Sejarah Pembacaan Teks Proklamasi oleh Bung Karno

Sejarah Perjalanan  Pembacaan Teks Proklamasi oleh Bung Karno | Pra pembacaan teks proklamasi ternyata ada pendekatan bung karno terhadap para ulama. Bung karno sebagai tokoh pemimpin yang memiliki kepribadian yang unik. Ditengah kesibukannya di bidang politik, menyempatkan pula untuk mendekati ulama tasawuf, hal ini dilakukan untuk menumbuhkan rasa tenang, yakin dan berani. Bahkan, kalau dengan ulama Mukasafah mendapatkan keterangan tentang kepastian datangnya hari kemenangan dan kemerdekaan.
Oleh karena itu sebelum proklamasi, menurut Dr. R. Soeharto dalam saksi sejarah, menyatakan bahwa Bung Karno datang ke Syekh Musa seorang Ulama Mukasafah yang telah berusia 80 tahun di Sukanegara Cianjur Selatan. Seorang Ulama yang dikenal oleh Bung Karno melalui petunju R.A.A Wiranatakoesoemoemah, Bupati Cianjur dan Bandung serta nantinya menjadi Menteri Dalam Negeri.
K.H. Abdoel Moekti pimpinan perserikatan Muhammadiyah Madiun. Dari K.H. Abdoel Moekti, Bung karno mendapatkan kepastian waktu yang baik untuk proklamasi pada 17 Agustus 1945, Jumat Legi, 9 Ramadhan 1364. Apabila tidak diproklamasikan pada tanggal tersebut hanya akan menemui hari yang demikian bahagia itu, 300 tahun yang akan datang.
Bung karno juga berupaya mendapat keterangan tentang kepastian datangnya hari kemerdekaan dan dukungan dari Ulama Besar dari Pesantren Tebuireng Jombang, Choedratoes Sjeich Rais Akbar K.H. Hasjim Asj’ari. Dari beliau diperoleh kepastian, tidak perlu takut tentang Proklamasi karena Choedrotoes Sjeich Rais Surabaya dan memberitahukan pula setuju kalau Bung Karno sebagai Presiden Republik Indonesia.
 

Sejarah Pembacaan Teks Proklamasi oleh Bung Karno

Bung Karno juga menugaskan Dr.R. Soeharto untuk menghadap ke Drs. Sosrokartono kakak R.A. Kartini, “Paranormal” yang tinggal di jalan Pungkur 19 Bandung. Dari Drs Sosrokartono diperoleh informasi tidak perlu lagi, Indonesia pasti merdeka. Walaupun prosesnya melalui banyak kesulitan. Drs. Sosrokartono menurut Ir. Haryoto Kunto dalam wajah Bandoeng Tempo Doeloe, disebut sebagai seorang yang weruh sakdurunge winarah – tahu sebelum diberitahu.
Panggilan Jenderal Terauchi ke Dalat
Sebelum menerima panggilan Jenderal Terauchi Ke Dalat Saigon, Dr. R. Soeharto juga menuturkan bahwa pada juli 1945, Bung karno bersama Bung Hatta dan Mr. Achmad Soebardjo, pergi ke singaraja Bali untuk mengadakan pertemuan dengan Laksamana Shibata dari Kaigun atau Angkatan laut jepang yang menguasai daerah Luar Jawa. Berkat kemahiran diplomasi bung karno, menjadikan laksamana Shibata sesudah Proklamasi justru memberikan bantuan senjata. Mengapa justru berpihak kepada Republik Indonesia?
Sebenarnya, berita kekalahan Balatentara Jepang di samudra pasifik dan di Asia tenggara telah diketahui oleh sementara pimpinan nasional. Jatuhnya Saipan, 15 Juni 1944, diikuti dengan tenggelamnya kapal tempur Yamat, 6 April 1945, di kepulauan Ryukyu dan jatuhnya Iwo Jima, 19 Februari 1945, yang berjarak 600 mil, Okinawa, 21 juni 1945, berjarak 700 mil dari Tokyo, menjadikan ibukota Tokyo terbuka untuk diserang dari pulau-pulau tersebut. Jenderal Terauchi sendiri di Asia Tenggara menghadapi posisi tersulit karena Rangoon jatuh ke tangan sekutu, mei 1945, berjarak hanya 300 mil dari Dalat.
Puncak waktu berakhirnya kekuasaan balatentara Jepang sudah dapat diperhitungkan. Dengan menyerahnya Jerman, 7 mei 1945, didahului dengan gerakan invasi Rusia yang sangat cepat memasuki Eropa maka Amerika Serikat mencoba mempercepat proses berakhirnya Perang Asia Timur Raya atau perang pasifik. Dua buah atom diledakkan atas kota Hiroshima, 6 Agustus 1945, disusul dengan Nagasaki, 9 Agustus 1945, segera menduduki Manchuria. Kekalahan balatentara jepang diseluruh fron dan tampak dua bom pemusnah Amerika Serikat diledakkan di kedua kota tersebut, menjadikan Kaisar Hirohito pada 14 agustus 1945 menyatakan menyerah kepada sekutu.
Sebelum terjadi penyerahan tersebut, Jenderal Terauchi di Dalat mengundang Bung Karno, Bung Hatta dan Dr. Radjiman Wedijodiningrat, pada 10 Agustus 1945. Menurut Dr. R. Soeharto, disini Bung Karno melaporkan susunan Dokuritsu Junbi Linkai – panitia persiapan kemerdekaan yang dibentuk pada tanggal 14 Agustus 1945.
Terdiri atas 12 wakil dari pulau jawa, 3 wakil Sumatra, 2 wakil sulawesi, 1 wakil kalimantan, 1 wakil dari Nusa Tenggara, 1 wakil dari maluku, 1 wakil dari golongan Cina. Jadi, tidak ada perwakilan ormas atau orpol. Melainkan perwakilan wilayah dan etnis Cina. Sama seperti yang dituturkan oleh Mr. Kasman Singodimedjo, dalam Hidup itu Berjuang 75 tahun Kasman Singodimedjo.
Dibawah kondisi kritis tadi, Mr. Teoekoed Muhammad Hasan dan Dr. Amir, 12 Agustus 1945, diberangkatkan oleh Balatentara Jepang ke Singapura. Dengan tujuan akan dipertemukan dengan Bung Karno, Bung hatta, Dr. Radjiman dari Dalat, sekaligus mengadakan pembicaraan dengan Ibrahim Yacoob dan Boerhanoeddin dari Kesatoean Rakjat Indonesia Semenandjong – K.R.I.S. Para pimpinan nasional di Singapura, 13 Agustus 1945, diterima oleh para Panglima Balatentara Jepang, Jenderal Itagaki.
Apa yang dibicarakan dengan Jendral Itagaki, Dr. R. Soeharto tidak menjelaskannya. Tetapi Joginder Singh Jessy 1961 dalam History of Malaya, menjelaskan bahwa Malaya atau Malaysia dan Singapura dalam pernyataan perkenan kemerdekaan dari Balatentara Jepang dimasukkan sebagai wilayah Indonesia. Untuk kepentingan penyatuan wilayah tersebut, Kesatoean Rakjat Indonesia Semenandjoeng akan mengirimkan delapan delegasinya ke Indonesia pada saat pengumuman perkenan kemerdekaan dari Balatentara Jepang, pada 14 Agustus 1945.
Paginya, terbang ke Jakarta, tiba menjelang Dhuhur, pada 14 Agustus 1945. Jadi, bertepatan dengan tanggal menyerahnya kaisar Hirohito kepada sekutu. Penyerahan ini menjadikan seluruh hasil pembicaraan dengan Jenderal Terauchi di Dalat dan Jenderal Itagaki di Singapura menjadi batal.
Dengan pengertian tanggal proklamasi 17 Agustus 1945 tidak lagi sebagaimana ditentukan oleh Jenderal Terauchi, 24 agustus 1945, dan makna kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah dari balatentara Jepang. Sedangkan Malaya atau malaysia, singapura, Borneo utara, Papua, Timur Portugis dan pulau sekitarnya, tidak menjadi wilayah Republik Indonesia sebagaimana rancangan Jenderal Itagaki. Wilayah Indonesia adalah bekas jajahan hindia Belanda.
Sebelum membicarakan masalah Proklamasi, dibawah ini penulis bicarakan terlebih dahulu masalah penculikan Ir. Soekarno bersama keluarga dan Muh. Hatta, 15 Agustus 1945 oleh pemuda-pemuda kiri dan tentara peta Soekarni, dibawah pimpinan Wikana.
Penculikan
Di jakarta, sejak adanya pendudukan balatentara Jepang timbul gerakan dibawah tanah anti jepang. George Mc Turnan Kahid dalam Nationalism and Revolution in indoneisa, menyebutkan M. Natsir dan Sjafroeddin Prawiranegara sebagai kelompok intelektual Islam tergolong pelaku gerakan bawah tanah anti jepang. Sedangkan Wikana dari golongan komunis anti jepang.
George Mc Turnan Kahin banyak menuliskan peran komunis daripada Islam pada masa menjelang Proklamasi sehingga dikoreksi kesalahan faktanya oleh Mr. Achmad Soebardjo Djojohadioerjo dalam Lahirnya Republik Indoensia; Suatu Tinjauan dan Kisah Pengalaman.
D.R. Soeharto menyatakan di Jakarta timbul beberapa kelompok pemuda anti Jepang. Ada yang bekerja untuk membantu penjajah Belanda dan ada yang bekerja untuk Sekutu. Adapula bekerja demi kepentingan Komunis Internasional. Terdapat pula pemuda komunis Nasionalis di bawah pimpinan Tan Malaka. Adapun yang terbanyak dari anti Jepang, bekerja untuk kepentingan nasional.
Sayangnya, Dr.R Soeharto tidak menjelaskan nama-namanya siapa yang bekerja dalam gerakan dibawah tanah, dan untuk siapa kerjanya. Mr. Kasman Singodimedjo, menyebutkan kelompok anti jepang dari tentara Peta dengan sebutan gerombolan Soekarni, dan dari pemuda komunis disebutnya gerombolan Wikana.

“Republik Indonesia yang baru berdiri, menghadapi pelaksanaan keputusan Perjanjian Posdam yang dibuat antara Amerika Serikat, Perancis, rusia dan Inggris antara lain berisi persetujuan bahwa negara penjajah yang bergabung dalam pakta pertahanan Sekutu diberi hak untuk menerima kembali menguasai negara jajahannya. Adapun yang tidak dibenarkan oleh perjanjian posdam bila mencari jajahan baru.
Akibat Uni Soviet Rusia ikut serta membuat perjanjian Posdam, dan PKI Sibar di bawah pimpinan Sardjono yang masih diAustralia dan sebagai anggota komunis Internasional – Komintern menginduk ke Rusia maka dampaknya Rusia dan PKI berdasarkan perjanjian Posdam tersebut menyetujui Kerajaan Protesta Belanda menjajah kembali Indonesia. Dengan demikian, PKI Sibar dibawah Sardjono sebagai anggota Komintern menolak Proklamasi 17 Agustus 1945 dan bekerjasama dengan kerajaan Protestan Belanda.”

Apakah karena pengaruh kondisi politik internasional, terjadinya penculikan Bung Karno dan Bung Hatta, bersama Ibu Fatmawati serta Guntur yang masih bayi, pada 15 agustus 1945 ke Rengasdengklok oleh Soekarni?. Penculikan yang dipimpin oleh wikana dan Chaeroel Saleh dilaksanakan oleh Tentara Peta yang dipimpin oleh Soekarni. Menurut Keterangan Bung Hatta selama ditawan di rumah seorang Cina bernama I Song, Rengasdengklok, tidak terjadi perundingan ataupun pembicaraan lain.
Apakah penculikan ini sebagai rekayasa Tan Malaka dari komunis Nasional mencoba mengambil kepemimpinan nasional Dwi Tunggal Soekarno Hatta? Sejarah membuktikan, pengguna sistem penculikan dalam memenangkan program politiknya adalalah pihak komunis. P.M. Soetan Sjahrir diculik oleh Tan Malaka dalam peristiwa Kudeta, 3 Juli 1946.
Selain fakta kudeta, 3 Juli 1946, menurut Dr.R. Soeharto, Tan Malaka, menuntut dirinya ditunjuk sebagai waris tunggal bila Bung Karno dan Bung Hatta dibunuh atau ditawan oleh Jepang atau Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta didesak agar memberikan Testamen Politik. Isinya penyerahan kekuasaan pada Tan Malaka. Namun, kedua Proklamator menolaknya.
Pada keesokan harinya, datanglah Mr. Achmad Soebardjo menjemput Bung Karno, Ibu Fatmawati, Guntur dan Bung Hatta di Rengasdengklok, untuk kembali ke jakarta. Menurut penuturan Bung Hatta, dalam perjalan Soekarni menampakkan rasa ketakutannya yang luar biasa. Petani kurus kaum marhaen yang sedang membakar sampah jerami, asap pembakaran jerami yang terlihat dari jauh, dikatakan revolusi rakyat sudah mulai meletus.
Demikian pula pada saat pembacaan Proklamasi, menurut Bung Hatta. Soekarni pinjam baju karena tidak berani mengenakan seragam Tentara pembela Tanah Air – Peta. Sebelumnya, di rumah Maeda, malam menjelang 17 Agustus 1945, ketika diberikan kesempatan untuk ikut serta menandatangani teks proklamasi menolaknya.
Peristiwa penculikan dan proklamasi, setelah Proklamasi 17 Agustus 1945 lewat, timbullah berbagai versi penulisan antara lain:

Versi Pertama, Oemar Bahsan 1955. Tjatatan Ringkas tentang Peta (“Pembela Tanah Air”) dan Peristiwa Rengas dengklok. Diterbitkan oleh NV Melati Bandung. Berisikan kesibukan pembagian tugas antar tentara pembela tanah air di Rengas dengklok. Penjagaan atas Bung karno, Bung Hatta dan Ibu Fatmawati serta Guntur diserahkan kepada Syodancho Affan. Pertentangan pandangan antar Oemar Bahsan dengan dr. Tjipto. Kedatangan Bung Karno dan Bung Hatta disambut teriakan prajuri dengan: Hidup Bung Karno dan Bung Hatta. Indonesia sudah Merdeka dan Jepang sudah mati.
Dan kedua pemimpin diculik bersama Ibu Fatmawati serta Guntur, ditempat di rumah I Song. Di buku ini tidak terdapat keterangan adanya perundingan tentang rencana Proklamasi antara Bung Karno dan Bung Hatta dengan Soekarni, Oemar Bahsan dan Dr. Tjipto. Hanya dijelaskan bahwa rencana pemberontakan besar terhadap Jepang di Jakarta akan dimulai dari Rengasdengklok.
Sementara isinya yang lain dikonter oleh Kasman Singodimedjo tahun 1982 dalam Hidup itu Berjuang 75 Kasman Singodimedjo. Menolak tuduhan Oemar Bahsan bahwa Kasman Singodimedjo sebagai Dandancho bersikap sehidup semati dengan Jepang, walaupun sudah mendengar jepang sudah menyerah kepada sekutu.
Padahal di Bandung, dihadapan 20 Daidancho, Mr. Kasman Singdimedjo mengajak untuk tidak menyerahkan senjata kepada Balatentara Jepang. Bagi yang akan menghalangi akan ditembak oleh Mr.Kasman Singodimedjo. Dalam perjalanannya dari Bandung ke Jakarta, singgah ke Purwakarta, menginstruksikan agar tidak menyerahkan senjata kepada balatentara jepang.
Versi kedua, Cindy Adams, 1965. Sukarno, An Autobiogra phy as Told To Cindy Adams, diterbitkan oleh The Bobbs Merril Co. Inc. Diterjemahkan dalam bahasa Jepang, Cina dan negara-negara Asia Afrika. Dalam bahasa Indonesia, diterbitkan oleh P.T Gunung Agung, 1966, menjadi bung Karno Penjambung Lidah Rakjat.
Dalam masalah penculikan, bung karno melontarkan kritik kerasnya kepada Soetan Sjahrir, selalu sembunyi-bunyi dan tidak mau terus terang dalam berjuang untuk Republik Indonesia. Sekaligus mengingatkan sikap Soekarni yang diperintah oleh Wikana, tidak memahami masalah Proklamasi dengan Indonesia yang terancam oleh Jepang dan Sekutu. Juga menuturkan di Rengasdengklok tidak terjadi pembicaraan tentang Proklamasi, ditempatkan rumah yang ada babinya. Bung Karno tidak mau didikte oleh pemuda agar Proklamasi ditengah malam.
Bung Karno menuturkan bahwa sejak dari Saigon, sudah merencanakan Proklamasi pada 17 Agustus 1945 karena diyakini angka 17 merupakan angka kermat. Al-Quran diturunkan pada tangga 17 Ramadhan. Shalat seharinya terdiri dari 17 Rakat, dan dipilihnya hari yang mulia, Jumat Legi.
Versi Ketiga, Adam Malik 1970 dalam bukunya: Riwayat Proklamasi Agustus 1945, diterbitkan Widjaya, Djakarta. Berisikan koreksi penuturan Bung Karno kepada Cindy Adams. Walaupun Adam Malik tidak ikut pada proses penculikan ke Rengasdengklok, tetapi dikisahkanlah sikap heroiknya Sukarni. Berjuang agar Proklamasi bukan hadiah dari jepang.
Selain itu, Adam Malik dari partai Murba, menuturkan bahwa Proklamasi Agustus 1945, merupakan kerja keras kaum Murba dibawah pimpinan Tan Malaka yang dikenal sebagai komunis nasional. Oleh karena itu, judul bukunya, Proklamasi tidak disebut dengan 17 Agustus 1945 melainkan hanya proklamasi Agustus 1945.
Versi Keempat, Mohammad Hatta, 1970. Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945. Penerbit Tintamas, Djakarta. Menuturkan bung karno menolak paksaan wikana agar malam itu segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dengan menyerahkan lehernya sambil menyatakan “ini leher saya, seretlah ke pojok itu dan sudahilah nyawa saya malam ini juga, jangan menunggu sampai besok”.
Bung Hata juga menuturkan tentang sikap ketakutan Soekarni yang berlebihan dalam perjalan ke Jakarta setelah datangnya Mr. Achmad Soebardjo. Oleh karena itu, penculikan Bung Karno, Bung Hatta, Fatmawati dan Guntur oleh Bung Hatta disebutnya sebagai “Fantasi Revolusi dan Rengasdengklok” dari kalangan pemuda yang dipimpin oleh Wikana.

Selain itu, bung Hatta juga menyatakan penculikan ke Rengasdengklok sebagai kebangkrutan politik yang dilaksanakan tanpa perhitungan dan berdasarkan sentimen belaka. Terutama sekali isi tulisan bung hatta, koreksi besar terhadap tulisan Adam Malik yang tidak ikut dalam peristiwa penculikan ke Rengasdengklok.
Versi kelima, Mohammad Roem, 1970. Pentjulikan, Proklamasi dan Penilaian Sedjarah. Penerbit Hudaya Djakarta dan Ramadhani Semarang, merupakan rangkuman tulisan Cindy Adams, Mohammad Hatta, dan Mr. Kasman Singodimedjo serta Mr. Achmad Soebadrjo memberikan koreksi terhadap tulisan George Mc Turnan Kahin tidak membenarkan tentang pengaruh Jepang Komunis terhadap pemuda Indonesia.
Selain itu, Mohammad Roem mengangkat dokumen No.11172I CRVO yang memuat perbedaan pendapat mengenai perizinan untuk membacakan Proklamasi 17 Agustus 1945 antara Laksamana Maeda dan Jenderal Nishimura.
Peristiwa rengasdengklok ternyata tanpa memerlukan desire test-tes kemauan, telah muncul sendiri dipermukaan kemauan kelompok kiri dari Tentara Pembela Tanah Air- Peta dari kelompok Soekarni yang terpengaruh Wikana dan Soetan Sjahrir. Mereka menjadi pengimbang kekuatan Ulama sebagai Daidancho Tentara Peta.
Sekaligus terbaca pula kekuatan pemuda aliran komunis nasional – Wikana dan sosialis – Soetan Sjahrir yang merencanakan pemberontakan dengan menggunakan Tentara Pembela Tanah Air – PETA dan HEIHO, tetapi tanpa perhitungan hanya berdasarkan sentimen belaka yang berseberangan dengan dasar perencanaan para Proklamator. Perbedaan cara dan kepentingan itu, pada saat itu hanya melahirkan ketegangan urat syaraf dan berdampak penundaan penyusunan teks proklamasi.
Problema penculikan berakhir karena kehadiran Mr. Achmad Soebardjo dari Kaigun – Angkatan Laut dan sebagai penasehat dari Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, menjemput Bung Karno, Bung Hatta, ibu Fatmawati dan Guntur kembali ke jakarta.
Perundingan Teks Proklamasi 17 Agustus 1945.
Kendatipun mendapat halangan Jenderal Nishimura dari angkatan darat Jepang, tetapi malam menjelang 17 Agustus 1945 mendapat bantuan dari Laksamana Maeda dari Angkatan Laut Jepang. Sebenarnya Laksamana Maeda pada masa berkuasanya tidak ikut menyebarkan Janji kemerdekaan di kelak kemudian hari dari perdana Menteri Koiso, 7 Spetember, karena wilayah kekauasaan kaigun diluar jawa dan sumatra.
Menurut Mr. Achmad Soebardjo, pukul 03.00 pagi waktu sahur ramadhan teks Proklamasi didiktekan oleh Bung Hatta dan ditulis dengan tangan Bung Karno, kalimat pertama diambil dari piagam jakarta 22 Juni 1945.
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Semula Bung karno merasa cukup dengan teks tersebut. Atas asal Bung hatta ditambahkan dengan kalimat kedua: Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan dan lain-lain diselengarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja. Setelah selesai, Teks Proklamasi ditawarkan kepada hadirin apakah setuju atau tidaknya. Ternyata secara serentak menyatakan setuju. Oleh karena itu, ditawarkan pula agar seluruhnya yang hadir ikut serta menandatanganinya, seperti Proklamasi Kemerdekaan Amerika Seikat. Juga penandatangan teks Proklamasi ditawarkan kepada enam pemuda.
Namun atas usul Sayuti Melik, agar teks proklamasi hanya ditanda tangani oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Usul ini diterima secara aklamasi. Kemudian teks proklamasi yang akan dibacakan, diketik terlebih dahulu oleh Syuti Melik dan selanjutnya ditandatangani oleh kedua Proklamator.
Setelah selesai pada jam 5 pagi, para peserta saksi penulisan Teks Proklamasi meninggalkan rumah Laksamana Maeda. Pada paginya, sekitar jam 7 sudah berkumpul rakyat yang bersenjata bambu runcing dan senjata tajam lainnya menunggu dibacakannya teks Proklamasi, didepan rumah kediaman bung karno jalan pengangsaan Timur 56 Jakarta.
Garnisun Tentara Pembela Tanah Air – Peta, sejumlah tujuh puluh Prajurit, dan lima perwira, siap menghadapi segala kemungkinan, kalau bala tentara jepang mencoba meninggalkannya. Oleh karena itu, ditutuplah jalan yang menuju Pegangsaan Timur 56.
Pembacaan dan Penyiaran Teks Proklamasi
Bung Karno menjelang pembacaan teks proklamasi kondisi kesehatan fisiknya terganggu. Baring di kamarnya, ditunggui oleh Ibu Fatmawati dan Dr. R. Soeharto. Pagi itu, Bung Hatta belum juga datang. Bung Karno didesak oleh para pemuda untuk segera membacakannya. Namun Bung Karno menolaknya karena sangat kenal dengan sikap Bung Hatta selalu tepat waktu. Ternyata Benar, Bung Hatta Hadir pukul 10 kurang 5 menit.
Tepat pada pukul 10:00 pagi, 17 Agustus 1945 dibacakanlah teks Proklamasi oleh Bung Karno, dihadapan para anggota panitia persiapan kemerdekaan Indonesia dan Rakyat, di jalan pengangsaan timur 56 Jakarta. Dengan upacara yang sangat sederhana tanpa ada protokoler.
Bendera merah putih berhasil penyambungannya dengan mesin jahit tangan oleh Ibu Fatmawati dan dikibarkan di tiang bambu oleh Chudancho Latief Hendraningrat yang berseragam Tentara Pembela tanah Air –Peta. Kemudian diiring lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Adapun Teks Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah sebagai berikut.

Tempat pembacaan teks proklamasi di Kediaman Soekarno di Jalan Pengangsaan 56
Setelah selesai dibacakan, Bung Karno menjelaskan ada seorang mahasiswa menggunakan roneo miliki Jepang, memperbanyak teks proklamasi. Kemudian disebarkan ke seluruh penjuru kota Jakarta. Terutama ditempelkan pada media transportasi umum kereta api, trem dan kendaraan lainnya disebarkanlah berita Proklamasi 17 Agustus 1945.

Demikianlah sejarah perjalanan pembacaan teks proklamasi. Semoga bermanfaat

Leave a Reply