Sejarah Perkembangan Teori Sel

Dari catatan sejarah, istilah sel pertama kali diperkenalkan oleh Robert Hooke (1635-1703), setelah ia mempelajari sayatan tipis gabus yang berasal dan kayu pohon oak. Melalui mikroskop, ia melihat suatu massa persegi menyerupai kamar sehingga kemudian ia menyebutnya dengan istilah sel (cellula = kamar). Penggunaan istilah sel tersebut berlangsung pada tahun 1666 (sebagian literatur lain mencatatnya tahun 1665), yaitu pada saat ia mempublikasikan bukunya yang berjudul Micrographia. Hingga saat ini istilah sel tersebut masih digunakan untuk memahami satuan-satuan bentuk dasar yang membangun makhluk hidup. Beberapa saintis turut memberikan konstribusi terhadap konsep sel. Anton van Leeuwenhoek (1632-1723) dikenal sebagai orang pertama yang membuat dan menggunakan mikroskop untuk mempelajari berbagal objek biologi. Melalui mikroskopnya, ia dapat melihat benda-benda mikroskopis yang bergerak di dalam air kolam. Selanjutnya, ia mempelajari darah, semen (cairan sperma), feses, dan email gigi. Leeuwenhoek merupakan orang pertama yang melihat sel-sel tunggal dan mengakuinya sebagai satuan-satuan kehidupan. Saat itu, ia tidak menyebutnya sebagai sel, melainkan sebagai hewan-hewan kecil yang ia lihat bergerak-gerak di dalam air.
Teori Sel
Sejarah perkembangan teori sel terus berlanjut segera setelah istilah sel dikenal, Felix Dujardin (1835) mengemukakan bahwa bagian penting dari sel adalah isi sel. Isi sel terdiri atas materi hidup yang kelak dikenal dengan istilah protoplasma yang berarti zat pertama dibentuk. Istilah protoplasma tersebut pertama kali diperkenalkan pada tahun 1839 oleh J. Purkinye yang bertujuan untuk membedakan antara bagian hidup dan dinding sel yang mati. Satu tipe protoplasma yang lebih kental dan lebih gelap dan keadaan sekitarnya disebut nukleus. Tipe protoplasma lainnya yang tampak lebih cair atau bersifat koloid disebut sitoplasma. Pada tahun 1838, Mathias Jakob Schleiden, seorang ahli botani menyatakan bahwa semua tumbuhan tersusun dan satuan-satuan kecil selular. Pada tahun 1839, pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Theodor Schwann, seorang ahli zoologi. Dalam hal ini, Schwann menyatakan bahwa semua hewan terdiri atas sel-sel. Schleiden dan Schwann, keduanya berkebangsaan Jerman, merumuskan suatu generalisasi yang kemudian berkembang menjadi teori sel. Mereka mengemukakan bahwa tubuh semua tumbuhan dan hewan tersusun dan sel-sel. Sel adalah unit struktural dan fungsional dan semua makhluk hidup. Selanjutnya, Rudolf Virchow (1858) melengkapi rumusan teori sel tersebut dengan temuannya bahwa setiap sel berasal dan sel-sel yang telah ada sebelumnya, omnis cellula e cellula.
Sejarah sel terus berkembang seiring dengan perkembangan mikroskop cahaya dan mikroskop elektron serta teknik pewarnaan yang lebih maju terungkap bahwa di dalam protoplasma terdapat beberapa struktur yang disebut organel. Pada umumnya, organel-organel tersebut bersifat peka terhadap reaksi kimia sehingga sangat esensial bagi kehidupan sel. Tugas utama suatu organel berhubungan dengan struktur organel tersebut. Masing-masing organel merupakan pelaksana sel dinamis yang dapat berubah bentuk dan ukuran untuk melakukan kerja, ada yang mampu bergerak mengelilingi sel, dan beberapa di antaranya mampu menduplikasi dirinya.
Sekian uraian tentang Sejarah Perkembangan Teori Sel, semoga bermanfaat. 
Referensi:
Sudjadi, Bagod. 2007. Biologi Sains dan Kehidupan. Surabaya: Yudhistira.

Leave a Reply