Categories
Uncategorized

Mengenal Unsur Karbon

(Zakapedia). Karbon adalah unsur kimia nonmetal yg disimbolkan dengan huruf C. Karbon berada di alam dalam bentuk karbon murni (seperti berlian dan grafit) dan karbon terikat secara kimia dalam senyawa alam yg dapat berbentuk kristal murni (seperti berlian dan grafit). Karbon umumnya berada dalam senyawa ikatan kimia dengan unsur lain yg juga dapat berbentuk senyawa organik (seperti batu bara dan petroleum) atau senyawa anorganik (seperti gamping dan bubuk pengembang kue). Terlepas dari persebarannya yg cukup luas, karbon hanya berjumlah 0,19 persen dari kerak bumi. Kedua bentuk dasar karbon tersebut mempunyai sifat-sifat yg sangat berbeda. Berlian terbentuk dari atom yg terikat dengan sangat kuat sehingga dikenal sebagai benda yg paling keras. Di pihak lain, karbon yg kedua, yaitu grafit, memiliki kekerasan lebih rendah daripada berlian. Grafit disusun oleh atom yg berbentuk heksagonal pada lembaran-lembaran yg sejajar. Setiap lembaran hanya terikat secara terpisah-pisah sehingga grafit terasa licin dan dapat digunakan sebagai pelumas atau alat tulis. Benda hitam yg terdapat di dalam pensil adalah grafit. 
Mengenal Unsur Karbon
Karbon
Perbedaan penting lain antara berlian dan karbon adalah daya hantar arus listrik yg dikandung. Berlian adalah benda nonkonduktor (tidak dapat menghantarkan arus listrik), sedangkan grafit adalah benda konduktor (dapat menghantarkan arus listrik). Akan tetapi, baik berlian maupun grafit mempunyai titik leleh dan titik didih yg tinggi. Sifat optik berlian sangat signifikan. Berlian mempunyai indeks refraksi paling tinggi jika dibandingkan dengan batu permata apa pun sehingga benda ini memantulkan cahaya ke mata dengan lebih menyilaukan daripada pantulan dari jenis batu permata yg lain. Berlian juga mempunyai daya dispersif yg luar biasa. Berlian dapat mengurai cahaya menjadi spektrum yg berwarna-warni.
Pada suhu rendah semua bentuk karbon lembek, tetapi pada suhu tinggi karbon akan bersenyawa dengan oksigen dalam proses oksidasi. Bentuk karbon apa pun ketika bersenyawa dengan oksigen yg banyak pada suhu tinggi akan membentuk karbon monoksida. Karbon monoksida terbentuk sebagai hasil pembakaran mesin yg menggunakan minyak petroleum dan ditemukan dalam jumlah yg besar pada buanganknalpot mesin otomotif. Apabila terkena panas di atmosfer bersama oksigen bebas, karbon dasar akan terkonversi menjadi dioksida. Karbon dioksida relatif tidak reaktif. Bahan yg terbakar pada suhu yg relatif rendah, seperti kayu dan kertas, tidak akan terbakar dalam karbon dioksida. Atas dasar ini, karbon dioksida digunakan sebagai bahan pemadam kebakaran.
Sekian uraian tentang Mengenal Unsur Karbon, semoga bermanfaat. 
Categories
Uncategorized

Proses Perkembangbiakan Virus (Replikasi)

(Zakapedia). Bagaimana proses perkembangbiakan virus? Virus bukanlah sel yang dapat berkembang biak sendiri. Cara berkembang biak virus berbeda dengan makhluk hidup lain. Virus tidak mampu memperbanyak diri di luar sel-sel hidup sehingga dikatakan bahwa virus bukanlah makhluk hidup yang dapat hidup mandiri. Virus selalu memanfaatkan sel-sel hidup sebagai inang untuk memperbanyak dirinya. Replikasi terjadi di dalam sel inang. Untuk dapat mereplikasi asam nukleat dan mensintesis protein selubungnya, virus bergantung pada sel-sel inang. Replikasi ini menyebabkan rusaknya sel inang. Setelah itu, virus akan keluar dari sel inang. Di luar sel inang, virus disebut sebagai partikel virus yang disebut virion.
Replikasi virus dalam sel inang merupakan peristiwa yang sangat kompleks, tahap demi tahap dari proses sintesis, mulai dari terinfeksinya sel inang sampai pembebasan partikel-partikel virus. Seperti virus lain, bakteriofag tidak dapat bergerak. Jika suspense bakteriofag bebas bercampur dengan suspensi bakteri, akan terjadi persinggungan kebetulan yang menyebabkan bakteriofag teradsorpsi pada permukaan bakteri. Selanjutnya, DNA bakteriofag terinjeksi ke dalam bakteri. Setelah beberapa waktu, terjadilah lisis sel-sel inang yang ditandai dengan pembebasan bakteriofag bentukan, kemudian baru ke dalam medium suspensi.
  • Tahap Adsorpsi: Pada tahap ini, ekor virus mulai menempel di dinding sel bakteri. Virus hanya menempel pada dinding sel yang mengandung protein khusus yang dapat ditempeli protein virus. Menempelnya virus pada dinding sel disebabkan oleh adanya reseptor pada ujung serabut ekor. Setelah menempel, virus akan mengeluarkan enzim lisozim yang dapat menghancurkan atau membuat lubang pada sel inang.
  • Tahap Injeksi: Proses injeksi DNA ke dalam sel inang ini terdiri atas penambatan lempeng ujung, kontraksi sarung, dan penusukan pasak berongga ke dalam sel bakteri. Pada peristiwa ini, asam nukleat masuk ke dalam sel, sedangkan selubung proteinnya tetap berada di luar sel bakteri. Jika sudah kosong, selubung protein ini akan terlepas dan tidak berguna lagi.
  • Tahap Sintesis (Pembentukan): Virus tidak dapat melakukan sintesis sendiri, tetapi virus akan melakukan sintesis dengan menggunakan sel inangnya. Setelah asam nukleat disuntikan ke dalam sel inang, segera menimbulkan perubahanperubahan besar pada metabolisme sel yang terinfeksi (sel inang atau bakteri). Enzim penghancur yang dihasilkan oleh virus akan menghancurkan DNA bakteri yang menyebabkan sintesis DNA bakteri terhenti. Posisi ini digantikan oleh DNA virus yang kemudian mengendalikan kehidupannya. Dengan fasilitas dari DNA bakteri yang sudah tidak berdaya, DNA virus akan mereplikasi diri berulang kali dengan jalan mengopi diri dalam jumlah yang sangat banyak. Sintesis DNA virus dan protein terbentuk atas kerugian sintesis bakteri yang telah rusak. DNA virus ini kemudian akan mengendalikan sintesis DNA dan protein yang akan dijadikan kapsid virus.
  • Tahap Perakitan: Pada tahap ini, kapsid virus yang masih terpisah-pisah antara kepala, ekor, dan serabut ekor akan mengalami proses perakitan menjadi kapsid yang utuh. Kemudian, kepala yang sudah selesaiterbentuk diisi dengan DNA virus. Proses ini dapat menghasilkan virus sejumlah 100-200 buah.
  • Proses Perkembangbiakan Virus
    Proses Perkembangbiakan Virus
  • Tahap Litik: Dinding sel bakteri yang sudah dilunakkan olen enzim lisozim akan pecah dan diikuti oleh pembebasan virus-virus baru yang siap untuk mencari sel-sel inang yang baru. Pemecahan sel-sel bakteri secara eksplosif dapat diamati dengan mikroskop lapangan gelap. Jangka waktu yang dilewati lima tahap ini dan jumlah virus yang dibebaskan sangat bervariasi, tergantung dari jenis virus, bakteri, dan kondisi lingkungan.
Virus lambda dapat melakukan siklus litik, tetapi kadang-kadang juga melakukan siklus lisogenik. Pada siklus lisogenik, tahap yang dilalui lebih banyak daripada siklus litik. Tahap adsorpsi dan tahap injeksi sama dengan siklus litik. Akan tetapi, sebelum tahap sistesis, terlebih dahulu virus melewati tahap penggabungan dan tahap pembelahan. Kemudian, dilanjutkan dengan tahap perakitan dan tahap litik.
  • Tahap Adsorpsi dan Tahap Injeksi: Tahap adsorpsi dan tahap injeksi pada siklus lisogenik sama seperti tahap adsorpsi dan tahap injeksi siklus litik.
  • Tahap Penggabungan: Tahap ini adalah tahap ketika DNA virus masuk ke dalam tubuh bakteri dan terjadinya penggabungan antara DNA bakteri dan DNA virus. Proses ini terjadi ketika DNA yang berbentuk kalung tak berujung pangkal terputus dan DNA virus menyisip di antara DNA bakteri yang terputus tadi. Kemudian, terbentuklah rangkaian DNA yang utuh yang telah terinfeksi atau tersisipi DNA virus.
  • Tahap Pembelahan: DNA virus telah tersambung dengan DNA bakteri. DNA virus tidak dapat bergerak atau disebut sebagai profag. Karena bergabung dengan DNA bakteri, ketika DNA bakteri melakukan replikasi selnya secara langsung, profag juga melakukan replikasi. Demikian juga ketika sel bakteri mengalami pembelahan, secara langsung dua anak sel bakteri yang mengandung profag tersebut juga ikut mengalami pembelahan. Dengan kata lain, jumlah profag sama dengan jumlah sel bakteri inangnya.
  • Tahap Sintesis: Pada kondisi lingkungan tertentu, profag menjadi aktif. Profag dapat saja memisahkan diri dengan DNA bakteri dan merusak DNA bakteri. Kemudian menggantikan peran DNA bakteri dengan DNA virus untuk sistesis protein yang berfungsi sebagai kapsid bagi virus-virus baru dan replikasi DNA.
  • Tahap Perakitan: Pada tahap ini, terjadi perakitan kapsid-kapsid virus yang utuh sebagai selubung virus. Setelah kapsid virus utuh, diisi dengan DNA hasil replikasi, terjadilah virus-virus baru.
  • Tahap Litik: Tahap ini sama dengan tahap litik pada siklus litik saat dinding bakteri akan pecah dan virus baru berhamburan keluar. Virus baru iniselanjutnya akan menyerang bakteri yang lain. Begitu seterusnya, virus akan mengalami siklus litik atau lisogenik. 

Berdasarkan asam intinya, replikasi virus dapat dibedakan menjadi virus yang berasam inti DNA dan virus yang berasam inti RNA.

  • Virus dengan Asam Inti DNA: Virus ini menginfeksi sel inang dan memperbanyak diri menjadi beberapa DNA. Beberapa DNA virus mengalami transkripsi menjadi mRNA penghasil selubung protein virus. mRNA menghasilkan enzim yang dapat menghancurkan dinding sel inang. Hancurnya sel inang menjadikan virus-virus baru berhamburan keluar dan virus-virus baru ini siap menginfeksi sel-sel inang lain. Contoh virus berasam inti DNA adalah virus cacar, virus herpes, dan bakteriofag.
  • Virus dengan Asam Inti RNA: Contohnya adalah virus AIDS. RNA virus AIDS menginfeksi sel inang, lalu melakukan penerjemahan balik membentuk RNA-DNA baru dan membentuk DNA virus. Selanjutnya, DNA virus masuk ke dalam inti sel inang yang menyebabkan DNA inang mengandung DNA virus. DNA virus membentuk mRNA dari inti. RNA virus membentuk protein virus di dalam sitoplasma sel inang. RNA virus dan protein virus akhirnya bergabung membentuk HIV.
Sekian uraian tentang Proses Perkembangbiakan Virus (Replikasi), semoga bermanfaat. 
Categories
Uncategorized

Pemuaian Gas: Hukum Boyle, Gay Lussac

Pemuaian Gas: Hukum Boyle, Gay Lussac,
dan gabungan keduanya (Boyle-Gay Lussac) adalah tiga hukum dasar yang
berbicara tentang pemuaian gas. Zat yang berbentuk gas juga akan
mengalami pemuaian jika dipanaskan. Gas merupakan bentuk zat yang
memiliki sifat ikatan antarpartikelnya sangat lemah. Sifat gas sangat
fleksibel dalam menempati ruang dan selalu membentuk ruang seperti yang
ditempatinya. Dalam hal ini pemuaian gas hanya dipengaruhi oleh
koefisien muai ruang. Pemuaian pada gas juga dipengaruhi oleh
tekanan dan volume. Jika gas dipanasi, maka besaran suhu, volume, dan
tekanan tersebut akan memengaruhi keadaan gas. Keadaan gas ini
dipelajari dalam Hukum Boyle, Hukum Gay Lussac, dan Hukum Boyle-Gay Lussac. 
Pemuaian Gas: Hukum Boyle, Gay Lussac
Pemuaian Gas

Hukum Boyle

Hukum Boyle ini terjadi pada proses isotermis, yaitu proses yang terjadi pada suhu gas selalu tetap (T = tetap). Pada keadaan ini dirumuskan:

P1V1 = P2V2

Keterangan:

  • P1 : tekanan mula-mula
  • P2 : tekanan akhir
  • V1 : volume mula-mula
  • V2 : volume akhir

Hukum Gay Lussac

Pada keadaan isokhoris, yaitu proses pada volume gas tetap (V = tetap), persamaan yang berlaku adalah: 

P1/T1 = P2/T2

Keterangan:

  • T1: suhu mutlak mula-mula
  • T2: suhu mutlak akhir
Pada keadaan isobaris, yaitu proses pada tekanan tetap (P = tetap). Persamaan yang berlaku adalah:
V1/T1 = V2/T2

Hukum Boyle-Gay Lussac

Hukum Boyle-Gay Lussac ini berlaku jika tekanan, volume, dan suhu berubah. Persamaan yang berlaku adalah:

P1.V1/T1 = P2.V2/T2
Sekian materi fisika tentang Pemuaian Gas: Hukum Boyle dan Gay Lussac, semoga bermanfaat. 
Categories
Uncategorized

Fluida Bergerak: Persamaan Kontinuitas

Pada saat Anda akan menyemprotkan
air menggunakan selang, Anda akan melihat sebuah fenomena fisik yang
aneh tapi nyata. Cobalah untuk menekan lubang selang, air yang keluar
akan dipancarkan cukup jauh. Sebaliknya ketika selang dikembalikan ke
normal maka pancaran air akan berkurang. Fenomena fisik itu dapat
dijelaskan dengan mempelajari pembahasan berikut tentang persamaan
kontinuitas.
aliran fluida dalam tabung
Gambar: Aliran fluida dalam tabung
Persamaan kontinuitas
adalah persamaan yang menghubungkan kecepatan fluida dalam dari satu
tempat ke tempat lain. Sebelum menurunkan hubungan, Anda harus memahami
beberapa istilah dalam aliran fluida. Garis aliran (stream line)
diartikan sebagai jalur aliran fluida ideal (aliran lunak). Garis
singgung di suatu titik pada garis memberikan kita arah kecepatan aliran
fluida. Garis alir tidak berpotongan satu sama lain. Tabung air adalah
kumpulan dari garis-garis aliran. 
Dalam
aliran tabung, fluida masuk dan keluar melalui mulut tabung. Untuk itu,
semua fluida tidak boleh dimasukkan dari sisi tabung karena dapat
menyebabkan persimpangan/perpotongan garis-garis aliran. Hal ini akan
menyebabkan aliran tidak tunak lagi.

Persamaan
di atas adalah persamaan kontinuitas. Karena sifat fluida yang
inkonpresibel atau massa jenisnya tetap, maka persamaa itu menjadi:
A1.v1 = A2.v2 
Menurut
persamaan kontinuitas, perkalian antara luas penampang dan kecepatan
fluida pada setiap titik sepanjang tabung aliran adalah konstan.
Persamaan di atas menunjukkan bahwa kecepatan fluida berkurang ketika
melalui pipa lebar dan bertambah ketika melewati pipa sempit. Karena
itulah ketika kita sedang berperahu disebuah aliran sungai, perahu akan
melaju semakin cepat ketika celah hujan semakin menyempit.
Sekian tulisan tentang Fluida Bergerak: Persamaan Kontinuitas, semoga bermanfaat.
Categories
Uncategorized

Rangkaian Seri dan Rangkaian Paralel

Apa itu rangkaian seri dan rangkaian paralel? Rangkaian seri adalah
rangkaian dari beberapa beban atau hambatan yang disusun secara urut
dalam satu rangkaian. Misalnya, tiga buah resistor (hambatan) disusun
dalam rangkaian secara seri, kedua ujungnya dihubungkan terhadap sumber
tegangan melalui sebuah amperemeter, dan di antara ketiga resistor
tersebut masing-masing dihubungkan dengan voltmeter. Pada rangkaian
tersebut sesuai dengan pembacaan yang ditunjukkan oleh arnperemeter dan
voltmeter dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Beda potensial antara kedua ujungnya adalah: V = V1 + V2 + V3……+ Vn
  • Kuat arus yang melalui masing-masing resistor besarnya adalah sama, yaitu: I = I1 = I2 = I3….. = In
  • Besarnya hambatan total adalah: Rp = R1 + R2 + R3…..+ Rn
Dengan V menyatakan beda
potensial dalarn satuan volt, I menyatakan kuat arus dalarn satuan
ampere, dan R menyatakan hambatan dalam satuan ohm. 
Rangkaian paralel adalah
rangkaian beberapa beban yang disusun secara berjajar sehingga
membentuk percabangan pada rangkaian. Pada rangkaian parallel berlaku:

  • Beda potensial antara kedua ujungnya adalah: V = V1 = V2 = V3….. = Vn
  • Kuat arus yang melalui masing-masing: I = I1 + I2 + I3 + …. + In
  • Resistor besarnya adalah: 1/Rp = 1/R1 + 1/R2 + 1/R3 + …. + 1/Rn

Sekian materi fisika tentang Rangkaian Seri dan Rangkaian Paralel, semoga bermanfaat. 

Categories
Uncategorized

Penerapan Hukum I Newton pada Sabuk Pengaman

Penerapan Hukum I Newton pada Sabuk Pengaman – Apakah Anda selalu menggunakan
sabuk pengaman pada saat mengendarai mobil? Atau, pernahkah Anda melihat
atau mendengar anjuran menggunakan sabuk pengaman pada saat mengendarai
mobil? Mengapa orang yang mengendarai mobil perlu menggunakan sabuk
pengaman? Melalui berbagai eksperimen, para ilmuwan mengetahui bahwa
luka parah dan kematian pada penumpang akibat kecelakaan mobil dapat
dicegah. Caranya adalah dengan menggunakan sabuk pengaman yang menyilang
pada bahu, dada, dan pangkuan penumpang. Sabuk pengaman adalah salah satu Penerapan Hukum I Newton.
Penerapan Hukum I Newton pada Sabuk Pengaman

Apa
yang terjadi dalam sebuah tabrakan? Apabila sebuah mobil yang melaju
dengan kecepatan sekitar 50 km/jam menabrak benda besar yang padat,
mobil tersebut akan ringsek dan berhenti mendadak dalam waktu sekitar
0,1 s. Karena kelembamannya, penumpang yang tidak memakai sabuk pengaman
akan terus bergerak maju dengan kecepatan 50 km/jam, sama dengan
kecepatan mobil tersebut. Kecepatan ini kurang lebih sama dengan
kecepatan penumpang itu apabila jatuh dari lantai tiga sebuah gedung!
Dalam waktu sekitar 0,02 s setelah mobil berhenti, penumpang itu akan
membentur dashboard, kemudi, atau bagian belakang kursi di depannya.
Penumpang
yang mengenakan sabuk pengaman akan tetap tertahan di kursi. Penumpang
itu akan melambat seiring dengan melambatnya mobil. Gaya yang diperlukan
untuk mem-perlambat seseorang dari 50 km/jam menjadi nol dalam waktu
0,1 s sama dengan 14 kali beratnya. Sabuk pengaman itu “memberi” sedikit
waktu tambahan untuk me-lambat bagi penumpang itu, pada saat sabuk
sedikit meregang menahan orang tersebut. Disamping itu, sabuk tersebut
juga menyebarkan gaya, sehingga gaya itu tidak memusat hanya pada satu
bagian tubuh orang tersebut.

Sekian Penerapan Hukum I Newton pada Sabuk Pengaman, semoga bermanfaat.

Categories
Uncategorized

Jenis Ketidakpastian dalam Pengukuran

Jenis Ketidakpastian dalam Pengukuran – Mengukur selalu menimbulkan
ketidakpastian. Artinya, tidak ada jaminan bahwa pengukuran ulang akan
memberikan hasil yang tepat sama. Ada tiga sumber utama yang menimbulkan
ketidakpastian pengukuran, yaitu:

1. Ketidakpastian Sistematik

Ketidakpastian
sistematik bersumber dari alat ukur yang digunakan atau kondisi yang
menyertai saat pengukuran. Bila sumber ketidakpastian adalah alat ukur,
maka setiap alat ukur tersebut digunakan akan memproduksi ketidakpastian
yang sama. Yang termasuk ketidakpastian sistematik antara lain:
  • Ketidakpastian Alat: Ketidakpastian ini muncul akibat kalibrasi
    skala penunjukkan angka pada alat tidak tepat, sehingga pembacaan skala
    menjadi tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Misalnya, kuat arus listrik
    yang melewati suatu beban sebenarnya 1,0 A, tetapi bila diukur
    menggunakan suatu Ampermeter tertentu selalu terbaca 1,2 A. Karena
    selalu ada penyimpangan yang sama, maka dikatakan bahwa Ampermeter itu
    memberikan ketidakpastian sistematik sebesar 0,2 A.Untuk mengatasi
    ketidakpastian tersebut, alat harus di kalibrasi setiap akan
    dipergunakan.
  • Kesalahan Nol: Ketidaktepatan penunjukan alat pada skala nol juga
    melahirkan ketidakpastian sistematik. Hal ini sering terjadi, tetapi
    juga sering terabaikan. Sebagian besar alat umumnya sudah dilengkapi
    dengan sekrup pengatur/pengenol. Bila sudah diatur maksimal tetap tidak
    tepat pada skala nol, maka untuk mengatasinya harus diperhitungkan
    selisih kesalahan tersebut setiap kali melakukan pembacaan skala.
  • Waktu Respon Yang Tidak Tepat: Ketidakpastian pengukuran ini muncul
    akibat dari waktu pengukuran (pengambilan data) tidak bersamaan dengan
    saat munculnya data yang seharusnya diukur, sehingga data yang diperoleh
    bukan data yang sebenarnya. Misalnya, kita ingin mengukur periode getar
    suatu beban yang digantungkan pada pegas dengan menggunakan stopwatch.
    Selang waktu yang diukur sering tidak tepat karena pengukur terlalu
    cepat atau terlambat menekan tombol stopwatch saat kejadian berlangsung.
  • Kondisi Yang Tidak Sesuai: Ketidakpastian pengukuran ini muncul
    karena kondisi alat ukur dipengaruhi oleh kejadian yang hendak diukur.
    Misalkan mengukur panjang kawat baja pada suhu tinggi menggunakan mistar
    logam. Hasil yang diperoleh tentu bukan nilai yang sebenarnya karena
    panas mempengaruhi objek yang diukur maupun alat pengukurnya.

2. Ketidakpastian Random (Acak)

Ketidakpastian
random umumnya bersumber dari gejala yang tidak mungkin dikendalikan
secara pasti atau tidak dapat diatasi secara tuntas. Gejala tersebut
umumnya merupakan perubahan yang sangat cepat dan acak hingga pengaturan
atau pengontrolannya di luar kemampuan kita.Misalnya:
  • Fluktuasi pada besaran listrik. Tegangan listrik selalu mengalami
    fluktuasi (perubahan terus menerus secara cepat dan acak). Akibatnya
    kalau kita ukur, nilainya juga berfluktuasi. Demikian pula saat kita
    mengukur kuat arus listrik.
  • Getaran landasan. Alat yang sangat peka (misalnya seismograf) akan
    melahirkan ketidakpastian karena gangguan getaran landasannya.
  • Radiasi latar belakang. Radiasi kosmos dari angkasa dapat
    mempengaruhi hasil pengukuran alat pencacah, sehingga melahirkan
    ketidakpastian random.
  • Gerak acak molekul udara. Molekul udara selalu bergerak secara acak
    (gerak Brown), sehingga berpeluang mengganggu alat ukur yang halus,
    misalnya mikro-galvanometer dan melahirkan ketidakpastian pengukuran.

3. Ketidakpastian Pengamatan

Ketidakpastian
pengamatan merupakan ketidakpastian pengukuran yang bersumber dari
kekurangterampilan manusia saat melakukan kegiatan pengukuran. Misalnya:
metode pembacaan skala tidak tegak lurus (paralaks), salah dalam
membaca skala, dan pengaturan atau pengesetan alat ukur yang kurang
tepat.Seiring kemajuan teknologi, alat ukur dirancang semakin canggih
dan kompleks, sehingga banyak hal yang harus diatur sebelum alat
tersebut digunakan. Bila yang mengoperasikan tidak terampil, semakin
banyak yang harus diatur semakin besar kemungkinan untuk melakukan
kesalahan sehingga memproduksi ketidakpastian yang besar pula.

Besarnya
ketidakpastian berpotensi menghasilkan produk yang tidak berkualitas,
sehingga harus selalu diusahakan untuk memperkecil nilainya, di
antaranya dengan kalibrasi, menghindari gangguan luar, dan hati-hati
dalam melakukan pengukuran. Setiap pengukuran berpotensi menimbulkan
ketidakpastian. Ketidakpastian yang besar menggambarkan kalau pengukuran
itu tidak baik. Usahakan untuk mengukur sedemikian sehingga
ketidakpastian bisa ditekan sekecil-kecilnya.
Sekian uraian tentang Jenis Ketidakpastian dalam Pengukuran, semoga bermanfaat.