla, maaf kalau ternyata waktuku tidak sampai untuk
debut besok. Fani, maaf kalau aku sering menyusahkan. Sekali lagi, aku
minta maaf,” kata Lana yang disambut isak tangis Shilla dan Fani.
   
Beberapa menit kemudian, Lana memegang dadanya dan mengeluh sesak
napas. Fani pun berteriak memanggil dokter dan orangtuanya. Sementara
itu, Shilla hanya bisa menangis di samping tempat tidur Lana.
   
Tak beberapa lama kemudian, dokter dan orangtua Lana datang. Dan saat
itulah, Lana meninggalkan keluarga, teman-teman, serta dunia ini. Kamar
rawat Lana pun dipenuhi isak tangis keluarga dan kerabat. Sekarang,
Shilla paham kenapa Lana memilih gaun dengan ukuran yang lebih besar,
ukuran Fani.
♫♫♫
Siang ini, Lana selesai dimakamkan. Fani
dan kedua orangtuanya masih berada di dekat pusara Lana. Begitu juga
Shilla. Shilla baru saja membaca diary Lana yang cukup membuatnya
menangis.
    “Fani, kita siap-siap yuk… Lana pasti sedih kalau
debut nanti tidak berhasil…” ujar Shilla sambil memegang pundak Fani.
Dengan mata yang masih berair, Fani pun mengangguk.
    Kini,
mereka berdua sudah sampai di tempat konser. Setelah beberapa jam
berlatih, Shilla dan Fani pun segera berdandan karena konsernya akan
segera dimulai. Dan hasilnya, keduanya sama-sama cantik dengan gaun
merah muda serta sepatu balet berwarna perak. Rambut panjang Shilla
terlihat menawan dengan gaya curly. Sementara itu, Fani melepas
kacamatnya dan mengikat rambut sebahunya ke kanan.
    “Hadirin…
Marilah kita sambut… Nayshilla Reina Amanda dan Fani Sabrina Aisya,
dalam debut mereka…” teriak sang pembawa acara yang disambut tepuk
tangan hadirin. Selanjutnya, Shilla dan Fani pun naik ke atas panggung
dengan gitar mereka dan duduk di kursi yang disediakan.
   
“Selamat malam hadirin… Perkenalkan, saya Nayshilla Reina Amanda dan ini
teman saya, Fani Sabrina Aisya. Sebelumnya, saya adalah pemenang Music
Contest tingkat dunia di Jerman bersama teman saya. Dan ini adalah debut
kami. Debut ini, akan kami persembahkan untuk teman saya, partner saya,
yang telah pergi mendahului kita semua, Lana Sabrina Aisya. Dan dia
adalah saudara kembar dari seseorang yang duduk bersama saya…” ujar
Shilla dengan mata berkaca-kaca.
    “Ya. Sebenarnya, Lana-lah
yang seharusnya duduk di sini. Namun, Allah punya rencana lain yang
lebih indah. Jadi, saya akan menggantikan Lana. Untuk saudaraku,
sahabatku, dan inspirasiku, ini untukmu…” sambung Fani yang terlihat
lebih tegar.
    Tak berapa lama kemudian, gitar mulai dipetik dan
mengalunlah music yang indah dari atas panggung. Mereka pun menyanyikan
lagu berjudul “Janjiku untuk Sahabatku” ciptaan Shilla dan Lana.

Hari ini…
Ku melihatmu begitu cerah…
Senyummu menyungging begitu indah…
Buatku semangat dan bergairah…

Hari ini…
Kita kobarkan janji…
Janji sehidup semati…
Untuk saling…menyayangi…

Kau sahabatku…
Yang paling setia…
Yang paling kucinta…
Selamanya…

Jika kita…
Berpisah suatu hari nanti…
Ku kan berjanji…
Untuk menjaga kenangan kita…
I promise…

Akhirnya,
lagu tersebut selesai. Penonton pun memberikan standing applause.
Itulah musik terindah, musik yang dimainkan dari hati, dan dinikmati
dengan hati pula.